Drama di Balik Meja Hijau Ujian Skripsi S1: Tradisi dan Melodi Emosi Ujian Skripsi MahasiswaPendidikan Seni Pertunjukan UM

 

setelah sidang di tutup: Foto bersama dengan penguji (Foto ist.)


Damariotimes. Ujian skripsi di Universitas Negeri Malang (UM) bukan sekadar syarat administratif menuju kelulusan, melainkan sebuah ritus pendewasaan intelektual yang penuh dengan dinamika. Di Fakultas Sastra, khususnya pada Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) yang berada di bawah naungan Departemen Seni dan Desain (DSD), momentum ini memiliki warna tersendiri. Tradisi ujian skripsi di sini mencampurkan antara ketajaman akademis, kesiapan mental, dan drama emosional yang sering kali membekas sebagai kenangan paling tak terlupakan bagi setiap mahasiswa.

Prosesi ini dimulai jauh sebelum hari H. Setelah melalui bimbingan yang panjang, mahasiswa yang merasa siap akan mengajukan pendaftaran ujian melalui sistem informasi akademik (Siakad). Dalam rangkaian tersebut Koordinator Program Studi atau Ketua Departemen bekerja menentukan tim penguji yang dianggap kompeten untuk membedah hasil penelitian mahasiswa. Tugas mahasiswa tidak berhenti pada urusan naskah; mereka adalah "manajer" bagi ujian mereka sendiri. Mulai dari urusan birokrasi peminjaman ruang di gedung fakultas hingga menyiapkan dokumen berita acara yang telah diunduh secara mandiri dari Siakad. Kemandirian ini menjadi ujian pertama: sebuah bukti kesiapan mereka dalam mengelola sebuah tanggung jawab besar di lingkungan kampus.

Saat hari ujian tiba, suasana formal menyelimuti ruangan. Sidang biasanya dipimpin langsung oleh dosen pembimbing yang dalam forum ini mengalami transformasi peran. Pembimbing tidak lagi bertindak sebagai "pelindung" atau pendamping, melainkan resmi menjadi Penguji III. Sesuai tradisi, jalannya sidang diatur secara sistematis; pertanyaan dan sanggahan dimulai dari Penguji I, berlanjut ke penguji berikutnya, hingga berakhir pada Penguji III. Dalam durasi kurang lebih dua jam tersebut, mahasiswa harus mampu mempertahankan argumentasi atas paparan hasil penelitian yang mereka sajikan di hadapan meja hijau, menghadapi cecaran argumen yang menguji kedalaman penguasaan materi mereka.

Ketegangan mencapai puncaknya setelah tanya jawab berakhir. Sidang kemudian diskors selama kurang lebih sepuluh menit. Dalam waktu yang terasa sangat lama itu, mahasiswa diminta keluar ruangan agar tim penguji dapat melakukan rapat pleno terbatas untuk menentukan nasib naskah tersebut. Catatan-catatan kritis, koreksi tajam, dan kesepakatan nilai dirumuskan di balik pintu tertutup. Ketika mahasiswa dipanggil kembali ke dalam ruangan, suasana biasanya menjadi lebih hening dan sakral untuk mendengarkan hasil kesepakatan para penguji.

Salah satu tradisi unik sekaligus mendebarkan di Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan UM adalah keputusan lulus atau tidaknya mahasiswa tidak diberitahukan secara eksplisit pada saat itu juga. Penguji lebih memilih untuk membacakan tumpukan catatan perbaikan dan poin-poin krusial yang harus segera diselesaikan. Absennya pengumuman kelulusan yang gamblang ini sering kali menciptakan ruang ketidakpastian dalam benak mahasiswa. Bagi mereka yang telah berjuang habis-habisan, tumpukan revisi yang dianggap memberatkan sering kali ditafsirkan sebagai kegagalan atau tanda bahwa skripsi mereka tidak diterima.

Di sinilah drama emosional itu memuncak. Tidak jarang, mahasiswa keluar dari ruang ujian dengan mata berkaca-kaca, bahkan menangis sesenggukan karena merasa tidak lulus atau merasa naskahnya tidak dihargai. Kesedihan ini lahir dari tekanan psikologis yang luar biasa dan rasa lelah yang bertumpuk. Padahal, catatan tersebut adalah bagian dari proses penyempurnaan karya sebelum benar-benar layak masuk ke ruang koleksi perpustakaan. Drama tangis dan ketegangan ini akhirnya menjadi cerita klasik yang diwariskan dari satu angkatan ke angkatan berikutnya di Departemen Seni dan Desain.

Namun, di tengah kemelut emosi dan wajah sembab pasca-sidang, terdapat satu fragmen penutup yang mampu mencairkan suasana. Setelah dosen pembimbing secara resmi menutup jalannya ujian, ketegangan akademis itu pun luruh. Tradisi di PSP UM mengharuskan dilakukannya sesi foto bersama antara mahasiswa dan dewan penguji di depan ruang sidang. Dalam bingkai foto tersebut, posisi dosen yang tadinya sangat berjarak dan menguji kini kembali menjadi sosok orang tua yang bangga. Meski mata mahasiswa mungkin masih merah akibat tangis, sesi foto ini menjadi simbol bahwa mereka telah berhasil melewati fase tersulit dalam studi mereka. Potret bersama ini bukan sekadar dokumentasi formal, melainkan bukti dokumenter bahwa perjuangan berdarah-darah di atas meja sidang telah usai, menyisakan cerita dan kenangan tersendiri yang akan mereka bawa selamanya setelah menanggalkan status mahasiswa.

 

Reporter: R.Dt.

                                                                                                                                      

Posting Komentar untuk "Drama di Balik Meja Hijau Ujian Skripsi S1: Tradisi dan Melodi Emosi Ujian Skripsi MahasiswaPendidikan Seni Pertunjukan UM"