Refleksi Hari Guru: Di Persimpangan Drona dan Bisma dalam Puisi Tengsoe Tjahjono

 

Tengsoe penulis Puisi: Berguru Kepada Guru Drona dan Guru Bisma (Foto ist.)


Damariotimes. Setiap 25 November, gema Hari Guru Nasional hadir bukan sekadar sebagai penanda perayaan, melainkan sebagai musim untuk merenungkan kembali hakikat dari sebuah penuntun: Guru. Namun, untuk memahami kedalaman peran tersebut, kita mungkin perlu meninggalkan hiruk pikuk ruang kelas dan berjalan ke ‘hutan yang tak tercatat pada debar semesta,’ seperti yang diundang oleh Tengsoe Tjahjono dalam puisinya yang sunyi dan mendalam. Di sana, di persimpangan dua bayangan, terletaklah pelajaran abadi tentang pengetahuan.

Puisi ini menghadirkan sebuah lanskap mental di mana waktu dibentangkan dan digulung oleh kehadiran dua figur mahaguru dalam tradisi kuno. Di tengah rimbun bambu sehabis hujan, berdirilah Drona, sang ahli busur. Ia adalah guru yang menuntut fokus absolut, mengajarkan bahwa melihat sejati bukan pada objek yang tampak—burung di dahan—tetapi pada ‘titik yang bersembunyi di tengah kesunyian.’ Drona mewakili penguasaan keterampilan, ketajaman visi, dan keberanian untuk bertindak. Ia adalah guru yang mendorong muridnya melesatkan panah hingga menembus keraguan, sebuah energi yang harus diangkat dan diasah, bahkan jika gema jauh yang terdengar adalah kisah pengorbanan dan kesetiaan yang asing.

Di sisi lain, di tepi sungai tanpa alir, Bisma menunggu. Tubuhnya tenang, memancarkan sumpah yang telah membatu. Bisma tidak berbicara dengan kata-kata tajam, melainkan dengan bahasa dedaunan yang jatuh perlahan. Ia adalah manifestasi kearifan, mengajarkan bahwa kesetiaan dan ketenangan batin adalah fondasi. Pelajaran Bisma bukan tentang bagaimana cara bertahan di medan laga, melainkan tentang kemampuan mendengarkan ‘riak sekecil apa yang terjadi di dalam dada.’ Ia mewakili dimensi moralitas, sumpah yang membimbing, dan keteduhan yang menjadi jangkar.

Murid berdiri persis di antara kedua bayangan yang saling bersilang ini. Drona menawarkan busur—alat untuk menaklukkan dunia luar. Bisma menawarkan sumpah—tali pengikat pada dunia batin. Dalam silang bayangan inilah, terungkap pencerahan terpenting: “pengetahuan bukanlah cahaya, melainkan dian kecil yang bisa menerangi atau membakar jika tidak dipeluk dengan hati sebening telaga.”

Ini adalah peringatan yang sangat relevan di tahun 2025. Pengetahuan kini berlimpah, cepat, dan mudah diakses; ia adalah cahaya yang menyilaukan. Tugas guru modern adalah mengajari murid untuk memegang dian kecil itu dengan hati-hati. Bagaimana cara menggunakan ketajaman Drona tanpa mengorbankan nurani, dan bagaimana cara memelihara keteduhan Bisma tanpa menjadi pasif. Dalam keheningan malam-malam panjang, saat angin menggulung seperti naskah tua, sang murid terus bertanya-tanya: apakah busur adalah keberanian, atau justru keraguan yang dibentuk? Apakah sumpah adalah pemandu, atau belenggu?

Tak ada jawaban yang diberikan oleh guru-guru itu. Mereka hanya menatap ke dalam jarak yang tak terjangkau. Namun dari tatapan sunyi itu, tumbuhlah benang tipis yang menghubungkan pikiran dengan semesta. Benang yang bukan petunjuk pasti, melainkan teka-teki—sebuah lorong tak berujung yang memaksa murid menemukan dirinya sendiri di dalamnya.

Saat fajar tanpa warna merekah, pelajaran sejati tersingkap. Inti dari pendidikan, kata puisi ini, bukanlah tentang panah atau sumpah, bukan tentang skor atau janji, melainkan tentang cara berdiri di hadapan hidup yang selalu bergerak tanpa memberi aba-aba. Guru telah mewariskan serpihan tenaga dari Drona dan serpih keteduhan dari Bisma. Sebagian pelajaran memang harus disimpan sebagai rahasia waktu, sebuah potensi yang belum sepenuhnya dipahami.

