![]() |
| Pameran data proposal Chandra Dewi Kusumaningtyas (Foto ist.) |
Damariotimes.
Pendidikan inklusif bukan sekadar pemenuhan kuantitas aksesibilitas fisik,
melainkan sebuah manifestasi konstitusional yang menuntut kesetaraan
substansial dalam proses pembelajaran. Di Indonesia, hak ini dijamin secara
yuridis melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional. Namun, dalam realitas praktis mata pelajaran Pendidikan Seni dan
Budaya, tantangan diskriminasi pedagogis secara tidak sadar sering kali
terjadi, khususnya bagi peserta didik tunarungu. Seni tari, yang secara inheren
menempatkan elemen auditif seperti irama, tempo, dan dinamika musik sebagai roh
utamanya, seolah menjadi dinding pembatas yang tidak ramah bagi mereka yang
memiliki keterbatasan pendengaran. Padahal, bagi anak tunarungu, seni tari
memiliki fungsi terapeutik yang sangat esensial untuk melatih koordinasi
motorik, kesadaran ruang, hingga menjadi ruang ekspresi emosional yang
membangun harga diri. Oleh karena itu, terdapat kebutuhan mendesak untuk
menyoroti kesenjangan antara idealisme inklusi dan realitas empiris di
lapangan.
Melalui
kesadaran kritis akademis tersebut, Chandra
Dewi Kusumaningtyas, seorang peneliti sekaligus mahasiswa dengan NIM 2502160038 dari Program Studi S2 Pendidikan Seni, Fakultas
Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Semarang (UNNES), menginisiasi
sebuah studi kasus yang mendalam. Kondisi objektif di SLB Negeri Kabupaten
Batang yang ia amati menunjukkan adanya fenomena paradoksal. Pada satu sisi,
peserta didik tunarungu memiliki potensi keunikan belajar yang sangat kuat
sebagai pembelajar visual-kinestetik alami yang peka terhadap stimulasi visual
dan getaran taktil. Di sisi lain, praktik pengajaran Tari Babalu sebagai
warisan budaya lokal Batang masih didominasi oleh pendekatan konvensional. Guru
cenderung mengandalkan metode demonstrasi repetitif yang bertumpu pada
instruksi verbal berbasis hitungan angka. Pendekatan ini terbukti inefektif dan
anakronistis, karena gagal mentransformasikan isyarat auditif menjadi bentuk
komunikasi yang dapat diindrai oleh siswa. Akibatnya, durasi pembelajaran
menjadi sangat panjang, terjadi desinkronisasi gerak dengan tempo asli, dan
yang paling fatal adalah timbulnya rasa frustrasi serta penurunan motivasi
belajar pada peserta didik. Kesenjangan akut inilah yang melatari analisis
kritis peneliti terhadap efektivitas metode dan media pembelajaran yang
adaptif.
Secara
teoritis, studi kasus ini membedah masalah melalui prosfektif Teori Kompensasi
Sensorik dan Pedagogi Inklusif Kontemporer. Berdasarkan landasan berpikir
tersebut, prediksi empirik penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan penguasaan
koreografi tradisional tidak ditentukan oleh kemampuan mendengar, melainkan
oleh ketepatan rekayasa lingkungan belajar yang kaya dengan isyarat non-verbal.
Kebaruan (inovasi) yang ditawarkan oleh Chandra Dewi Kusumaningtyas dalam
konteks ini adalah pengujian efektivitas metode demonstrasi adaptif yang
disinergikan dengan pemanfaatan media visual-digital, seperti platform YouTube
dan Buku Panduan Babalu yang dirancang khusus. Inovasi ini bekerja dengan cara
mendekonstruksi elemen musik auditif menjadi gelombang taktil (getaran
permukaan) serta representasi visual melalui media interaktif seperti Papan
Pintar, cahaya, warna, dan bahasa isyarat. Penggabungan antara target populasi
tunarungu, objek pelestarian lokal Tari Babalu, dan rekayasa media
transformatif ini menjadi pembeda utama sekaligus pionir literatur yang mengisi
kekosongan kajian seni bagi disabilitas rungu di Indonesia.
Metode
penelitian yang diterapkan dirancang secara kualitatif dengan pendekatan studi
kasus deskriptif-analitis. Pengumpulan data terstruktur menggunakan pedoman
wawancara terhadap informan kunci, seperti Kepala Sekolah (Buntas Ernawati)
untuk menggali kebijakan inklusi, dan Guru Seni Budaya (Nok Alif) untuk
membedah kendala teknis metodologi. Data primer diperkuat melalui observasi
kelas secara partisipatif untuk mengamati interaksi kinestetik, ketepatan ritme
siswa tanpa musik, serta dokumentasi visual berupa rekaman isyarat. Fokus
analisis ditujukan pada proses delapan tahapan pembelajaran Tari Babalu, mulai
dari mencermati gerakan secara visual, pemberian instruksi manual dengan jari,
latihan berulang (memori otot), hingga evaluasi penguatan melalui media visual.
Melalui
pendekatan metodologis tersebut, prediksi luaran yang rasional dari penelitian
ini adalah terciptanya sebuah rumusan formula pedagogik baku mengenai faktor
penentu keberhasilan pembelajaran tari inklusif. Luaran jangka pendek dapat menunjukkan
peningkatan signifikan pada pemahaman koreografi, ketepatan transisi gerak yang
serempak, dan penguatan ekspresi maknawi Tari Babalu pada peserta didik. Secara
psikologis, siswa dapat menunjukkan peningkatan fokus dan reduksi tingkat
frustrasi karena tuntutan belajar telah selaras dengan modalitas alami mereka.
Bagi institusi, riset magister ini diprediksi mampu menghasilkan perencanaan modul
adaptif pembelajaran seni berbasis kearifan lokal yang dapat direplikasi oleh
satuan pendidikan khusus lainnya.
Meskipun
prediksi luaran di atas sangat menjanjikan, menurut Prof. Dr. Robby Hidajat,
selaku narasumber pada Pameran data yang digelar pada tanggal 29-30 di Kampus
UNNES Semarang; bahwa efektivitas waktu pelaksanaan penelitian sesungguhnya di
lapangan dapat ditingkatkan secara optimal melalui beberapa langkah strategis. Pertama, peneliti disarankan untuk
mengintegrasikan teknologi haptic feedback sederhana, seperti
pemanfaatan lantai kayu yang mampu menghantarkan resonansi bass dari musik
iringan secara maksimal (teknik ini masih langka dalam penerapan eksperimen
kasus tunggal), sehingga siswa dapat "mendengar" tempo melalui
telapak kaki instruktur atau peneliti. Kedua,
optimalisasi media YouTube harus dimodifikasi dengan menyisipkan visual
metronom digital berupa denyut cahaya warna-warni yang merepresentasikan
ketukan cepat-lambatnya Tari Babalu. Terakhir,
penguatan kompetensi komunikasi bahasa isyarat bagi guru seni budaya harus
dilakukan sebelum intervensi dimulai. Dengan memberikan masukan inovatif pada
aspek lingkungan fisik dan media digital, luaran penelitian yang digagas oleh
mahasiswa FBS UNNES ini menjadi solusi aplikatif yang secara nyata membebaskan
potensi kreatif terpendam peserta didik tunarungu dalam melestarikan budaya
bangsa.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Dekonstruksi Pedagogi Inklusif dalam Pembelajaran Tari Babalu bagi Peserta Didik Tunarungu SLB Negeri Kabupaten Batang"