![]() |
| Wibinar Mitos Panji Sepuh (Foto ist.) |
Damariotimes.
Diskusi yang mengemuka dalam Webinar "Relevansi dan Aktualisasi Budaya
Panji" seri ke-72 bertajuk "Mitos dan Hakikat Panji Sepuh" telah
membuka ruang refleksi yang mendalam mengenai posisi strategis mitologi Panji
dalam peta budaya serta politik Jawa. Kegiatan yang diselenggarakan oleh
Asosiasi Tradisi Lisan Jawa Timur dan Komunitas Seni Budaya BrangWetan ini
berlangsung pada Jumat, 26 Juni 2026, pukul 19.00 – 21.00 WIB melalui platform
Zoom.
Sosok Panji Sepuh, yang berkembang secara spesifik sebagai
mitologi khas di lingkungan Keraton Surakarta, ternyata menyimpan benang merah
yang kuat dengan upaya legitimasi kekuasaan seorang penguasa, yakni Susuhunan
Paku Buwana. Hubungan antara narasi Panji dan wacana kekuasaan ini bukanlah
sebuah fenomena baru, melainkan sebuah kilas balik sejarah yang menyiratkan
bagaimana politik Jawa di masa lampau menyikapi dinamika kekuasaan melalui
pendekatan kultural, khususnya melalui seni tari yang sarat dengan
simbol-simbol adiluhung.
Dalam tradisi Jawa, istilah "sepuh" dimaknai
sebagai tua, leluhur, pendahulu, atau yang dituakan. Dengan demikian,
"Panji Sepuh" dapat dibaca sebagai sosok Panji yang telah mencapai
kematangan batin, bukan lagi pangeran muda yang sedang mencari kekasih seperti
Panji Asmarabangun, melainkan sosok yang telah melewati perjalanan hidup dan
siap menerima tanggung jawab tertinggi.
Untuk memahami posisi Panji Sepuh, perlu menarik
ingatan kolektif ke beberapa abad yang lalu, tepatnya pada masa transisi akhir
Majapahit. Di lingkungan keraton, narasi tersebut diolah sedemikian rupa
menjadi perangkat budaya yang memiliki kekuatan legitimasi. Dalam konteks
Keraton Surakarta, sosok Panji Sepuh diposisikan bukan sekadar tokoh fiksi,
melainkan sebagai personifikasi dari nilai-nilai luhur yang sepatutnya dimiliki
oleh seorang pemimpin.
Ketika Susuhunan Paku Buwana mengadopsi atau
mengintegrasikan mitologi Panji ke dalam panggung kekuasaannya, langkah tersebut
sejatinya adalah strategi politis yang halus namun masif. Dengan menampilkan
lakon-lakon yang bersumber dari Panji Sepuh melalui medium tari, raja sedang
melakukan performa kekuasaan yang menghubungkan garis keturunannya dengan akar
tradisi agung Jawa sekaligus mengukuhkan klaim bahwa ia adalah pewaris sah dari
nilai-nilai kepemimpinan yang telah diletakkan oleh para leluhur.
Diskusi yang dipandu oleh moderator Henri Nurcahyo ini
menghadirkan narasumber ahli, yakni Karsono Hardjohapurno (Hilog, Jakarta),
Abimandha Kurniawan (dosen Universitas Airlangga), dan Prof. Dr. Ing. Wardiman
Djojonegoro (Promotor Budaya Panji). Kehadiran para pakar ini mempertegas bahwa
pembahasan mengenai Panji bukan sekadar nostalgia masa lalu, melainkan upaya
berkelanjutan untuk memahami bagaimana sebuah mitos mampu bertahan melampaui
zamannya.
Pada akhirnya, perjalanan untuk memahami Panji Sepuh adalah
perjalanan memahami dialektika antara mitos dan kenyataan. Mitos memberikan
kerangka yang diperlukan bagi seorang pemimpin untuk diakui, sementara
kenyataan politik menuntut pemimpin tersebut untuk terus-menerus merawat mitos
tersebut agar tetap relevan. Bagi masyarakat Jawa, tradisi ini adalah bagian
dari napas kebudayaan yang terus berdenyut dan menolak untuk padam, menjadikan webinar
yang disiarkan melalui kanal TV PANJI dan Tribun Network ini sebagai kontribusi
berharga dalam menjaga diskursus tetap hidup dan kontekstual bagi generasi
mendatang.
Penulis : R.Dt.

Posting Komentar untuk "Menelisik Mitos dan Hakikat Panji Sepuh: Refleksi Legitimasi Politik dalam Tradisi Jawa"