Condro Lukitosari Putri Ki Soleh Adipramono Bercita-cita Membuat Sekolah Ludruk di Malang

 

Sonya Condro Lukitosari, berkaca mata mendatangi kediaman para seniman ludruk di Gondanglegi (Foto ist.)


Damariotimes. Suasana di Padepokan Seni Mangun Dharma pada 3 Januari 2026 kemarin terasa begitu hangat. Padepokan yang didirikan oleh Ki Soleh Adi Pramono ini kembali menjadi saksi bisu berkumpulnya para legenda hidup ludruk Malang Raya. Sebenarnya, agenda utamanya adalah syukuran sekaligus pamitan putri Ki Soleh Adipramono; Sonya Condro Lukitosari,  yang dalam waktu dekat akan bertolak kembali ke Belanda. Namun, lebih dari sekadar seremoni perpisahan, hari itu berubah menjadi panggung temu kangen bagi para seniman sepuh yang biasanya sangat sulit untuk disatukan dalam satu meja.

Kehadiran sosok-sosok seperti Mak Ngatiyar, Mama Chandra, Cak Sukirno, hingga Cak Marsam adalah fenomena yang luar biasa. Bagi para seniman ludruk senior, keluar rumah biasanya memegang prinsip "budhal mulih kudu nggowo duit", alias harus ada nilai ekonominya. Namun, khusus hari itu, rasa cinta dan hormat mereka kepada Ki Soleh dan Condro mengalahkan segalanya. Mereka hadir dengan ketulusan hati yang murni demi menyambung silaturahmi dan makan bersama. Jauh sebelum acara ini digelar, Condro bahkan sudah meluangkan waktu secara khusus untuk sowan satu per satu ke kediaman para seniman sepuh tersebut—sebuah gestur penghormatan yang sangat kental dengan tradisi ngajeni kepada orang tua.

Di sela-sela aroma nasi tumpeng dan gelak tawa yang pecah, Condro menyampaikan sebuah kegelisahan positif yang ia bawa dari tanah Eropa. Sebagai anak yang tumbuh besar di lingkungan padepokan, ia memiliki mimpi besar: mendirikan Sekolah Ludruk di Padepokan Mangun Dharma. Baginya, tempat ini adalah fondasi paling kuat untuk menjaga denyut nadi kesenian rakyat agar tidak mati ditelan zaman. Condro ingin ada sistem yang terstruktur untuk mencetak kader-kader muda, agar ludruk memiliki marwah dan pengakuan yang setara dengan seni tari atau teater modern yang sudah memiliki jalur pendidikan formal.

Namun, di sinilah letak keunikan sekaligus sisi jenaka dari pertemuan tersebut. Namanya juga "orang ludruk", meski Condro bicara serius soal visi masa depan dan sistem pendidikan, para sesepuh yang berkumpul justru asyik dengan dunianya sendiri. Seperti yang sudah-sudah, kalau orang ludruk bertemu sepuluh kali pun, yang dibahas pasti tetap sama: nostalgia masa lalu. Mereka jauh lebih bersemangat menceritakan kejayaan panggung di masa muda daripada berdebat soal kurikulum sekolah.

Alhasil, obrolan pun mengalir "ngalor-ngidul" dan tidak sepenuhnya "nyambung" dengan ide visioner Condro. Bahkan Cak Wido, yang semula diharapkan bisa menjadi jembatan diskusi, malah ikut hanyut dalam arus guyonan dan gaya khas ludrukan yang penuh jokan. Meski ada jarak antara idealisme Condro dan romantisme para sesepuh, pertemuan itu tetap terasa manis. Setidaknya, cita-cita Condro untuk melestarikan ludruk berangkat dari rasa bakti yang mendalam. Padepokan Seni Mangun Dharma hari itu bukan sekadar tempat makan bersama, melainkan titik temu antara doa restu masa lalu dan mimpi besar yang tengah dibangun Condro untuk masa depan ludruk Malang.

 

Contributor: Marsam

Posting Komentar untuk "Condro Lukitosari Putri Ki Soleh Adipramono Bercita-cita Membuat Sekolah Ludruk di Malang"