![]() |
Dr. Suyanto, S.Kar., M.A. yang
mendalami filsafat wayang (Sumber AI)
|
Damariotimes.
Dunia pewayangan bukan sekadar panggung kayu dengan bayang-bayang yang menari
di balik kelir, melainkan sebuah samudra kearifan yang tak kunjung habis
diselami. Di tengah arus modernitas yang kian menderu, sosok Dr. Suyanto, S.Kar.., M.A., muncul sebagai mercusuar bagi pelestarian kearifan lokal. Ia
bukan sekadar akademisi yang berdiam diri di dalam menara gading, melainkan
seorang pengelana intelektual yang mendedikasikan hidupnya untuk membedah
anatomi nilai di balik narasi besar pewayangan, khususnya dalam langgam Jawa
Timuran yang kaya akan dinamika dan kejujuran rasa.
Perjalanan
intelektual Dr. Suyanto merupakan sebuah konsistensi yang patut diteladani.
Sebagai seorang dosen dan peneliti, ketajaman analisisnya tidak hanya terbatas
pada teks-teks kuno, tetapi juga pada bagaimana nilai-nilai tersebut bertransformasi
dalam kehidupan sosial masyarakat. Salah satu tonggak pencapaiannya yang paling
berpengaruh adalah ketika ia melakukan penelitian mendalam mengenai korelasi
antara seni pertunjukan dan pembentukan karakter bangsa. Hasil kerja kerasnya
ini kemudian dibukukan dengan judul Pendidikan Budi Pekerti dalam
Pertunjukan Wayang, sebuah karya monumental yang diterbitkan oleh SENAWANGI
bekerja sama dengan Total Indonesia pada tahun 2012. Dalam buku tersebut, ia
berhasil memetakan bagaimana setiap gerakan, dialog, hingga struktur
pertunjukan wayang sesungguhnya adalah kurikulum kehidupan yang mengajarkan
etika, tanggung jawab, dan harmoni.
Setelah
memasuki masa purna tugas, gairah Dr. Suyanto terhadap dunia pedalangan justru
semakin berkobar. Alih-alih memilih untuk beristirahat sepenuhnya, ia justru
memusatkan seluruh energi intelektualnya untuk mendalami filsafat wayang,
dengan fokus khusus pada wayang Jawa Timuran. Baginya, wayang Jawa
Timuran—terutama Gagrak Malangan—memiliki karakteristik filosofis yang unik
dibandingkan dengan gagrak Surakarta atau Yogyakarta. Ada semangat kerakyatan,
egaliterisme, dan spontanitas yang lebih lugas dalam setiap lakonnya.
Ketertarikan mendalam ini membawanya melahirkan karya praktis sekaligus
teoretis, yakni Buku Panduan Praktik Pedalangan Jawa Timuran Gagrak Malangan.
Buku ini kini menjadi rujukan utama bagi para dalang muda dan peneliti seni
pertunjukan yang ingin memahami teknik serta ruh dari tradisi yang begitu
spesifik ini.
Kepakaran
Dr. Suyanto dalam bidang filsafat wayang diakui secara luas di tingkat
nasional. Kapasitasnya sebagai seorang pemikir tidak hanya terwujud dalam
tulisan, tetapi juga dalam perannya di organisasi pewayangan paling bergengsi
di Indonesia. Ia dipercaya duduk sebagai penasehat di Persatuan Pedalangan
Indonesia (Pepadi) dan Sekretariat Nasional Wayang Indonesia (Senawangi). Di
sana, ia berperan sebagai penjaga kompas moral dan intelektual, memastikan
bahwa pengembangan wayang tidak hanya berhenti pada aspek estetika semata,
tetapi tetap berpijak pada nilai-nilai filosofis yang mendasarinya. Ia sering
menekankan bahwa tanpa filsafat, wayang hanyalah tontonan; namun dengan
filsafat, wayang menjadi tuntunan.
Jika
menilik lebih dalam pada artikel-artikel ilmiah dan esai-esai pendukung yang ia
tulis, tampak jelas bahwa Dr. Suyanto melihat wayang sebagai cermin kosmis.
Dalam pandangannya, pertunjukan wayang adalah mikrokosmos dari pergulatan batin
manusia dalam mencari kebenaran sejati. Wayang Jawa Timuran, dengan
tokoh-tokohnya yang seringkali tampil lebih manusiawi dan penuh humor namun
tetap sarat pesan moral, dianggap sebagai media yang paling tepat untuk
menyuarakan suara hati masyarakat kecil. Melalui tulisannya, ia mengajak
pembaca untuk tidak sekadar melihat wayang sebagai benda mati, melainkan
sebagai organisme hidup yang terus bernapas melalui narasi kemanusiaan yang
dibawakannya.
Dedikasi
Dr. Suyanto juga terlihat dari upayanya mendokumentasikan teknik-teknik
pedalangan yang mulai langka. Selain buku panduan gagrak Malangan, ia aktif
menulis jurnal-jurnal tentang simbolisme dalam seni kriya wayang dan fungsi
sosial pertunjukan di pedesaan Jawa Timur. Ia percaya bahwa untuk mencintai
budaya, seseorang harus memulainya dengan pemahaman. Oleh karena itu, ia tak
lelah menyusun diktat dan materi ajar yang dapat diakses oleh generasi milenial
dan Gen Z, dengan bahasa yang tetap berbobot namun relevan dengan konteks zaman
sekarang.
Kehadiran
sosok seperti Dr. Suyanto memberikan harapan besar bagi masa depan kebudayaan
Indonesia. Di tangan seorang pakar yang memadukan keahlian akademis dengan
kecintaan tulus terhadap tradisi, filsafat wayang tidak lagi dianggap sebagai
ilmu yang "kuno" atau "sulit dipahami". Sebaliknya, ia
berhasil menerjemahkan kerumitan filsafat tersebut menjadi butir-butir hikmah
yang mudah diserap oleh siapa saja yang ingin belajar tentang budi pekerti.
Perjalanan hidupnya adalah bukti bahwa purna tugas bukanlah akhir dari sebuah
kontribusi, melainkan babak baru untuk memberikan sumbangsih yang lebih murni
dan mendalam bagi peradaban bangsa.
Sebagai
penutup, karya-karya Dr. Suyanto, mulai dari penelitian pendidikan karakter
hingga panduan praktik pedalangan, merupakan warisan intelektual yang sangat
berharga. Ia telah membuktikan bahwa wayang, khususnya tradisi Jawa Timuran,
adalah sebuah entitas intelektual yang layak dipelajari secara serius di
panggung dunia. Melalui tangan dingin dan pikiran jernihnya, filosofi bayangan
itu kini semakin terang benderang, menuntun kita untuk kembali mengenali jati
diri sebagai manusia yang berbudi luhur dan berbudaya.
Konteributor: Cak Marsam.

Inspiratif motivatif penting untuk dibaca dan dipelajari.
BalasHapusWayang adalah wewayangane agesang Seni Pedalangan didalamnya terdapat multi yang berisi tentang nilai nilai sejarah moral spiritual dan kearifan lokal yang menjadi sarana membangun kesadaran anak bangsa.
Seni pedalangan didalamnya terdapat kandungan multi Seni yang bisa mencerdaskan anak bangsa
BalasHapus