![]() |
| Foto bersama seluruh pendukung Ludruk Lerok Anyar pimpinan Cak Marsam Hidayat (Foto ist.) |
Malang,
Pendopo Agung Kabupaten Malang menjadi saksi bisu kebangkitan kembali kesenian
tradisional Jawa Timur dalam rangka memperingati Hari Jadi Kabupaten Malang
yang ke-1266. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang bekerja sama
dengan Dewan Kesenian Kabupaten Malang (DKKM) sukses menggelar Workshop dan
Pertunjukan Ludruk Remaja. Kegiatan bernuansa kebudayaan ini menghadirkan
narasumber utama Maestro Ludruk Malang, Cak Marsam Hidayat, yang juga merupakan
Pimpinan Sanggar Lerok Anyar. Kehadiran sosok maestro tersebut menjadi magnet
kuat bagi generasi muda untuk mendalami kembali seni pertunjukan tutur yang
kian langka minatnya di kalangan milenial.
Semangat pelestarian budaya ini disambut hangat oleh SMKN 1
Kepanjen yang mengirimkan sepuluh siswa-siswi pilihan dengan bakat seni akting
serta keaktifan dalam ekstrakurikuler Karawitan. Para duta seni muda tersebut
meliputi Raditya Cahyono, Julia Pugee Fanderzy, Putri Allysha Octa Vyani,
Batricya Ahlina, Sheila Agustin, Ajeng, Rere Setiawan, Adit, Lutfi, dan Nurjanah.
Tidak hanya dari lingkungan sekolah, workshop ini turut diikuti oleh perwakilan
pemuda lintas wilayah seperti Hendra Kurniawan dari Kecamatan Wajak, Bagas
Setyo Anggoro dari Kecamatan Pakis, serta Teguh Budianto atau Mama Elok yang
mewakili Tandhak Ludruk Malang.
Berbeda dari workshop pada umumnya yang berfokus pada
penyampaian materi teknis, atas arahan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata
Kabupaten Malang, kegiatan ini langsung disambung dengan pementasan seni di
hadapan publik. Menjawab tantangan tersebut, Cak Marsam Hidayat secara khusus
merancang lakon berbobot bertajuk "Jatidiri" yang disesuaikan dengan
realitas generasi milenial. Lakon ini memotret pahit-manis perjuangan
pelestarian ludruk, mengisahkan rasa bangga Cak Marsam saat anaknya, Ratri,
berniat nunggak semi melanjutkan
jejaknya sebagai seniman ludruk. Namun, niat mulia tersebut mendapat penolakan
keras dari Ana, kakak kandungnya, dengan dalih bahwa menjadi pemain ludruk
tidak memiliki masa depan yang menjanjikan. Perbedaan sudut pandang saudara
kandung ini dirangkai secara piawai menjadi tontonan yang menggugah, relevan,
sekaligus menghibur.
Dalam proses penentuan peran, Cak Marsam mempercayakan
karakter utama Ratri kepada Julia Pugee Fanderzy dan karakter Ana kepada Putri
Allysha Octa Vyani. Kendati waktu latihan sangat terbatas, kedua siswi SMKN 1
Kepanjen tersebut sukses menyajikan performa prima yang menghipnotis penonton
dan sang sutradara. Pementasan ini tetap mempertahankan pakem autentik ludruk
seperti Tari Remo dan Kidungan Jula Juli, sekaligus mengedukasi penonton muda
mengenai tradisi unik ludruk di masa lalu di mana lakon perempuan kerap
dimainkan oleh laki-laki, menyerupai seni pertunjukan Kabuki di Jepang.
Dukungan pertunjukan makin sempurna dengan hadirnya Tim Karawitan pengiring
yang dipimpin oleh Adhitya Jayawardhana, mahasiswa Jurusan Karawitan ISI
Surakarta, bersama anggota penuh siswa-siswi SMKN 1 Kepanjen. Sajian Gending
versi Lerok Anyar yang ritmis, magis, dan dinamis garapan Raditya Cahyono dan
kawan-kawan berhasil menyihir ratusan pasang mata yang hadir.
Pertunjukan Ludruk Remaja ini mendapat perhatian khusus dan
apresiasi tinggi dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Malang.
Terlebih lagi, komposisi penonton yang memadati Pendopo Agung mayoritas
didominasi oleh kalangan pelajar, mahasiswa, masyarakat umum, hingga turis
mancanegara yang antusias menyaksikan pertunjukan hingga usai. Keberhasilan
malam pementasan ini menjadi bukti nyata bahwa seni tradisi ludruk tidak pernah
kehilangan relevansinya apabila dikemas secara kreatif, adaptif, serta
memberikan ruang seluas-luasnya bagi generasi muda untuk berekspresi.
Konteributor: Cak Marsam Hidajat

Posting Komentar untuk "Peringatan Hari Jadi Kabupaten Malang ke-1266 Menjadi Saksi Gelar Regenerasi Ludruk Lakon "Jatidiri" Garapan Cak Marsam Hidayat."