Dr. Suyanto dan Diplomasi Budaya Wayang Jawa Timuran di Panggung Dunia


Dr. Suyanto, S.Kar., M.A., seorang akademisi sekaligus praktisi seni pedalangan (Foto ist.)


Damariotimes. Di tengah kemegahan rumah-rumah joglo yang berderet di Surakarta, kota yang dikenal sebagai jantung budaya Jawa, menetaplah seorang pria dengan semangat yang tak pernah padam untuk tanah kelahirannya di Jawa Timur. Beliau adalah Dr. Suyanto, S.Kar., M.A., seorang akademisi sekaligus praktisi seni yang telah menorehkan tinta emas dalam sejarah pendidikan seni di Indonesia. Langkah besar yang beliau ambil pada tahun 2008 bukan sekadar kebijakan kurikulum biasa, melainkan sebuah revolusi kebudayaan yang mengangkat martabat Pedalangan Jawa Timuran ke level akademis di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta. Bagi masyarakat seniman di Jawa Timur, sosok Dr. Suyanto adalah pahlawan sunyi yang berhasil membawa suara perkusi gamelan Malangan dan dialek khas pesisiran yang lugas masuk ke dalam ruang-ruang kuliah yang prestisius, menjadikannya sebuah kajian ilmiah yang setara dengan tradisi pedalangan lainnya.

Lahir di bawah naungan langit Bumi Kanjuruhan pada 13 Agustus 1960, Suyanto kecil bukanlah anak yang lahir dari trah atau garis keturunan dalang. Namun, nasib seolah telah menenun jalannya melalui gelombang udara radio. Pada dekade 1970-an, di sebuah sudut Desa Pagelaran, ia kerap terpaku mendengarkan siaran pedesaan dari Radio Wonocolo. Di sanalah, suara megah Sang Maestro Ki Narto Sabdo merasuk ke dalam jiwanya, memantik api kecintaan terhadap seni pedalangan yang begitu hebat. Rasa ingin tahu yang membuncah membawanya berguru langsung pada para legenda Wayang Malangan seperti Ki Wuryan Wedhar Carita, Ki Paimin, dan Ki Kartono. Dari ketiga empu inilah, Suyanto tidak hanya belajar teknik menggerakkan wayang, tetapi juga menyerap filosofi hidup yang mendalam tentang bagaimana sebuah tradisi harus dijaga dengan kehormatan tinggi.

Ketekunannya membawanya merantau ke Surakarta pada tahun 1981 untuk menimba ilmu di Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI), yang kini telah bertransformasi menjadi ISI Surakarta. Di sana, ia bukan hanya menjadi mahasiswa yang cakap, tetapi juga seorang pembelajar yang visioner. Dr. Suyanto menyadari bahwa kekayaan seni dari Jawa Timur, khususnya Wayang Gagrak Malangan, memiliki kompleksitas estetika yang luar biasa namun sering kali dipandang sebelah mata sebagai sekadar hiburan pedesaan. Dengan kemampuan menari Remo yang lincah dan penguasaan teknik pedalangan yang mumpuni, ia kemudian dipercaya menjadi pengajar. Namun, dahaga intelektualnya tidak berhenti di sana. Ia melintasi samudera menuju University of Sydney, Australia, untuk meraih gelar Master of Arts, sebuah perjalanan yang semakin memantapkan posisinya sebagai intelektual seni yang berwawasan global.

Puncak pencapaian akademisnya diraih saat ia menyelesaikan studi doktoral di Program Studi Ilmu Filsafat Universitas Gadjah Mada. Disertasinya yang berjudul Metafisika dalam Lakon Wahyu Mahkutharama Relevansinya Bagi Kepemimpinan menunjukkan kedalaman pemikirannya dalam membedah nilai-nilai kepemimpinan melalui kacamata wayang. Dr. Suyanto membuktikan bahwa wayang bukan sekadar tontonan, melainkan sebuah tuntunan filosofis yang masih sangat relevan untuk tata kelola kepemimpinan modern. Berbekal gelar doktor dan pengalaman internasional, ia sering kali didapuk menjadi juri dan narasumber di berbagai forum nasional maupun internasional, membawa nama besar Malang ke kancah yang lebih luas.

