![]() |
| Para Juara FLS3N kota Malang dan dewan juri untuk tangkai lomba Musik Tradisional (Foto ist.) |
Damariotimes.
Suasana di SMA Katolik Santo Albertus Kota Malang pada Rabu, 29 April 2026,
tampak berbeda dari hari biasanya. Sejak pukul 09.30 WIB, udara di sekitar
sekolah yang akrab disapa Dempo tersebut mulai bergetar oleh dentuman kendang,
dawai yang dipetik, serta harmoni perkusi yang bersahutan. Hari itu, sekolah
tersebut menjadi saksi bisu perhelatan akbar Festival dan Lomba Seni Siswa
Nasional (FLS3N) 2026 tingkat Kota Malang, khususnya pada cabang lomba yang
paling dinanti karena kedalaman nilai budayanya: Kreativitas Musik Tradisional.
Sebanyak 11 kelompok musik dari berbagai SMA, SMK, hingga
MAN di seantero Kota Malang berkumpul untuk beradu estetika dan kepiawaian
dalam mengolah bunyi. Persaingan terasa sangat ketat karena setiap kelompok,
yang terdiri dari lima siswa terpilih, membawa misi besar untuk menjaga
martabat seni tradisi di tengah arus modernitas. Sekolah-sekolah ternama
seperti SMAN 7 Malang, SMAN 3 Malang, SMAN 4 Malang, SMKN 5 Malang, SMAN 2
Malang, SMAN 10 Malang, SMKS Telkom Sandy Putra Malang, SMAN 9 Malang, MAN 2
Malang, SMAN 8 Malang, hingga SMAN 5 Malang, masing-masing menyuguhkan garapan
musik yang unik, atraktif, dan dinamis.
Di balik kemeriahan tersebut, tanggung jawab besar
diletakkan di pundak dua sosok pengamat yang menjadi penentu arah kualitas seni
musik tradisional pelajar Kota Malang. Panitia menghadirkan kombinasi kepakaran
dari dunia akademisi dan praktisi, yakni Willyday Namali, M.Sn., seorang
akademisi lulusan ISI Yogyakarta, serta Cak Marsam Hidayat, seorang seniman
praktisi kawakan alumni Padepokan Seni Bagong Kussudiardja Yogyakarta.
Kehadiran mereka bukan sekadar untuk memberi angka, melainkan untuk menguji
sejauh mana para siswa mampu menyelaraskan teknik permainan dengan
"rasa" kedaerahan yang menjadi akar budaya mereka.
Sebelum memulai tugasnya, profesionalitas kedua juri ini
dipayungi oleh sebuah instrumen hukum dan moral yang kuat, yakni Pakta
Integritas. Dokumen ini bukan sekadar formalitas di atas kertas, melainkan
janji suci untuk bekerja secara transparan, adil, dan objektif tanpa campur
tangan kepentingan pribadi atau pihak manapun. Melalui Pakta Integritas ini,
panitia memastikan bahwa seleksi FLS3N 2026 berjalan dengan akuntabilitas
tinggi, sehingga siapapun yang terpilih nantinya benar-benar merupakan
representasi terbaik dari kualitas kesenian Kota Malang yang sesungguhnya.
Dalam proses penilaian yang berlangsung hingga pukul 15.30
WIB, Dewan Juri tidak hanya terpukau oleh aspek fisik pertunjukan atau
"gebyar" luar yang megah. Mereka melakukan pembedahan yang lebih
dalam terhadap komposisi nada, harmoni, dan yang paling krusial: nilai kearifan
lokal. Juri mencari penyaji terbaik yang mampu melahirkan karya kreatif tanpa
batas namun tetap berpijak pada identitas Arema. Bagi juri, musik tradisional
bukan hanya soal tatanan bunyi yang ritmis dan melodis, melainkan sebuah narasi
bunyi yang mampu menceritakan jati diri bangsa dan kebanggaan lokal Jawa Timur.
Setelah melalui pengamatan yang seksama dan diskusi yang
mendalam, akhirnya ditetapkanlah para juara yang berhak menyandang predikat
terbaik. SMAN 5 Malang tampil sebagai bintang utama dengan meraih Juara 1
setelah mengumpulkan nilai tertinggi sebesar 187 poin. Penampilan mereka
dianggap paling mampu menerjemahkan esensi kreativitas musik tradisional yang
segar namun tetap berakar kuat pada tradisi. Dengan kemenangan ini, SMAN 5
Malang berhak melangkah ke tingkat Provinsi Jawa Timur sebagai duta Kota
Malang.
Posisi Juara 2 diraih oleh SMAN 8 Malang dengan total nilai
168, disusul oleh SMAN 4 Malang di posisi Juara 3 dengan nilai 147. Sementara
itu, kategori Juara Harapan 1 hingga 3 secara berurutan diraih oleh SMKS Telkom
Sandy Putra Malang (140), SMAN 10 Malang (132), dan SMAN 3 Malang (128).
Perbedaan nilai yang cukup kompetitif mencerminkan bahwa setiap peserta
memiliki keunggulan masing-masing dalam mengeksplorasi instrumen tradisional.
Seleksi FLS3N tingkat Kota Malang tahun 2026 ini memberikan
pelajaran berharga bahwa ruang ekspresi bagi generasi muda sangatlah vital
untuk menjaga keberlangsungan seni tradisi. Keberhasilan acara ini tidak hanya
diukur dari siapa yang membawa pulang piala, tetapi dari bagaimana semangat
"Arema" tetap hidup dalam jemari anak-anak muda saat menyentuh
instrumen musik warisan leluhur. Dengan penyelenggaraan yang profesional, juri
yang jujur dan berintegritas, serta peserta yang penuh dengan imajinasi
kreatif, ajang FLS3N tahun ini terasa lebih bernyawa dan memberikan harapan
cerah bagi masa depan musik tradisional Indonesia di kancah yang lebih luas.
Kini, langkah SMAN 5 Malang menuju tingkat provinsi menjadi tumpuan harapan
bagi seluruh elemen pegiat seni di Kota Malang agar prestasi musik tradisional
Bumi Arema dapat terus bergema hingga tingkat nasional.
Konteributor:
Cak Marsam

Posting Komentar untuk "SMAN 5 Malang Puncaki Ekspresi Kreativitas Musik Tradisional FLS3N 2026"