![]() | ||
| Di Bali persiapan upacara Meligiye, | Upacara setelah Ngaben. (Foto ist.) |
Damariotimes.
Pulau Bali kembali bersiap menggelar tradisi spiritual mendalam yang mengakar
kuat dalam kebudayaan Hindu Dharma, yakni persiapan menjelang Upacara Meligi
atau Maligya. Ritual sakral ini dilaksanakan sebagai kelanjutan dari prosesi
Ngaben yang telah digelar sebelumnya. Jika Ngaben berfungsi menyucikan serta
mengembalikan unsur panca maha bhuta tubuh fisik manusia ke alam semesta, maka
Upacara Meligi hadir sebagai tingkatan penyucian yang jauh lebih tinggi dan
sempurna untuk membebaskan atma atau roh leluhur agar mencapai alam pitara
hingga bersatu kembali dengan Sang Creator. Menjelang puncak acara yang
dijadwalkan berlangsung pada tanggal 21 hingga 24 Oktober 2026, denyut
kehidupan dan gotong royong warga Bali terasa semakin intensif di berbagai
pelosok wilayah penyelenggara.
Suasana persiapan di lokasi upacara memperlihatkan dinamika
kebudayaan Bali yang sarat nilai estetika dan religiusitas. Garis-garis bambu,
helai-helai daun kelapa muda, serta rupa-rupa bunga bermekaran diolah secara
cermat oleh tangan-tangan warga yang bekerja tanpa kenal lelah sejak pagi
hingga malam hari. Pembangunan bale payasan, balai pemuatan sarana upakara,
hingga penataan panggung utama atau sanggar tawang nampak berdiri megah
menjulang tinggi. Arsitektur bambu dan ukiran kain tradisional berhiaskan
warna-warna khas seperti putih, kuning, merah, dan hitam menambah keagungan
tempat prosesi. Setiap ornamen yang terpasang tidak sekadar menjadi hiasan
visual, melainkan sebuah lambang kosmologis yang merepresentasikan jagat raya
beserta para dewa pelindungnya.
Prosesi menuju puncak perayaan diwarnai oleh hiruk-pikuk
pembuatan sarana upakara yang amat rumit dan detail. Para wanita Bali berkumpul
duduk bersila menganyam janur menjadi ratusan jenis banten dan jejahitan yang
memiliki struktur geometris bernilai seni tinggi. Wangi asap kemenyan yang
membaur dengan aroma bunga kamboja kesegaran dupa terus membumbung ke udara,
menciptakan atmosfer khusyuk yang menenangkan jiwa. Sementara itu, para pria
bahu-membahu dalam pekerjaan fisik berat, mulai dari mendirikan wewangunan
bambu, menyiapkan kayu bakar penyucian, hingga mengatur alur logistik seluruh
rangkaian acara. Pembagian tugas yang harmonis ini menunjukkan betapa tradisi
Meligi tidak hanya menjadi ritual keagamaan, melainkan juga wadah penguat tali
silaturahmi dan solidaritas antarwarga melalui semangat ngayah atau berbakti
secara tulus ikhlas.
Menjelang tanggal 21 Oktober 2026, kesucian seluruh area
upacara kian diperketat melalui berbagai prosesi penyucian berkala atau
pembersihan secara spiritual. Para sulinggih atau pendeta Hindu yang memimpin
jalannya persiapan terus memanjatkan mantra-mantra suci yang menggema perlahan
di tengah kesunyian malam. Bunyi genta yang berdenting bersahut-sahutan
mengiringi setiap doa, memohon restu dari para dewa dan leluhur agar seluruh
rangkaian kegiatan diberikan kelancaran serta keselamatan. Penataan sarana
sakral seperti puspa lingga, yang merupakan simbolisasi roh para leluhur yang
disucikan, dilakukan dengan kehati-hatian luar biasa oleh pihak keluarga
penyangga upacara bersama para pemangku lokal.
Puncak acara yang membentang dari tanggal 21 hingga 24
Oktober 2026 diprediksi akan menyedot perhatian ribuan umat yang datang untuk
memberikan penghormatan terakhir kepada para leluhur mereka. Selama empat hari
beruntun tersebut, serangkaian prosesi bertahap akan dilaksanakan dengan penuh
keagungan. Dimulai dari ritual penyucian puncak, persembahan tarian sakral
seperti rejang dan baris gede, hingga alunan gamelan beleganjur dan gender
wayang yang menghentak dan mengalun syahdu mengiringi setiap tahapan acara.
Gelombang umat yang mengenakan pakaian adat Bali bernuansa putih bersih akan
memadati area upacara, membawa persembahan dan puji-pujian yang dipanjatkan
secara kolektif demi mengantarkan roh leluhur menuju taraf suci tertinggi atau
memalinggihang Dewa Hyang.
Keunikan dan keagungan dari persiapan Upacara Meligi ini
memancarkan pesona spiritualisme Bali yang tidak pernah pudar oleh arus
modernisasi. Kesetiaan warga dalam merawat tradisi leluhur menjadi bukti betapa
hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta senantiasa dipelihara dalam
harmoni yang utuh. Menjelang hari-hari puncak di akhir bulan Oktober 2026
tersebut, atmosfer magis dan penuh rasa syukur merangkul seluruh bagian tempat
upacara, menghadirkan cermin kearifan lokal yang tidak hanya menyucikan roh-roh
yang telah berpulang, tetapi juga memperhalus budi pekerti serta mempererat
persaudaraan bagi keturunan yang ditinggalkan di dunia.
Konteributor Bali: AA Arimbawa

artikel nya sangat menarik dan mudah dipahami
BalasHapusArtikelnya bagus banget ngena di inti Bali.
BalasHapusArtikel ini menarik karena menggambarkan bagaimana persiapan Upacara Meligi tidak hanya berkaitan dengan kegiatan spiritual, tetapi juga memperlihatkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Bali dalam menjaga tradisi dan kebersamaan.
BalasHapusartikel ini memberikan banyak infomasi yang menarik dan bermanfaat
BalasHapusKeren banget sih, di Bali warganya kompak gotong royong nyiapin upacara. Zaman sekarang masih ada tradisi sehangat ini, adem banget bacanya. 🌺
BalasHapus