Kalilan: Menemukan Keikhlasan dan Keseimbangan Jiwa Lewat Balutan Tradisi Kediri

 

Darjonesia -Sidoarjo Indonesia (Foto ist.)


Damariotimes. Kehidupan manusia kerap diwarnai oleh gelombang ujian, gejolak emosi, dan pertentangan batin yang dinamis. Di tengah ego serta amarah yang sering kali mendominasi, keikhlasan hadir sebagai kekuatan terbesar untuk menerima segala ketetapan dengan hati yang berlapang dada. Nilai luhur inilah yang menjadi pijakan utama bagi koreografer Yoga Achmad Subagyo, S.Sn. asal Kabupaten Kediri dalam melahirkan karya seni tari bertajuk Kalilan. Karya tari duet ini dirancang secara khusus untuk memeriahkan ajang Darjonesian Dance Festival, dengan menggabungkan unsur cerita rakyat, legenda, serta romansa kedaerahan yang sarat makna.

Secara filosofis, nama Kalilan diserap dari konsep keikhlasan, sebuah sifat mendasar yang melambangkan kepasrahan dan penerimaan manusia dalam menghadapi situasi apa pun sebagai bentuk perwujudan ibadah kepada Sang Pencipta. Gagasan ini berakar kuat pada dua kebudayaan khas Kediri, yakni kisah romansa Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji, serta tradisi ritual seni Tiban dari Kecamatan Ngadiluwih. Kisah Panji dan Sekartaji mengajarkan bahwa keikhlasan dan kesabaran saat terpisah oleh takdir, fitnah, dan perang mampu mengalahkan keraguan hingga akhirnya membuahkan pertemuan yang membahagiakan. Sementara itu, ritual Tari Tiban yang ditujukan untuk memohon hujan menunjukkan bentuk pengorbanan luhur demi menjaga keseimbangan alam, di mana ketulusan niat menjadi inti utama ketimbang aksi fisik yang ditampakkan.

Pengungkapan pesan dalam Kalilan diwujudkan melalui medium gerak tubuh yang dibawakan secara harmonis oleh dua penari, yaitu Abid Fadlurohman Hidayat dan Kanaya Aurellia Yonanta. Struktur koreografinya memadukan eksplorasi pola gerak khas Jawa Timuran, gerak realis keseharian, serta sentuhan kontemporer. Sajian tari diawali dengan bagian prolog yang membawakan suasana tegang tentang gejolak amarah dan pengekangan emosi diri. Alur pementasan kemudian berlanjut pada adegan pertama yang menghadirkan nuansa kegembiraan lewat pengembangan gerak Tari Remo dan Jaranan, sebelum akhirnya memasuki adegan kedua yang menggambarkan perenungan serta konflik batin para penari. Pertunjukan diakhiri dengan adegan ketiga sebagai puncak penyelesaian, di mana eksplorasi hentakan kaki, karakter gerak gagahan Jawa Timuran, dan tempo ritual Tiban yang kian memuncak melebur menjadi simbol kemenangan hati yang telah meraih keikhlasan.

Atmosfer pertunjukan kian hidup berkat dukungan penataan musik yang menyatukan instrumen tradisional dan modern tanpa menghilangkan identitas kedaerahannya. Kehadiran tiupan instrumen slompret yang menjadi pilar utama dalam kesenian Jaranan Kediri berkelindat indah dengan alunan vokal berbahasa Jawa, sehingga mampu memperkuat penyampaian rasa dan nilai estetika lokal Jawa Timur secara utuh. Proses panjang yang melibatkan observasi, penghayatan, dan eksplorasi tubuh ini menjadikan Kalilan bukan sekadar pertunjukan visual, melainkan sebuah refleksi kehidupan yang mengingatkan manusia untuk senantiasa menanamkan rasa ikhlas di dalam batin agar mampu menerima setiap takdir Tuhan tanpa rasa penyesalan.

 

Reporter: R.Dt.

 

 

 

Posting Komentar untuk "Kalilan: Menemukan Keikhlasan dan Keseimbangan Jiwa Lewat Balutan Tradisi Kediri"