Dialektika Epistemologis dalam Studi Budaya: Membedah Pendekatan, Teori, dan Metode pada Konstruksi Identitas Kultural Seni Pertunjukan Rakyat di Kota Batu


Bantengan sebagai seni pertunjukan rakyat di kota Batu (Foto ist.)


Damariotimes. Dalam diskursus metodologi penelitian kualitatif, sering kali terjadi tumpang tindih pemahaman antara ranah pendekatan, teori, dan metode. Ketiganya merupakan pilar dasar yang membangun pemikiran ilmiah, namun memiliki fungsi dan derajat abstraksi yang berbeda. Pendekatan berfungsi sebagai paradigma atau sudut pandang luas yang menentukan arah pengamatan, teori bertindak sebagai cara pandang konseptual untuk menjelaskan fenomena, sementara metode adalah prosedur teknis yang digunakan mengumpulkan serta menganalisis data. Dalam konteks penelitian bertajuk Konstruksi Identitas Kultural Dalam Seni Pertunjukan Rakyat: Kajian Performatif, Genealogis Budaya, dan Hegemoni di Kota Batu, diferensiasi ketiga aspek ini menjadi krusial untuk membedah tentang identitas lokal dinegosiasikan di tengah arus modernitas.

Pendekatan merupakan langkah awal yang menentukan cara peneliti memposisikan dirinya terhadap objek kajian. Dalam judul penelitian tersebut, pendekatan yang digunakan bersifat multidisipliner yang berakar pada studi kebudayaan atau cultural studies. Pendekatan ini tidak melihat seni pertunjukan rakyat hanya sebagai entitas estetis semata, melainkan sebagai arena kontestasi makna dan kekuasaan. Dengan menggunakan pendekatan ini, peneliti memandang Kota Batu sebagai sebuah ruang diskursif atau tempat identitas kultural diproduksi dan direproduksi. Pendekatan ini memberikan payung besar bagi peneliti untuk masuk ke dalam kompleksitas dinamika social;  seni pertunjukan dipahami sebagai teks budaya yang merepresentasikan suara-suara masyarakat marginal maupun narasi dominan.

Bergerak ke tingkat yang lebih spesifik, teori berfungsi sebagai instrumen analitis untuk membedah data yang ditemukan di lapangan. Dalam penelitian ini, terdapat tiga lapis teori utama yang saling tumpeng tindih: performativitas, genealogis, dan hegemoni. Teori performativitas, sering dikaitkan dengan pemikiran Judith Butler atau Richard Schechner, digunakan melihat tentang identitas kultural di Kota Batu tidak bersifat kodrati atau tetap, melainkan sesuatu yang "ditarikan" atau dipraktikkan secara berulang melalui panggung pertunjukan rakyat. Identitas tersebut dikonstruksi melalui gerak, kostum, dan interaksi aktor.

Sementara itu, teori genealogis budaya yang terinspirasi dari pemikiran Michel Foucault digunakan menelusuri asal-usul dan transformasi seni pertunjukan. Teori ini tidak mencari titik awal yang asasi, melainkan melacak jejak-jejak diskontinuitas dan tentang narasi sejarah seni rakyat di Kota Batu yang dipengaruhi oleh perubahan rezim sosial dan politik dari masa ke masa. Terakhir, teori hegemoni dari Antonio Gramsci diterapkan untuk menganalisis tentang seni pertunjukan rakyat menjadi alat bagi kelompok dominan untuk menanamkan pengaruhnya, atau sebaliknya, tentang seniman rakyat yang melakukan resistensi terhadap dominasi budaya global atau kebijakan pemerintah daerah yang cenderung melakukan komodifikasi seni pertunjukan demi kepentingan pariwisata.

Diferensiasi terakhir terletak pada metode, yang merupakan tataran praktis dari riset. Jika pendekatan adalah cara pandang dan teori adalah pisau analisis, maka metode adalah teknik pembedahannya. Dalam penelitian mengenai seni pertunjukan di Kota Batu ini, metode yang relevan adalah kualitatif dengan teknik etnografi. Metode ini melibatkan observasi partisipatoris, di mana peneliti terlibat langsung dalam proses latihan atau pementasan seni untuk merasakan aura performatif secara empiris. Selain itu, digunakan pula metode wawancara mendalam dengan para maestro seni pertunjukan, pemangku kebijakan, dan penonton untuk menggali data mengenai persepsi identitas. Analisis data dalam metode ini tidak dilakukan secara numerik, melainkan melalui interpretasi tekstual dan kontekstual, menghubungkan antara apa yang terlihat di panggung (performa) dengan apa yang terjadi di balik layar (relasi kuasa dan sejarah).

Sebagai contoh kasus konkret dalam judul tersebut, orang dapat melihat seni Bantengan atau Jaran Kepang di Kota Batu. Melalui pendekatan studi budaya, dengan pertanyaan "apa itu Bantengan?", akan tetapi "siapa yang memiliki otoritas untuk mendefinisikan Bantengan yang asli?". Dengan menggunakan teori performativitas, peneliti menganalisis tentang seorang pemuda di Batu merasa menjadi "orang Jawa" yang otentik saat ia mengalami trans (kesurupan) dalam pertunjukan. Secara genealogis, peneliti melacak tentang seni pertunjukan yang  bertahan dari tekanan stigma politik masa lalu hingga menjadi ikon pariwisata pada saat ini. Bahkan melalui teori hegemoni, peneliti melihat apakah standarisasi estetika oleh pemerintah kota untuk kebutuhan festival pariwisata telah menggerus nilai-nilai sakral yang dimiliki komunitas lokal. Semua ini dikerjakan dengan metode observasi lapangan dan dokumentasi sejarah yang ketat.

Secara komprehensif, keterkaitan antara pendekatan, teori, dan metode dalam penelitian ini membentuk kesatuan yang harmonis. Pendekatan memberikan visi, teori memberikan kedalaman intelektual, dan metode memberikan bukti empiris. Tanpa pemisahan yang jelas (hal ini memang perlu digaris bawahi), penelitian ini hanya dapat menjadi deskripsi permukaan yang kehilangan daya kritisnya. Dengan mengintegrasikan ketiganya, kajian terhadap konstruksi identitas kultural di Kota Batu mampu mengungkap lapisan-lapisan tersembunyi di balik gemerlap seni pertunjukan rakyat, menjadikannya karya ilmiah yang bersifat transformatif bagi pemahaman budaya kontemporer di Kota Batu.

 

Penulis: R.Dt.

 

1 komentar untuk "Dialektika Epistemologis dalam Studi Budaya: Membedah Pendekatan, Teori, dan Metode pada Konstruksi Identitas Kultural Seni Pertunjukan Rakyat di Kota Batu"

  1. dari artikel diatas kita dapat mengerti penjelasan dari "Dialektita Epistemologis dalam Studi Budaya: Membedah Pendekatan, Teori, dan Metode pada Konstruksi Identitas Kultural Seni Pertunjukan Rakyat di Kota Batu

    BalasHapus