Momentum paling bersejarah terjadi pada tahun 2008, ketika ia berhasil menginisiasi masuknya Pedalangan Jawa Timuran sebagai mata kuliah wajib di Jurusan Pedalangan Fakultas Seni Pertunjukan ISI Surakarta. Ini adalah karya spektakuler yang mahal nilainya. Melalui langkah cerdas ini, Wayang Jawa Timuran yang tadinya hanya bergaung di pelosok desa, kini dibedah oleh para peneliti, didiskusikan oleh para sarjana, dan dipraktikkan oleh mahasiswa dari berbagai penjuru dunia. Dr. Suyanto telah berhasil memindahkan "ruh" Bumi Arema ke Ibu Kota Budaya Surakarta tanpa menghilangkan jati dirinya. Ia membuktikan bahwa untuk melestarikan tradisi, seseorang tidak boleh hanya berdiam diri, melainkan harus berani melakukan migrasi pemikiran ke arah yang lebih intelektual dan sistematis.

Di kediamannya yang asri di Jalan Kartika 6, Ngoresan, Jebres, gema gamelan tak pernah berhenti bersuara. Rumah tersebut telah menjelma menjadi laboratorium seni bagi para mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan tugas akhir. Dengan tangan terbuka, Dr. Suyanto membimbing generasi muda, memastikan bahwa teknik dan rasa dalam karawitan maupun pedalangan tetap terjaga kemurniannya. Jiwa rumangsa handarbeni atau merasa ikut memiliki kesenian daerah yang ia tanamkan sejak kecil kini ia bagikan kepada setiap anak didiknya. Baginya, perjuangan ini adalah sebuah pengabdian suci untuk memastikan bahwa identitas budaya leluhurnya tidak akan hilang ditelan zaman.

Kepeduliannya terhadap sesama perantau dari Jawa Timur juga diwujudkan secara nyata. Pada tahun 2019, ia memotori terbentuknya Komunitas Arek Jawa Timur di Surakarta (ARJASURA), yang kini telah resmi berbadan hukum sebagai Yayasan ARJASURA di bawah Kemenkumham RI. Organisasi ini menjadi wadah silaturahmi sekaligus pilar penguat bagi warga Jawa Timur di tanah rantau untuk tetap mencintai akar budayanya. Dr. Suyanto adalah simbol dari seorang "Arema" sejati: berani, ulet, dan memiliki integritas tinggi.

Kini, pada April 2026, memori akan wejangan para guru besar seperti Swargi Ki Manteb Soedharsono dan Ki Ageng Anom Suroto terus ia bawa dalam setiap langkahnya. Dalam acara Bawa Rasa di hadapan para dalang kondang dan mahasiswa, Dr. Suyanto masih dengan gagah menampilkan Wayang Gagrak Malangan. Penampilannya bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan sebuah pernyataan bahwa seni tradisional memiliki daya hidup yang abadi jika dikelola dengan ketulusan dan kecerdasan. Dari Desa Pagelaran yang terkenal dengan kerajinan grabahnya, Dr. Suyanto telah melampaui batas geografis, membawa nama harum Malang dan Jawa Timur agar tetap hidup, bernapas, dan dikenal oleh masyarakat intelektual di seluruh jagat raya. Beliau bukan hanya seorang dosen, melainkan penjaga nyala api kebudayaan yang memastikan cahaya Wayang Jawa Timuran tetap benderang di masa depan.

 

Konteributor: Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Dr. Suyanto dan Diplomasi Budaya Wayang Jawa Timuran di Panggung Dunia"