![]() |
| warung pak Kasto di Timur pasar Klojen Malang (Foto ist.) |
Damarioitmes.
Di sisi timur Pasar Klojen, tepat di mana riak air sungai bertemu dengan
hiruk-pikuk pusat Kota Malang, berdiri sebuah warung sederhana yang seolah
menjadi saksi bisu perjalanan waktu. Masyarakat sekitar mengenalnya sebagai
Warung Pak Kasto. Meski fisiknya hanya berupa bangunan bersahaja yang nyempil
di pinggir jembatan, warung ini menyimpan narasi mendalam tentang kesetiaan,
sejarah kecil sebuah sudut kota, dan semangat hidup yang menolak untuk padam.
Langkah
awal warung ini terpahat pada tahun 1994. Kala itu, nasib baik mempertemukan
Pak Kasto dengan seorang mantri pasar yang berbaik hati. Melihat ada sepetak
tanah kosong yang tak terurus di ujung jembatan, sang mantri mengizinkan Pak
Kasto untuk mendirikan tempat usaha. Sejak saat itulah, uap panas dari panci-panci
besar mulai menyeruak, menyapa setiap pelintas yang menuju atau pulang dari
riuhnya Pasar Klojen dengan aroma bumbu dapur yang menggoda selera.
![]() |
| Mbok Jum yang melanjutkan warung pak Kasto (Foto ist.) |
Namun,
roda kehidupan membawa duka pada tahun 2021. Di tengah puncak wabah Covid-19
yang melanda Malang, Pak Kasto berpulang ke pangkuan Sang Pencipta. Kepergian
sang nahkoda tentu meninggalkan lubang besar dalam sejarah warung tersebut.
Namun, tungku api di sana menolak untuk dingin. Adalah sang istri, yang akrab
disapa Mbah Jum, yang memilih untuk menyingsingkan lengan baju, membasuh air
mata, dan melanjutkan warisan semangat sang suami.
Di
usianya yang kini telah melampaui angka tujuh puluh tahun, Mbah Jum adalah
potret nyata dari sebuah kegigihan. Suaranya masih terdengar lantang dan renyah
saat menyapa pelanggan, kontras dengan perawakannya yang kian sepuh. Gerakannya
masih sangat sigap saat meracik hidangan, seolah jemarinya sudah menghafal
setiap letak bumbu dan takaran porsi. Warung ini memang tidak menawarkan
kemewahan interior, melainkan kejujuran rasa dalam setiap piring hidangan
tradisionalnya.
![]() |
| nasi soto hanya Rp. 15 ribu (Foto ist.) |
Sajian
di warung ini adalah perayaan bagi lidah pecinta kuliner Jawa Timur. Ada Rawon
dengan kuah hitam pekat yang kaya rempah, Pecel dengan siraman bumbu kacang
gurih yang melimpah, hingga Soto hangat yang menyegarkan jiwa. Keistimewaan
utama warung ini bukan hanya pada rasanya, melainkan pada kemurahhatiannya.
Dengan harga yang sangat terjangkau, antara sepuluh hingga lima belas ribu
rupiah, pelanggan sudah mendapatkan porsi besar yang mengenyangkan plus segelas
teh hangat. Tak heran, tempat ini menjadi tempat bernaung favorit bagi para
pengemudi ojek online untuk melepas penat atau sekadar menikmati kopi seharga
lima ribu rupiah sebelum kembali membelah jalanan.
Duduk
di Warung Pak Kasto bukan sekadar urusan mengisi perut. Di sana, kita bisa
merasakan hembusan angin sungai yang lembap dan mendengarkan harmoni deru
kendaraan di atas jembatan. Di tengah kesederhanaan itu, sosok Mbah Jum berdiri
sebagai pengingat bahwa bekerja bukan hanya soal mencari materi, tetapi tentang
menjaga martabat dan merawat kenangan yang ditinggalkan pasangan hidupnya.
Warung Pak Kasto bukan hanya sekadar titik koordinat di peta kuliner Malang; ia
adalah monumen hidup tentang ketegaran seorang perempuan. Selama Mbah Jum masih
mengaduk panci rawonnya, kehangatan dan keramahan di pinggir sungai Klojen itu
akan terus menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi Kota Malang.
Reporter : R.Dt.



Posting Komentar untuk "Kisah Kegigihan Mbah Jum dan Warung Pak Kasto"