![]() |
| Hari Kekek Nenek Se dunia (sumber AI) |
Damariotimes.
Di tengah laju modernisasi yang kian cepat, struktur keluarga modern mengalami
pergeseran mendasar dari bentuk keluarga besar menjadi keluarga inti. Perubahan
ini secara perlahan menggeser eksistensi kakek dan nenek ke ruang sunyi yang
terpisah dari dinamika harian. Peringatan Hari Kakek Nenek Sedunia lahir
sebagai bentuk kesadaran global untuk merawat kembali nilai historis,
emosional, dan spiritual yang dibawa oleh generasi senior. Peringatan ini
memuat konsep dasar berupa penguatan solidaritas antargenerasi, di mana kakek
dan nenek dipandang sebagai jembatan hidup yang menghubungkan memori masa lalu
dengan harapan masa depan, sekaligus sebagai penjaga kearifan serta pilar kasih
sayang tanpa syarat di dalam keluarga.
Pengakuan
resmi terhadap pentingnya peran lansia ini diinisiasi oleh berbagai lembaga dan
pemimpin dunia melalui penetapan tanggal serta konsep perayaan yang khas.
Secara global bagi umat Katolik, Paus Fransiskus melalui Takhta Suci Vatikan
menetapkan Hari Kakek Nenek dan Lansia Sedunia yang diperingati setiap hari
Minggu keempat di bulan Juli, berdekatan dengan pesta santo Santo Yoakim dan
Santa Anna yang merupakan kakek dan nenek dari Yesus. Pemimpin tertinggi gereja
tersebut menekankan konsep bahwa lansia bukanlah beban masyarakat, melainkan akar
dari sebuah pohon keluarga yang harus terus disiram agar generasi muda tidak
kehilangan identitasnya.
Di
Amerika Serikat, Kongres menetapkan Hari Kakek Nenek Nasional yang kemudian
disahkan melalui proklamasi Presiden Jimmy Carter pada tanggal 3 Agustus 1978.
Peringatan ini dijadwalkan secara resmi pada hari Minggu pertama setelah Hari
Buruh (Labor Day) di bulan September, dengan konsep mendorong interaksi
langsung antargenerasi melalui kegiatan sekolah dan tradisi menanam bunga forget-me-not
sebagai simbol kenangan yang tak terlupakan. Sementara itu di Italia, Parlemen
Italia secara resmi mengesahkan Festa dei Nonni melalui Undang-Undang
Nomor 159 pada tanggal 31 Juli 2005. Peringatan ini ditetapkan jatuh setiap
tanggal 2 Oktober, bertepatan dengan perayaan Para Malaikat Pelindung dalam
tradisi lokal, untuk menguatkan konsep bahwa kakek dan nenek adalah
"malaikat pelindung" nyata yang memberikan dukungan pengasuhan serta
jaring pengaman sosial bagi keluarga modern.
![]() |
| hari kakek nenek dalam berita (sumber AI) |
Implementasi
budaya yang sangat kuat juga terlihat di Jepang, di mana Majelis Tinggi Jepang
menetapkan Hari Penghormatan Orang Tua (KeirÅ no Hi) sebagai hari libur
nasional sejak tahun 1966. Peringatan yang kini ditetapkan jatuh pada hari
Senin ketiga di bulan September ini membawa konsep penghormatan atas masa hidup
yang panjang serta kontribusi para lansia terhadap pembangunan masyarakat. Di
Indonesia sendiri, meskipun secara nasional pemerintah menetapkan Hari Lansia
Nasional setiap tanggal 29 Mei berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 83 Tahun
1996, semangat Hari Kakek Nenek semakin meluas diadaptasi oleh lembaga-lembaga
pendidikan melalui kegiatan Grandparents Day yang mengedepankan nilai
budaya bakti, sungkeman, dan ungkapan terima kasih antargenerasi.
Melalui
seluruh penetapan dan konsep perayaan tersebut, Hari Kakek Nenek memberikan
arti yang sangat kuat dalam menempatkan lansia ke dalam konstelasi humanistik.
Peringatan ini secara nyata meruntuhkan stigma ageisme yang sering kali
menilai harga diri manusia hanya dari produktivitas ekonominya semata. Dengan
menghadirkan ruang dialog, mendengarkan cerita masa lalu mereka, serta
melibatkan mereka secara aktif dalam kehidupan keluarga, masyarakat turut
memulihkan kehangatan emosional dan memenuhi hak atas keterikatan sosial para
lansia. Pada akhirnya, perayaan ini menjadi manifestasi kepedulian yang
mengembalikan kakek dan nenek ke tempat terhormat mereka sebagai simbol
kemanusiaan yang bermartabat, pilar kearifan, dan mahkota bagi kehidupan
keluarga.
Penulis: R.Dt.


Posting Komentar untuk "Hari Kakek Nenek Sedunia dalam Konstelasi Humanistik"