Eksplorasi Musikal dan Pesan Lingkungan di Panggung Malpract Universitas Negeri Malang

 



Panggung Malpract di UM (Foto ist.)


Damariotimes.Panggung Terbuka Ganesha Universitas Negeri Malang menjadi saksi perhelatan event Malpract pada Jumat (30/10/2026). Acara yang menggabungkan kegiatan Novart dan Pesta Seni ini merupakan puncak dari rangkaian perayaan ekspresi dan karya kreatif para pelaku seni. Malpract tidak sekadar menyuguhkan hiburan visual dan audio, melainkan menjelma sebagai media penyampaian gagasan, rasa resah, serta pesan sosial yang mendalam melalui media seni pertunjukan.

Hari pertama pelaksanaan Malpract menghadirkan ragam penampilan dengan karakter dan konsep yang unik. Salah satu sajian yang paling mencuri perhatian publik adalah kolaborasi performance art antara Adikari dan Malamati. Kolaborasi ini menyuguhkan pengalaman artistik yang sangat tidak biasa dengan membenturkan dua unsur musik berkarakter bertolak belakang, yakni riuh rendah musik noise modern dan keanggunan instrumen gamelan tradisional. Perpaduan kontras ini menciptakan nuansa musikal yang eksperimental, penuh ketegangan, sekaligus memberikan warna berbeda yang mencolok di panggung pertunjukan.

Di balik struktur bunyi yang tak lazim tersebut, kolaborasi Adikari dan Malamati membawa narasi penting tentang bencana alam dan kerusakan lingkungan, khususnya kejahatan kebakaran hutan. Karya ini secara implisit menggambarkan bagaimana kobaran api tidak hanya menghancurkan ekosistem, tetapi juga merenggut ruang hidup manusia dan satwa. Suara-suara bising dari musik noise menjadi metafora visual-audio atas kekacauan serta kepanikan saat bencana terjadi, sementara alunan gamelan memperkuat identitas tradisi dan karakter pertunjukan. Lewat eksplorasi musikal ini, para penampil berupaya mentransfersilkan penderitaan dan kehancuran alam ke dalam satu pengalaman inderawi.

Respons dari pengunjung pun beragam. Ilham, salah satu penonton yang hadir di lokasi, mengungkapkan apresiasinya terhadap kemeriahan acara tersebut sembari memberikan saran konstruktif. Ia menilai bahwa Malpract sangat menarik dan seru, namun konsep acaranya masih perlu terus ditingkatkan pada masa mendatang agar sanggup menjaring penonton yang jauh lebih luas. Tanggapan ini menegaskan bahwa Malpract berhasil memberi kesan tersendiri bagi pengunjung, meski tetap menyisakan ruang evaluasi pada tata kelola penyelenggaraannya.

Secara artistik, penggabungan unsur musik eksperimental dan instrumen tradisional membuktikan adanya keberanian tinggi dalam mendobrak batas-batas seni pertunjukan. Namun, pilihan konsep yang tak konvensional ini sekaligus melahirkan tantangan tersendiri dalam aspek komunikasi. Struktur musik yang cenderung abstrak tanpa alur melodi bernada jernih seperti musik pop pada umumnya berpotensi membuat sebagian besar audiens kesulitan menangkap pesan utama yang ingin disampaikan.

Hal yang cukup disayangkan memang terletak pada aspek keterbacaan pesan karya tersebut oleh penonton secara umum. Mengingat mayoritas audiens berasal dari masyarakat awam yang belum terbiasa menikmati musik eksperimental, perpaduan bunyi tersebut belum tentu dapat dinikmati secara utuh dari sisi musikalitas maupun dipahami maknanya secara tepat. Bahkan, tidak sedikit penonton yang sama sekali tidak menyadari bahwa pementasan tersebut sebenarnya sedang mengisahkan tragedi kebakaran hutan.

Kondisi ini menyisakan catatan penting bagi para penampil maupun pihak penyelenggara. Kendati karya seni memiliki kebebasan mengekspresikan gagasan, jembatan komunikasi antara karya dan audiens tetap memegang peranan krusial. Ke depan, penggunaan narasi singkat sebelum pertunjukan dimulai, sajian visualisasi pendukung yang lebih komunikatif, atau pengenalan konsep secara bertahap dapat menjadi solusi agar pesan moral karya tak sekadar berhenti di benak sang kreator.

Terlepas dari catatan evaluatif tersebut, kolaborasi Adikari dan Malamati dalam panggung Malpract tetap menjadi bukti nyata atas keberanian bereksperimen di kancah seni pertunjukan. Karya ini menegaskan bahwa seni tidak hanya berfungsi sebagai pelipur lara, melainkan juga wahana kritik, refleksi, serta penyadaran atas isu-isu krisis lingkungan. Event Malpract di masa depan diharapkan mampu hadir dengan penataan konsep yang semakin matang dan inklusif, sehingga karya-karya yang disajikan tak hanya memanjakan mata, tetapi juga mampu mengendap menjadi perenungan mendalam bagi setiap penikmatnya.

 

kontributor lepas: Fitri Cahyaning Wulan

 

Posting Komentar untuk "Eksplorasi Musikal dan Pesan Lingkungan di Panggung Malpract Universitas Negeri Malang"