Di belakang kita, guru-guru itu menghilang ke dalam cahaya samar. Mereka meninggalkan jejak yang tak terpandang, namun terasa menuntun setiap kali kita mengangkat wajah ke arah sesuatu ‘yang belum ada namun sedang tumbuh dalam diri.’ Inilah warisan abadi seorang guru: menanamkan benih yang memaksa kita tumbuh, bukan sekadar mengisi wadah dengan informasi.

Selamat Hari Guru Nasional 2025. Mari kita hargai para penuntun yang telah berdiri di persimpangan itu, mengajarkan kita untuk membawa busur dan sumpah dengan hati yang bening.

 

Penulis: R.Dt.

 

50 komentar untuk "Refleksi Hari Guru: Di Persimpangan Drona dan Bisma dalam Puisi Tengsoe Tjahjono"

  1. SELAMAT HARI GURU NASIONAL 2025! 👏. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, menyalakan cahaya ilmu di hati setiap murid. Mari kita hargai para penuntun yang telah berdiri di persimpangan itu.

    BalasHapus
  2. Dengan cara ini, artikel tidak hanya merayakan guru sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”, tetapi juga menekankan peran guru sebagai pembentuk karakter, penuntun nurani, dan pelita dalam membangun manusia yang utuh bukan hanya sekadar mengajar pengetahuan.

    BalasHapus
  3. Peran guru memang sangat luar biasa pada masa sekarang ini

    BalasHapus
  4. Puisi Tengsoe Tjahjono menghadirkan gambaran mendalam tentang peran guru melalui dua sosok metaforis: Drona dan Bisma. Drona melambangkan ketajaman, keterampilan, dan keberanian untuk bertindak, sementara Bisma mewakili kebijaksanaan, ketenangan, dan nurani. Murid berdiri di antara dua bayangan itu, belajar bahwa pengetahuan bukan sekadar cahaya yang menerangi, tetapi dian kecil yang dapat membimbing atau membakar jika tidak dipegang dengan hati bening. Dalam konteks Hari Guru Nasional 2025, refleksi ini mengingatkan kita bahwa tugas guru bukan hanya memberi ilmu, tetapi menuntun murid agar mampu menyeimbangkan keberanian dan kebijaksanaan dalam menjalani hidup yang terus bergerak tanpa kepastian.

    BalasHapus
  5. Artikel ini menghadirkan refleksi yang kuat tentang makna Hari Guru melalui perbandingan tokoh Drona dan Bisma dalam puisi Tengsoe Tjahjono. Refleksi tersebut menegaskan dilema moral yang sering dihadapi guru antara tuntutan sistem dan panggilan hati nurani. Artikel ini mengajak pembaca memahami bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar, tetapi juga tentang keberanian memilih nilai yang benar demi memanusiakan proses pendidikan.

    BalasHapus
  6. Guru adalah penuntun yang mengajarkan kita tentang kehidupan. Drona dan Bisma adalah contoh guru yang seimbang, yang memimpin dengan hati dan pikiran. Mari kita hormati dan belajar dari mereka.

    BalasHapus
  7. Rindi Oktavia Safitri2 Desember 2025 pukul 15.52

    Guru adalah panutan bagi semua siswa dan pahlawan tanpa tanda jasa. Mereka tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dan membimbing kita menjadi orang yang lebih baik. Jadi, mari kita hargai dan hormati guru kita, karena mereka adalah salah satu kunci kesuksesan kita di masa depan.

    BalasHapus
  8. Guru, pahlawan tanpa tanda jasa, menyalakan cahaya ilmu di setiap kegelapan. Mari kita hargai para penuntun yang telah berdiri di persimpangan itu.

    BalasHapus
  9. Selamat hari guru🎀✨️

    BalasHapus
  10. Inti pesan yang saya dapat di dalam puisi tersebut ialah, pengetahuan boleh seperti cahaya yang terang tetapi guru sejati mengajarkan bahwa pengetahuan adalah “dian kecil” yang harus dibarengi dengan hati bisa menerangi atau justru membakar jika tak dibarengi etika dan kebijaksanaan.

    BalasHapus
  11. Refleksi yang mendalam dan puitis ini berhasil menghadirkan makna Hari Guru yang lebih filosofis, menempatkan sosok pendidik pada persimpangan dilema moral.

