MENYIKAPI KEMBALI SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI ‘TUNTUAN’ DAN ‘TONTONAN’ (Part 2)

Makalah di Sajikan Pada Seminar dan Sarasehan
Peningkatan Mutu Berkesenian Berbasis Tontonan dan Tuntunan
Penelienggara Dewan KIesenian Kabupaten Malan (DKKM) 12 Juli 2022

Moch. Saiful Effendi, SE. (Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Malang) sedanga presentasi (Foto ist.)
        Damariotimes. Bagi seniman tradisional yang tumbuh di lingkungan komunitas dari masa-ke masa memang tidak sama yang mereka rasakan, bahkan ada keluh kesah atau yang bangga kerena hidup berkelimpahan. Berbagai hal yang tumbuh menjadi pengalaman memiliki arti tersendiri, bahkan dilakukan oleh masing-masing pelakunya. Bahkan mereka yang benar-benar lahir, tumbuh, dan hidup di lingkungan seni tradisional merasakan telah menjadi bagian dari kehidupannya. Sisa-sisa yang tetap mereka nikmati, yaitu kebanggaan menjadi penerus dari leluhurnya yang pernah memiliki nama besar di panggung seni pertunjukan.

Berbagai seni pertunjukan yang pada masa yang lampau telah hadir menjadi hiburan masyarakat baik di lingkungan yang terbatas atau dilingkungan yang bersifat luas. Hiburan mempunyai beberapa konteks yang bersifat fungsional, baik untuk masyarakat umum atau untuk perorangan.

Hiburan disini dipahami sebagai sebuah ‘ruang’ dimana ada kesempatan orang dapat bermain untuk kepentingan dirinya sendiri, baik untuk menunjukkan personalitasnya, komunitasnya, atau untuk melakukan interasksi sosial. Sehingga pengertian menghibur tidak hanya bersifat ‘intertement’ yang membuat penonton senang, sementara pelaku seni hanya sebagai objek. Jika mereka tidak mampu menghibur maka dengan sangat cepat dan mudah akan ditinggalkan.

Pengertian menghibur dalam ranah tradisi masyarakat masa lampau di Jawa, adalah menciptakan ruang interaksi sosial. Mereka menanggap seni pertunjukan tidak hanya untuk membuat penonton menjadi senang, namun ada kesempatan untuk menempatkan diri sebagai orang yang memiliki hubungan dalam membangun persaudaraan (ikatan kekerabatan). Penonton hadir untuk menunjukan bahwa dirinya adalah bagian dari sebuah ikatan sosial yang disebut nguyupi (ikut menunjukan partisipasinya).

Dalam konteks apresiasi, tuntunan adalah sebuah media untuk belajar, karena setiap seni pertunjukan mempunyai fungsi untuk memberikan contoh dan ketauladanan, tidak hanya membeirkan contoh yang baik, namun juga memberikan contoh yang tidak baik. Dengan demikian penonton memang diposisikan sebagai orang yang dapat memilih dan memilah nilai yang terkandung. Sehingga tidak ada satupun seni pertunjukan yang memaksakan untuk penontonnya dapat menjadi orang yang baik, menjadi orang baik itu merupakan pilihan dan keputusan atas kepentingannya.



Penulis                 : R. Hidajat
Editor                    : Muhammad Affaf Hasiymi

Posting Komentar untuk "MENYIKAPI KEMBALI SENI PERTUNJUKAN SEBAGAI ‘TUNTUAN’ DAN ‘TONTONAN’ (Part 2)"