![]() |
| MALPRACT FEST 2026 (Foto ist.) |
Damariotirms.
MALANG – MALPRACT FEST 2026 menjadi salah satu ruang bagi mahasiswa untuk
menampilkan kreativitas dan karya seni. Acara yang diselenggarakan oleh
Departemen Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang ini
berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November 2026. Rangkaian acara dimulai
pukul 11.00 WIB dengan tiket masuk Rp10.000 pada hari pertama dan Rp20.000
untuk hari kedua serta ketiga.
Salah satu pertunjukan yang menyedot perhatian adalah
pertunjukan teater berjudul RANTAU,
yang dipentaskan pada 30 Oktober 2026 setelah Magrib di Panggung Ganesha
Universitas Negeri Malang. Pertunjukan ini menghadirkan dua alur cerita dengan
persoalan kehidupan yang berbeda namun saling bertolak belakang.
Cerita pertama mengangkat tokoh Sulung yang diperankan oleh
Wahyu Susanti. Tokoh ini menggambarkan seorang anak dari keluarga berada yang
menyia-nyiakan kesempatan pendidikan dan terjebak dalam hubungan tidak sehat
hingga kehilangan kepercayaan dari orang-orang terdekatnya.
Sementara itu, cerita kedua berfokus pada kehidupan Lintang
yang diperankan oleh Ale. Berasal dari keluarga sederhana dan dibesarkan oleh
ayahnya seorang diri, Lintang menerima pengorbanan besar dari sang ayah yang
rela menyerahkan seluruh hartanya demi pendidikan sang anak. Konflik memuncak
menjelang sidang tugas akhir Lintang ketika ia mendapat kabar bahwa ayahnya
sakit keras.
Pada bagian ini, penonton diajak terlibat aktif melalui
pilihan untuk menentukan keputusan tokoh. Penonton akhirnya memilih agar
Lintang tetap menyelesaikan sidangnya. Namun, setelah sidang selesai, Lintang
justru merobek skripsinya sebagai bentuk penyesalan dan pergulatan batin atas
pengorbanan ayahnya. Suasana haru semakin terasa ketika ia akhirnya pulang dan
mendapati sang ayah mengalami Alzheimer sehingga tidak lagi mengenali dirinya.
Secara keseluruhan, penyajian RANTAU berlangsung menarik berkat konsep interaktif
yang melibatkan penonton serta alur cerita yang mendalam mengenai tanggung
jawab, pilihan hidup, dan hubungan keluarga. Meski demikian, beberapa catatan
artistik dan teknis masih mewarnai jalannya pementasan. Penataan panggung
terasa cukup monoton karena belum banyak mengalami perubahan suasana mengikuti
perpindahan cerita. Selain itu, pergerakan lampu sorot atau spotlight pada beberapa adegan
terkadang terlambat mengikuti fokus pemain, sehingga perhatian penonton kurang
terarah pada bagian tertentu.
Kendala juga terlihat pada tata suara yang membuat beberapa
dialog pemain kurang terdengar jelas, terutama dari area penonton bagian
belakang. Menurut penuturan salah satu pemain, kondisi pementasan di ruang
terbuka, pantulan suara, geber latar panggung, serta kebisingan kendaraan di
sekitar lokasi turut memengaruhi kejelasan audio. Karakteristik mikrofon yang
digunakan juga berbeda dengan mikrofon yang dipasang langsung pada tubuh
pemain, sehingga dialog yang diucapkan secara pelan lebih sulit terdengar dari
jarak jauh.
Terkait pencahayaan, pemain menilai penggunaannya secara
umum sudah cukup mendukung pertunjukan, sementara keterlambatan sorotan lampu
kemungkinan dipengaruhi oleh terbatasnya waktu latihan teknis. Di sisi lain,
pemain merasa senang dapat kembali tampil di depan panggung setelah sekitar
empat tahun lebih banyak bergerak di belakang layar. Meskipun bergabung ketika
persiapan sudah berjalan dan masa latihan terbilang singkat, ia tetap berusaha
menyesuaikan diri serta mengapresiasi panitia yang dinilai sangat responsif
terhadap kebutuhan pemain.
Konteributor lepas:
Divania Dwi A.M

Posting Komentar untuk "MALPRACT FEST 2026: Wadah Kreativitas Mahasiswa FS UM dan Pembelajaran Seni Pertunjukan Lewat Lakon "RANTAU""