    BalasHapus
  12. Rachma Agustine Putri Ahmadiana2 Desember 2025 pukul 18.20

    Artikel ini mengingatkan bahwa guru bukan hanya mengajar, tapi memberi teladan dan kebijaksanaan. Pesannya sederhana namun kuat.

    BalasHapus
  13. Naslihna Fatimah Az Zahra4 Desember 2025 pukul 02.51

    Artikel ini memakai metafora yang kuat — sosok Drona dan Bisma dari tradisi kuno — untuk menggambarkan dua aspek guru: keterampilan/kemampuan (busur, Drona) dan moralitas/kearifan batin (sumpah, Bisma). Pendekatan ini membantu menunjukkan bahwa peran guru tidak sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan membentuk karakter dan nurani murid.

    BalasHapus
  14. Saya sangat mengapresiasi cara Tengsoe Tjahjono menggunakan tokoh pewayangan sebagai kerangka refleksi Hari Guru. Penggunaan metafora Drona dan Bisma bukan hanya indah secara sastra, tetapi juga berhasil menangkap dilema moral dan profesional yang dihadapi para pendidik. Puisi adalah medium yang kuat untuk merayakan sekaligus mengkritik. Ini adalah cara yang cerdas untuk menggarisbawahi pentingnya keseimbangan antara ilmu, etika, dan integritas dalam dunia pendidikan

    BalasHapus
  15. “Puisi ini menghadirkan refleksi mendalam tentang keteladanan seorang guru.”

    BalasHapus
  16. Refleksi peran guru ideal di era modern, selaras filosofi Ki Hajar Dewantara sebagai pamong yang teladan dan pendorong

    BalasHapus
  17. Hari Guru Nasional hadir bukan sekadar sebagai penanda perayaan, melainkan sebagai musim untuk merenungkan kembali hakikat dari sebuah penuntun

    BalasHapus
  18. Tania novia andini5 Desember 2025 pukul 04.34

    selamat hari guru untuk semua guru di indonesia🤍🤍

    BalasHapus
  19. Dari artikel di atas saya jadi lebih tau secara jelas mengenai “ Refleksi Hari Guru: Di Persimpangan Drona dan Bisma dalam Puisi Tengsoe Tjahjono”

    BalasHapus
  20. guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa , guru dapat menjadi teladan yang baik bagi kita semua, dan kita harus menghargai guru

    BalasHapus
  21. Guru adalah salah satu yang harus di ayoomi dan dihargai tiap tetes kringat dan jasanya yang telah di gunakan untuk mendidik penerus bangsa di negeri ini.

    BalasHapus
  22. Selamat hari guru
    Guru sangat berjasa bagi negara untuk mencerdaskan para generasi yang akan datang.

    BalasHapus
  23. “Menarik bahwa artikel ini mengajak kita untuk refleksi: bukan hanya rayakan Hari Guru, tapi juga renungkan: sudahkah kita memberi ruang bagi guru untuk tumbuh dan menjalankan tugasnya dengan baik? Pendidikan bukan sekadar melek huruf, tapi membentuk manusia utuh.”

    BalasHapus
  24. Melalui artikel diatas sangat menarik karena guru adalah seseorang pendidik untuk membentuk karakter anak

    BalasHapus
  25. Peran seorang guru sangat luar biasa, artikel ini sangat menarik dan menginspirasi

    BalasHapus
  26. Makna dalam puisi itu adalah bahwa pengetahuan memang penting, tetapi tanpa hati, etika, dan kebijaksanaan, pengetahuan hanya menjadi “dian kecil” yang bisa menerangi atau bahkan membahayakan.

    BalasHapus
  27. Penetapan 25 November sebagai Hari Guru dijadikan momentum untuk merenungkan kembali hakikat seorang Guru sebagai "penuntun," melampaui sekadar perayaan rutin

    BalasHapus
  28. peran guru memang sangat penting bagi para siswa, artikel ini sangat menginspirasi

    BalasHapus
  29. Sangat menarik sekali karena dengan artikel ini dapat menginspirasi banyak orang karena profesi guru sangatlah penting

    BalasHapus
  30. artikel yang sangat inspiratif dan menarik, memberi pemahaman bahwa peran guru sangat penting

    BalasHapus
  31. Dengan mengaitkan Drona dan Bisma—dua guru legendaris yang menghadapi pilihan sulit—artikel ini memberi dimensi mendalam pada peran guru. Drona, yang terjebak dalam kewajiban terhadap keluarga kerajaan, dan Bisma, yang memegang prinsip moral meski terjebak dalam loyalitas politik, menggambarkan dua sisi dilema yang sering dihadapi oleh seorang pendidik dalam dunia nyata.

