Tradisi Kala Rindu Purna Tugas Menyatu di Bojana Puri dalam Kidungan Jula-Juli


Tampilan puncak dari pertunjukan karawitan di Bujana Puri (Foto ist.)


Damariotimes. Sabtu 11 April 2026, bukan hanya tentang saling memaafkan di bulan Syawal, Udara pagi di Kepanjen terasa tenang, sungguhpun suasana  di dalam Aula Bojana Puri yang memancarkan kehangatan. Suara gamelan menggema ritmiskal dinamis  memikat langkah para tamu memasuki gerbang nostalgia. Aula yang biasanya menjadi saksi bisu janji suci pernikahan, hari ini bersolek dengan rupa berbeda. Di atas meja-meja yang tertata presisi, aneka hidangan kue tradisional dan botol-botol air mineral berbaris rapi, menanti untuk dinikmati di tengah riuhnya percakapan para undangan. Dari kejauhan, sayup-sayup suara sinden melantunkan tembang Jawa dengan cengkok yang begitu halus, menyentuh relung hati siapa pun yang mendengarnya, seolah membawa pesan bahwa hari ini adalah tentang merayakan silaturahmi di hari yang fitri.

Perhelatan ini adalah sebuah acara Halal Bihalal yang digagas dengan penuh ketulusan oleh H. Joko Santosa, pemilik Rumah Makan Bojana Puri Kepanjen. Beliau mengumpulkan para abdi negara yang telah purna tugas di wilayah Kecamatan Kepanjen dalam bingkai kebersamaan yang luar biasa unik. Begitu kaki melangkah melewati ambang pintu aula, para tamu langsung disambut oleh harmonisasi nada dari Sanggar Karawitan Puri Widyo Laras. Ibu-ibu dari Kelompok C membuka pertunjukan dengan gending-gending bernuansa gembira. Semangat mereka yang meluap-luap terpancar dari cara mereka memukul bilah-bilah saron dan bonang, menciptakan suasana "wilujeng sumping" atau selamat datang yang begitu tulus bagi para senior mereka yang kini telah menikmati masa pensiun.

Nuansa kebahagiaan itu kemudian berlanjut saat Kelompok B naik ke atas panggung. Terpacu oleh energi positif dari kelompok sebelumnya, ibu-ibu Kelompok B tampil dengan kepercayaan diri yang lebih mantap. Jemari mereka menari lincah di atas instrumen kayu dan perunggu, membawakan lagu-lagu bertema gotong royong seperti Lancaran Gugur Gunung. Irama yang rampak, kompak, dan menyenangkan ini seolah mencerminkan etos kerja para ASN purna tugas tersebut di masa lalu sebuah pengingat bahwa meski tugas kedinasan telah usai, semangat untuk saling membantu tidak boleh luntur. Aula Bojana Puri pun semakin bergetar oleh tepuk tangan penonton yang terhanyut dalam kemeriahan musik tradisi yang membumi.


Puncak acara: foto bersama setelah bersalam salaman (Foto ist.)


Puncak dari pertunjukan karawitan ini ditandai dengan hadirnya Kelompok A, kelompok paling senior di bawah asuhan tangan dingin Cak Samadiyanto. Sebagai grup campuran laki-laki dan perempuan, Kelompok A menunjukkan kemapanan luar biasa dalam menjaga irama dan tempo yang presisi. Namun, suasana yang semula tenang dan khidmat berubah menjadi penuh kejutan ketika H. Joko Santosa menghadirkan sosok istimewa sebagai bintang tamu: sang Maestro Kidungan Jula-Juli asal Gondanglegi, Cak Marsam Hidayat. Kehadiran beliau menjadi magnet utama yang mengubah acara formal ini menjadi panggung rakyat yang penuh sukacita.

Cak Marsam membuka penampilannya dengan Kidungan Kluyuran yang legendaris. Lirik pembuka yang berbunyi, "Ngumandanging prabawane Pancasila gawe ayem lan tentreme rakyat kabeh," bergema di seluruh sudut aula. Syair karya mendiang Ki Sumantri ini bukan sekadar kata-kata, melainkan doa dan pengingat akan pentingnya ideologi bangsa dalam menjaga ketenangan hidup. Suara khas Cak Marsam yang parau namun berwibawa seketika membius audiens. Beliau kemudian melanjutkan kidungannya dengan syair-syair bertema kebangsaan dan ajakan untuk terus bersatu dalam mensukseskan pembangunan. Pesan-pesan ini disampaikan dengan gaya jenaka namun mendalam, ciri khas Jula-Juli yang selalu mampu menyentuh hati sekaligus memancing tawa.

Keajaiban terjadi saat alunan musik semakin dinamis; para pensiunan yang semula duduk rapi sambil mengobrol santai dengan kawan lama, tiba-tiba tak kuasa menahan diri. Satu per satu, para ibu dan bapak purna tugas beranjak dari kursi mereka, mendekati panggung untuk ikut berjoget ria bersama sang Maestro. Wajah-wajah yang dihiasi gurat usia itu seketika bersinar, mencerminkan kebahagiaan yang murni. Dalam momen tersebut, usia yang mendekati angka 80 tahun seolah hanya sekadar angka. Mereka terlihat sehat, bugar, dan kembali bersemangat seolah jiwa muda mereka terpanggil kembali oleh getaran nada gending Jawa dan jenakanya kidungan.

Acara Halal Bihalal ini memang menjadi ajang temu kangen yang sangat bermakna bagi sekitar 120 mantan guru dan ASN, serta jajaran Muspika Kecamatan Kepanjen yang hadir. Di antara sela-sela lagu, terdengar riuh rendah cerita tentang pengalaman masa lalu, kabar cucu, hingga tips menjaga kesehatan di masa tua. Setelah rangkaian hiburan yang menguras emosi dan tawa, acara dilanjutkan dengan sambutan-sambutan formal dari pihak panitia dan Camat Kepanjen, sebelum akhirnya ditutup dengan doa bersama yang khusyuk, memohon keberkahan dan kesehatan bagi semua yang hadir.

Keberhasilan acara ini menegaskan bahwa Rumah Makan Bojana Puri bukan sekadar tempat bisnis untuk perhelatan komersial seperti pesta pernikahan. Di bawah kepemimpinan H. Joko Santosa, tempat ini telah bertransformasi menjadi sebuah "Rumah Penjaga Kearifan Lokal". Dengan memberikan ruang bagi Sanggar Karawitan Puri Widyo Laras dan melestarikan tradisi kidungan, Bojana Puri telah membuktikan tentang kemajuan zaman yang tidak harus menggerus akar budaya. Namun telah menjadi jembatan yang menyatukan hati, merawat ingatan, dan memberikan kebahagiaan bagi mereka yang telah membaktikan hidupnya untuk negara.

 

Reporter : MAH

 

1 komentar untuk "Tradisi Kala Rindu Purna Tugas Menyatu di Bojana Puri dalam Kidungan Jula-Juli"

  1. Dari penjelasan diatas kita dapat mengetahui artikel yang berjudul Tradisi Kala Rindu Purna Tugas Menyatu di Bojana Puri Dalam Kudungan Jula-Juli

    BalasHapus