Menyingkap Makna di Balik Trans: Pertunjukan Bantengan sebagai Ruang Belajar Kebudayaan untuk Masyarakat Penyangganya

 

ritual dalam pertunjukan bantengan (Foto ist.)

Damariotimes. Pertunjukan bantengan merupakan salah satu manifestasi pertunjukan rakyat yang paling ikonik di wilayah Jawa Timur, khususnya di daerah Malang dan sekitarnya. Pertunjukan  memadukan gerak silat, musik gamelan ritmis, dan kostum topeng kepala banteng, melainkan sebuah ritual yang memiliki aspek dimensi spiritual dan psikologis. Titik puncak dari pertunjukan ini adalah fase trans atau kesurupan, sebuah momen kehilangan kesadaran diri dan dirasuki oleh kekuatan supranatural. Bagi pengamat awam, fenomena ini mungkin tampak sebagai peristiwa mistis yang mengerikan atau sekadar pertunjukan teatrikal yang dramatis. Namun, jika ditelisik melalui kacamata sosiologi dan antropologi, fase trans ini merupakan sebuah mekanisme pembelajaran budaya yang sangat dalam bagi masyarakat penyangganya.

Untuk menafsirkan hasil observasi saat mengamati fase trans, pengamat harus terlebih dahulu melepaskan diri dari prasangka rasionalisme barat yang kaku. Observasi harus dilakukan secara fenomenologis, yakni dengan menangkap esensi pengalaman para pelaku dan penonton di lokasi kejadian. Ketika seorang pemain bantengan memasuki fase trans, tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri; ia menjadi wadah bagi entitas lain. Secara deskriptif, pengamat melihat perubahan drastis dalam ekspresi wajah, kekuatan fisik yang melampaui batas normal, hingga respons terhadap suara musik yang berubah menjadi pemicu stimulasi saraf. Dalam menafsirkan fenomena ini, salah satu teori yang paling relevan untuk menjelaskan bahwa trans adalah bentuk pembelajaran budaya adalah teori "Enkulturasi" yang digabungkan dengan perspektif "Psikologi Budaya" dari Vygotsky mengenai scaffolding sosial.

Dalam pandangan ini, pertunjukan bantengan berfungsi sebagai ruang kelas luar sekolah. Masyarakat penyangganya, terutama generasi muda, belajar tentang nilai-nilai kearifan lokal, ketahanan, dan ketaatan pada norma-norma spiritual melalui observasi langsung terhadap para senior yang mengalami trans. Trans, dalam konteks ini, dipahami sebagai sebuah proses "pendewasaan kolektif". Ketika seorang pemain mengalami trans, ia sebenarnya sedang mempraktikkan penguasaan diri dan kepasrahan kepada kekuatan yang lebih besar, yang dalam konteks budaya masyarakat penyangganya adalah bentuk penghormatan kepada leluhur atau penjaga alam. Pembelajaran budaya terjadi melalui peniruan dan partisipasi aktif. Penonton yang menyaksikan proses trans sedang menyerap kode-kode kultural tentang seseorang yang harus bersikap di hadapan sesuatu yang sakral.

Lebih jauh, fenomena trans dalam bantengan dapat dijelaskan melalui teori "Representasi Sosial" dari Serge Moscovici. Ia menyatakan bahwa fenomena yang tampak aneh atau asing—seperti kesurupan—akan dikooptasi oleh masyarakat ke dalam sistem pengetahuan umum agar dapat dimengerti dan diterima. Masyarakat penyangga bantengan tidak menganggap trans sebagai gangguan jiwa, melainkan sebagai bentuk komunikasi transendental. Dengan demikian, proses belajar di sini mempelajari cara memaknai dunia yang tidak terlihat. Pemuda yang terlibat dalam bantengan belajar mengelola emosinya, belajar tentang solidaritas kelompok, dan belajar tentang identitas diri sebagai bagian dari komunitas yang menghargai spiritualitas. Fase trans menjadi "simbol budaya" yang menyatukan mereka dalam satu identitas kolektif yang kokoh.

Dalam durasi trans yang intens, terdapat ruang untuk pelepasan ketegangan sosial yang terakumulasi di kehidupan sehari-hari. Pengamat akan memperhatikan bagaimana masyarakat justru merasa tenang atau semakin percaya diri setelah pertunjukan selesai. Ini menunjukkan bahwa trans berperan sebagai katarsis budaya. Melalui proses ini, masyarakat diajarkan secara bawah sadar tentang batasan-batasan etika dan harmoni sosial. Ketika seseorang "diambil alih" oleh kekuatan lain, ia harus tetap mengikuti aturan-aturan tertentu yang dijaga oleh pawang atau sesepuh bantengan. Aturan-aturan ini mencerminkan struktur sosial yang ada di dunia nyata, di mana terdapat pemimpin, pengikut, dan norma yang harus dipatuhi agar tatanan tetap terjaga.

Sebagai kesimpulan, mengamati pertunjukan bantengan saat fase trans menuntut pengamat untuk mampu melihat melampaui apa yang tersaji di depan mata. Trans bukanlah akhir dari rasionalitas, melainkan bentuk rasionalitas lain yang berbasis pada pengalaman kultural yang mendalam. Dengan menggunakan teori enkulturasi dan representasi sosial, kita dapat memahami bahwa fase ini adalah ruang pembelajaran yang efektif bagi masyarakat penyangganya untuk mewariskan nilai-nilai luhur dari generasi ke generasi. Bantengan membuktikan bahwa di balik keruntuhan kesadaran seorang pemain, terdapat kesadaran budaya yang justru sedang diperkuat, dibangun, dan dipertahankan. Sebagai pengamat, memahami trans berarti memahami bagaimana sebuah komunitas mendefinisikan dirinya, mengatur emosinya, dan menautkan masa lalunya dengan masa depan melalui sebuah ritual yang hidup dan terus bertumbuh di tengah arus zaman yang semakin modern. Proses pembelajaran budaya ini menjadikan bantengan tetap relevan, bukan sebagai peninggalan masa lalu yang statis, melainkan sebagai entitas hidup yang terus mendidik masyarakat penyangganya untuk tetap terhubung dengan akar spiritualitas dan identitas kolektif mereka.

 

Penulis: R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Menyingkap Makna di Balik Trans: Pertunjukan Bantengan sebagai Ruang Belajar Kebudayaan untuk Masyarakat Penyangganya"