![]() |
| Sanggar Manunggaling Rasa (Foto ist.) |
Damariotimes.
KEPANJEN – Lebaran di tanah Jawa tak pernah
sekadar soal ritual ibadah, ia adalah momentum penguatan kohesi sosial melalui
tradisi khas nusantara: Halal Bihalal. Akar tradisi ini unik, karena hanya
tumbuh subur di Indonesia sebagai jembatan silaturahmi yang meleburkan
sekat-sekat ego dalam balutan maaf. Suasana hangat inilah yang kental terasa
saat keluarga besar Sanggar Manunggaling Rasa berkumpul di kediaman Ibu Hj.
Tutik Widyawati, Cepoko Mulyo, Kepanjen.
Belum
usai sisa kebahagiaan saat bertemu di Rumah Makan Bojana Puri bersama Cak
Samadiyanto sehari sebelumnya, momentum kebersamaan itu berlanjut pada Minggu,
12 April 2026. Kali ini, Sanggar Manunggaling Rasa menjadi saksi betapa seni
karawitan dan nilai spiritualitas Idul Fitri mampu berpadu dalam harmoni yang
indah.
Dari
Uyon-Uyon Menuju Ruang Maaf
Suasana
pagi di Jalan Suko itu riuh dengan suara gamelan. Sebagaimana ajakan Ibu Hj.
Tutik Widyawati, para anggota hadir sejak pukul sembilan pagi layaknya latihan
rutin. Mereka "bersenang-senang" melalui uyon-uyon,
melantunkan gending-gending Jawa klasik hingga lagu dolanan karya maestro Ki
Narto Sabdo yang telah diajarkan oleh Pak Samad.
Namun,
karena masih dalam nuansa Syawal, latihan rutin ini bertransformasi menjadi
majelis ilmu dan silaturahmi. Sebelum sesi makan bersama dimulai, Ki Marsudi
memandu jalannya acara dengan mengajak seluruh hadirin duduk melingkar. Ibu Hj.
Tutik Widyawati selaku tuan rumah memberikan sambutan hangat, disusul oleh
"ular-ular" (nasihat bijak) bernuansa Idul Fitri dari Ketua Ngesti
Raras, Ki Kingsus Sungkowo.
Suasana
semakin khidmat saat Abah Pentil memimpin doa, memohon keberkahan ilmu,
kesehatan, dan umur yang barokah bagi seluruh keluarga besar sanggar. Di tengah
sela-sela latihan, agenda pementasan wayang pada 2 Mei 2026 oleh Kelompok
Pedalangan Ngesti Raras pun turut dimatangkan, menunjukkan bahwa kreativitas
seni tidak berhenti meski di hari raya.

sambung rasa antar anggota sanggar (Foto ist.)
Gotong
Royong: Spirit "Saling Pengertian"
Hal
yang paling menyentuh dari pertemuan di sanggar yang terletak di depan Pasar
Sumedang ini adalah tegaknya budaya "saling pengertian". Ibu Hj.
Tutik dikenal sebagai sosok ketua yang dermawan; beliau tak pernah menetapkan
iuran yang memberatkan anggotanya, bahkan seringkali merogoh kocek pribadi
untuk keberlangsungan acara.
Namun,
spirit gotong royong khas Indonesia justru muncul secara organik. Tanpa
diminta, para anggota datang berbondong-bondong membawa hantaran masakan
terbaik dari dapur masing-masing. Meja perjamuan pun penuh dengan sayur lodeh,
ayam bumbu kecap, sambal goreng, hingga pala pendem rebus. Inilah wujud
nyata bahwa kerukunan telah mengakar kuat di Manunggaling Rasa, membuat
hubungan antaranggota terasa erat layaknya saudara kandung.
Laboratorium
Kreativitas Cak Samadiyanto
Sanggar
ini bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan laboratorium budaya tempat Cak
Samadiyanto menumpahkan seluruh kreativitasnya. Di setiap Rabu dan Minggu,
denting bonang dan sekaran indah ditransfer kepada generasi muda. Di sini pula,
sinden-sinden berbakat ditempa dengan kesungguhan.
Halal
Bihalal di Sanggar Manunggaling Rasa membuktikan bahwa melestarikan budaya
bukan hanya soal menjaga bunyi gamelan tetap nyaring, tetapi juga menjaga hati
tetap bening melalui jalinan silaturahmi yang tulus. Di Kepanjen, seni dan budi
pekerti nyatanya memang tidak bisa dipisahkan.
Konteributor: Cak Marsam

Posting Komentar untuk "Hangatnya Halal Bihalal di Sanggar Manunggaling Rasa Kepanjen Malang"