![]() |
| sanggar Karawitan Manunggaling Rasa (Foto ist.) |
Damariotimes. Di
sebuah sudut Jalan Suko, Kelurahan Cepokomulyo, Kepanjen tepat di depan
hiruk-pikuk Pasar Sayur terdengar alunan harmonis gamelan yang menenangkan
jiwa. Di sanalah Sanggar Karawitan Manunggaling Rasa berdiri, sebuah
oase bagi mereka yang mencari kebahagiaan batin melalui seni.
Didirikan
oleh Ibu Hj. Tutik Widyawati, seorang pensiunan guru, sanggar ini menjadi
rumah kedua bagi para lansia purna tugas. Bagi mereka, menabuh gamelan bukan
sekadar hobi, melainkan cara untuk tetap berdaya dan bahagia di masa tua. Di
bawah bimbingan tangan dingin Bapak Samadiyanto, maestro karawitan yang
pernah membesarkan Sanggar Senaputra di era kejayaan Cak Sumantri tahun 90-an,
kualitas musikalitas di sini tidak perlu diragukan lagi.
Nama
"Manunggaling Rasa" bukanlah sekadar hiasan. Sanggar ini menjadi
simbol persatuan jiwa para anggotanya dalam melestarikan budaya luhur (uri-uri
budaya). Kekompakan mereka teruji nyata, baik dalam pementasan komersial
maupun bakti sosial. Setiap momen penting, mulai dari perayaan tahun baru
hingga acara halalbihalal, selalu dipersiapkan dengan gotong royong dan
kesadaran penuh.
Tak
hanya bagi kaum sepuh, tempat ini juga menjadi titik kumpul para tokoh besar
seni di Malang. Nama-nama seperti Ki Dalang Marsudi, Ki Yaji Lebdo
Carita, hingga Ki King Sus seorang guru sekaligus MC kondang Malang
Raya kerap hadir mewarnai aktivitas sanggar.
Momentum
hangat terekam pada 11 Januari 2026. Suasana syukuran dan doa bersama
pecah menjadi kegembiraan saat latihan rutin digelar. Menariknya, Pak Samad dan
Cak Marsam Hidayat turut memboyong talenta-talenta muda berbakat, membuktikan
bahwa estafet budaya sedang terjadi di sini.
Sanggar
Manunggaling Rasa membuka pintu lebar-lebar bagi siapa saja, baik tua maupun
muda, yang ingin menyelami indahnya karawitan. Berikut adalah jadwal latihan
bagi Anda yang ingin bergabung:
Jadwal Kegiatan Sanggar:
|
No |
Hari |
Jam |
Kelompok/Kegiatan |
Pembina |
|
1 |
Sabtu |
09.00 - 11.00 |
Karawitan Puri Laras |
Pak Samad |
|
2 |
Minggu |
13.00 - 16.00 |
Karawitan Manunggaling Rasa |
Pak Samad |
|
3 |
Rabu |
(Fleksibel) |
Karawitan & Pedalangan Ngesti
Raras |
Pak Samad |

Nama "manunggaling rasa" bukan sekedar hiasan
BalasHapusArtikel ini sangat menarik
Artikel ini sangat inspiratif — menampilkan bagaimana Sanggar Karawitan Manunggaling Rasa yang didirikan oleh Ibu Tutik Widyawati menjadi ruang yang penuh makna bagi para pensiunan dan masyarakat untuk tetap aktif serta melestarikan budaya karawitan. Cerita ini menunjukkan bahwa seni tradisional bukan hanya hiburan, tetapi juga sarana kebersamaan, kebahagiaan, dan regenerasi budaya yang penting untuk masa depan.
BalasHapusArtikel ini menceritakan dedikasi Ibu Tutik Widyawati melalui Sanggar Karawitan Manunggaling Rasa, yang menjadi ruang berkegiatan gamelan bagi lansia dan generasi muda untuk melestarikan budaya serta mempererat kebersamaan komunitas.
BalasHapusKisah sanggar karawitan ini menurut saya inspiratif karena menunjukkan pengabdian nyata dalam melestarikan budaya. Kegiatan seperti ini penting agar seni tradisi tetap hidup dan diwariskan ke generasi berikutnya.
BalasHapusKisah Pengabdian Sanggar Karawitan Ibu Tutik Widyawati
BalasHapus"Pengabdian Ibu Tutik Widyawati di Sanggar Karawitan luar biasa! Kisah pelestarian gamelan dan seni Jawa yang penuh dedikasi. Bangga sama generasi pelaku budaya kita!
artikel ini sangat menarik untuk dibaca
BalasHapusKisahnya menekankan nilai gotong royong dan regenerasi budaya lintas generasi di bawah bimbingan maestro seperti Pak Samadiyanto. Semoga sanggar ini terus menjadi teladan pelestarian seni tradisional Jawa.
BalasHapusArtikel ini menampilkan dedikasi Ibu Tutik Widyawati dalam mendirikan Sanggar Karawitan Manunggaling Rasa sebagai ruang aktif bagi lansia dan masyarakat untuk terus berkegiatan seni gamelan sekaligus melestarikan budaya tradisional. Kisah ini menunjukkan bahwa karawitan bukan hanya soal musik, tetapi juga mempererat kebersamaan komunitas dan membuka ruang bagi regenerasi budaya antar generasi.
BalasHapusSalut banget sama dedikasi Ibu Tutik! Menghidupkan sanggar karawitan di zaman sekarang itu bukan hal mudah, tapi beliau membuktikan kalau pengabdian tulus bisa menjaga tabuhan gamelan tetap bergema. Sosok seperti beliau inilah pahlawan budaya yang sebenarnya, yang memastikan warisan leluhur nggak cuma jadi pajangan museum.
BalasHapus