![]() |
| Komodivikasi wacana (sumber AI) |
Damariotimes.
Bahasa, pada dasarnya, adalah alat primordial manusia untuk membangun jembatan
antar-pikiran. Sejak manusia pertama kali mampu merangkai suara menjadi makna,
fungsi utama bahasa adalah komunikasi, pemaknaan dunia, dan penyambung tali
sosial. Namun, dalam kurun waktu yang panjang, fungsi ini mengalami pergeseran
radikal. Kita kini hidup di era di mana bahasa dan wacana bukan lagi sekadar
alat untuk bertukar gagasan, melainkan telah menjadi komoditas—sebuah objek
yang diproduksi, dikemas, dan dipertukarkan demi keuntungan ekonomi. Fenomena
ini dikenal sebagai komodifikasi wacana.
Komodifikasi
wacana bukan sekadar tren sesaat; ia adalah bentuk "pemungsian"
bahasa yang mengikuti perkembangan evolusi peradaban manusia. Untuk memahami
bagaimana wacana berubah dari sekadar media ekspresi menjadi aset kapital, kita
perlu menelusuri lintasan historisnya.
Bahasa
sebagai Milik Bersama
Dalam
masyarakat lisan (oral), wacana bersifat komunal dan kontekstual. Kata-kata
yang diucapkan adalah peristiwa yang hadir saat itu juga. Nilai dari sebuah
wacana terletak pada kebenaran, kebijaksanaan, dan relevansinya bagi komunitas.
Belum ada upaya untuk memisahkan wacana dari penuturnya atau menjualnya secara
terpisah. Bahasa berada dalam ruang "nilai guna" murni; ia digunakan
karena kita perlu berkomunikasi untuk bertahan hidup. Pada masa ini,
komodifikasi hampir mustahil terjadi karena bahasa tidak memiliki bentuk fisik
yang bisa dikumpulkan, disimpan, atau diperdagangkan secara massal.
Standarisasi
dan Awal Komodifikasi
Titik
balik pertama terjadi dengan ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg
pada abad ke-15. Penemuan ini mengubah bahasa dari peristiwa oral yang fana
menjadi teks yang permanen dan dapat digandakan. Di sinilah bibit komodifikasi
mulai tumbuh.
Ketika
teks dapat diproduksi secara massal, bahasa mulai distandarisasi untuk memenuhi
kebutuhan pasar. Buku, pamflet, dan surat kabar menjadi produk. Wacana yang
tertulis di dalamnya membawa nilai tukar. Penulis, penerbit, dan distributor
mulai melihat bahwa kualitas bahasa, pemilihan diksi yang bombastis, dan isu
yang "menjual" dapat meningkatkan sirkulasi. Bahasa mulai diposisikan
sebagai alat untuk menarik audiens, dan di situlah wacana mulai diproduksi
untuk memenuhi selera pasar, bukan sekadar menyampaikan realitas.
Ekonomi
Perhatian dan Komodifikasi Total
Loncatan
terbesar terjadi pada akhir abad ke-20 hingga era internet saat ini. Di era
digital, komodifikasi wacana mencapai puncaknya melalui apa yang disebut
sebagai attention economy (ekonomi perhatian).
Dalam
ekosistem algoritma media sosial, wacana telah sepenuhnya terfragmentasi
menjadi data. Setiap unggahan, tweet, komentar, dan video pendek diproduksi
dengan satu tujuan utama: engagement. Bahasa tidak lagi dinilai
berdasarkan kedalaman filosofis atau kebenaran faktualnya, melainkan
berdasarkan seberapa banyak klik, suka, dan bagikan yang bisa dihasilkannya.
Wacana kini berfungsi seperti komoditas saham; nilainya naik turun berdasarkan
reaksi publik.
Fenomena
ini menciptakan bentuk pemungsian bahasa yang sangat pragmatis. Kita melihat
bagaimana bahasa politik, bahasa jurnalisme, bahkan bahasa percakapan
sehari-hari di internet, dirancang sedemikian rupa agar memicu emosi. Emosi
adalah bahan bakar utama dalam algoritma. Jika sebuah wacana tidak mampu memicu
kemarahan, tawa, atau kekaguman instan, ia dianggap "gagal" dalam
pasar digital. Inilah komodifikasi wacana dalam bentuknya yang paling murni:
bahasa dipangkas, disederhanakan, dan dipoles agar mudah dikonsumsi dalam
hitungan detik.
Implikasi
Pemungsian Wacana
Pemungsian
bahasa sebagai komoditas membawa konsekuensi serius. Pertama, terjadi erosi pada objektivitas. Ketika wacana diproduksi
untuk dijual atau untuk meraih perhatian, kebenaran sering kali menjadi korban
sekunder. Fakta yang membosankan kalah bersaing dengan narasi yang sensasional
namun memicu atensi.
Kedua, terjadi homogenisasi pemikiran. Algoritma cenderung
menyodorkan wacana yang serupa dengan apa yang sudah dikonsumsi pengguna
(filter bubble). Bahasa kemudian menjadi alat untuk memperkuat prasangka (echo
chamber), bukan untuk membuka ruang dialog antar-pemikiran yang berbeda.
Ketiga, ada pergeseran peran subjek bahasa. Kita tidak lagi
menjadi komunikator yang sadar, melainkan menjadi "konten kreator"
yang terus-menerus menuntut validasi. Identitas diri kita—yang seharusnya
bersifat cair dan kompleks—terkunci dalam citra (brand) yang kita bangun
melalui bahasa yang kita tampilkan di ruang publik digital.
Menuju
Masa Depan
Komodifikasi
wacana adalah cermin dari kapitalisme yang terus berevolusi. Ia menunjukkan
bahwa manusia memiliki kemampuan luar biasa untuk mengintegrasikan alat
komunikasi ke dalam sistem ekonomi mereka. Namun, kita harus sadar bahwa ketika
bahasa sepenuhnya dikuasai oleh logika komoditas, kita berisiko kehilangan
kemampuan untuk memahami satu sama lain.
Memahami
sejarah ini adalah langkah awal untuk "mengembalikan" fungsi bahasa.
Kita perlu melatih diri untuk menjadi konsumen wacana yang kritis, tidak mudah
terhanyut oleh narasi yang dirancang sekadar untuk memanen atensi, dan berani
menggunakan bahasa kembali ke fungsi asalnya: sebagai alat untuk menyambungkan
kemanusiaan kita, bukan sebagai alat untuk memperlebar jarak demi keuntungan
semata
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Evolusi Bahasa sebagai Mata Uang dalam Peradaban Modern"