    BalasHapus
  32. Refleksi Hari Guru: Di Persimpangan Drona dan Bisma dalam Puisi Tengsoe Tjahjono

    BalasHapus
  33. Sangat mendalam dan menyentuh hati membaca artikel ini! Yang paling saya kagumi adalah cara penulis menghubungkan makna Hari Guru dengan simbolisme tokoh Drona dan Bisma dari Puisi Tengsoe Tjahjono – dua sosok yang mewakili tekanan dan pilihan yang sering dihadapi para guru.

    BalasHapus
  34. Artikel tersebut sangat inspiratif dan menarik sekali karena dengan artikel ini memberikan pemahaman bahwa peran seorang guru sangatlah penting

    BalasHapus
  35. Artikel ini menyampaikan bahwa guru ideal memadukan ketajaman dan kebijaksanaan dalam mendidik.

    BalasHapus
  36. artikel di atas sangat menambah wawasan saya

    BalasHapus
  37. guru sanggat berjasa bagi hidup kita

    BalasHapus
  38. Syifa'un Putri Hanura9 Desember 2025 pukul 16.47

    Pahlawan tanpa tanda jasa

    BalasHapus
  39. Artikel sangat menginspirasi bahwa peran guru sangat penting dan guru sangat berjasa

    BalasHapus
  40. Sosok guru dalam artikel itu digambarkan sebagai penuntun batin dan intelektual — bukan sekadar pemberi pengetahuan, tapi penjaga nurani dan nilai moral. Semoga kita semua selalu mampu menghargai guru, bukan hanya saat peringatan, tetapi setiap hari.

    BalasHapus
  41. selamat hari guru

    BalasHapus
  42. Artikel ini mengajak kita untuk merenungkan peran guru bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai penuntun batin dan moral yang membentuk karakter murid.

    BalasHapus
  43. Dalam puisi dan artikel yang di tulis bisa di rasakan emosional yang memuncak saat membacanya, rasa haru dan mengingat perjuangan guru yang sangat besar dan memberikan dampak besar bagi kami. Jadi mari kita hargai para penuntun yang telah berdiri di persimpangan itu, mengajarkan kita untuk membawa busur dan sumpah dengan hati yang bening.

    BalasHapus
  44. Artikel ini bikin aku lebih ngerasain makna Hari Guru lewat puisi yang dalam banget bukan sekadar ucapan terima kasih, tapi ajakan buat merenungkan peran guru sebagai penjaga keseimbangan antara kekuatan dan kearifan. Drona dan Bisma jadi simbol guru yang ngajarin kita bukan cuma soal ilmu, tapi juga tentang cara memegang hati dan nurani di tengah derasnya informasi zaman sekarang

    BalasHapus
  45. Anifa Zeni Fitriani11 Desember 2025 pukul 04.35

    Dari artikel tersebut dapat disimpulkan bahwa refleksi tentang makna hari guru sangat kuat melalui perbandingan tokoh Drona dan Bisma

    BalasHapus
  46. Refleksi Hari Guru melalui puisi Tengsoe Tjahjono ini sangat menyentuh. Perbandingan Drona dan Bisma memberi gambaran kuat tentang dilema moral seorang pendidik di tengah tuntutan zaman.

    BalasHapus
  47. Refleksi Hari Guru dalam puisi Tengsoe Tjahjono ini begitu menyentuh. Persimpangan Drona dan Bisma memberi gambaran mendalam tentang dilema, tanggung jawab, dan keteguhan seorang pendidik. Sangat relevan untuk direnungkan.

    BalasHapus
  48. Artikel ini membuka perspektif yang sangat menarik tentang peran guru melalui kacamata tokoh-tokoh besar dalam Mahabharata, yaitu Drona dan Bisma. Penggunaan puisi Tengsoe Tjahjono sebagai pintu masuk pembahasan terasa kaya akan makna.

    BalasHapus
  49. peran guru memang sangat penting

    BalasHapus
  50. artikel dari damario times,banyak informasi dan ilmu yang di dapatkan,terimakasih prof roby

    BalasHapus