Spirit Almarhum Sutak Wardiono dan Wangsit Lakon Walang Wati di Pendopo Dewan Kesenian Malang (DKM).

 

Seniman-seniman wayang topeng Malang Umbul Dongo untuk almarhum Sutak (Foto ist,)


Damariotimes. Suasana di Pendopo Dewan Kesenian Malang pada Minggu, 29 Maret 2026, terasa jauh lebih khidmat sekaligus menyayat hati dibandingkan keramaian biasanya. Aroma harum nasi tumpeng yang berpadu dengan wangi dupa tipis seolah menjadi jembatan antara dunia nyata dan alam keabadian. Hari itu bukan sekadar kumpul-kumpul seniman biasa, melainkan sebuah peristiwa budaya yang sarat akan air mata, penghormatan, dan janji untuk meneruskan sebuah warisan yang nyaris terputus. Tumpengan ini menjadi saksi bisu dimulainya proses kreatif lakon Walang Wati Walang Sumirang, sebuah naskah yang menjadi napas terakhir dari sang maestro teater Malang, almarhum Sutak Wardiono.

Beberapa hari sebelum kepergiannya yang mendadak, Sutak seolah sedang melakukan perjalanan spiritual "pamitan" yang tidak disadari oleh rekan-rekannya. Ia terlihat sangat sibuk, mondar-mandir dari Kedungmonggo hingga ke Tumpang dengan energi yang meluap-luap. Fenomena njanur gunung atau kejadian langka terjadi ketika ia tiba-tiba muncul di kediaman Ki Soleh Adi Pramono di Padepokan Seni Mangun Dharma. Ki Soleh sempat terheran-heran, sebab sudah sepuluh tahun lamanya Sutak tidak menginjakkan kaki di sana. Namun, di balik keheranan itu, tersimpan misi mulia. Menurut penuturan Kamal dan Sindu, sahabat dekatnya, Sutak datang untuk memohon izin dan doa restu demi sebuah ambisi besar: mementaskan lakon sakral Walang Wati Walang Sumirang pada bulan Agustus mendatang.

Naskah ini bukanlah karya semalam. Sutak menghabiskan waktu tujuh bulan lamanya untuk bergulat dengan kata-kata, meramu filosofi, dan membedah esensi cerita yang bersumber dari Wayang Topeng tersebut. Bahkan, sebelum pena menyentuh kertas, diskusi panjang selama lebih dari satu bulan telah dilakukan. Setiap hari Rabu, para seniman berkumpul demi membedah lakon yang jarang dipentaskan ini. Sutak memiliki visi yang unik; ia tidak ingin menyajikan Wayang Topeng dalam bentuk pakem tari tradisional. Ia menggagas sebuah pertunjukan teater modern yang tetap memegang teguh spirit Ludruk. Sebuah eksperimen berani yang ingin membawa Walang Wati Walang Sumirang ke dalam ruang interpretasi yang lebih kontemporer namun tetap memiliki akar tradisi yang kuat.

Keinginan terakhir Sutak untuk menggelar tumpengan di rumah Punden, Karang Pandan, Kedungmonggo, sempat menjadi teka-teki. Ia bersikeras bahwa pertemuan dengan tokoh senior seperti Cak Suroso tidak boleh dilakukan di tempat lain. Kini, para seniman baru menyadari bahwa rentetan kunjungan ke Padepokan Seni Mangun Dharma dan Sanggar Wayang Topeng Asmara Bangun adalah rangkaian salam perpisahan yang puitis. Sutak seolah sedang merapikan jalan bagi naskahnya agar tetap hidup meskipun raga sang penulis telah tiada.

Acara selamatan yang berlangsung di pendopo tersebut dipimpin langsung oleh Kamal M.Sn., seorang tokoh teater muda Malang yang juga tengah mendalami lakon ini untuk tesis S2-nya. Suasana berubah menjadi sangat emosional ketika Kamal berdiri di depan hadirin. Dengan raut muka berkaca-kaca dan kalimat yang keluar secara patah-patah karena menahan sesak di dada, ia membuka prosesi tersebut. Sebelum menyampaikan sambutannya, Kamal meminta Cak Suroso untuk memimpin Ujub dan Ikral—sebuah tradisi lisan untuk menyampaikan maksud dan tujuan hajat tersebut kepada Sang Pencipta. Suasana seketika hening, hanya terdengar suara doa yang merayap di sela-sela tiang pendopo, mengirimkan Al-Fatihah bagi ketenangan jiwa Sutak Wardiono di keabadian.

Puncak acara ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Kamal, yang kemudian diserahkan kepada tokoh Ludruk senior, Cak Wito HS. Penyerahan potongan tumpeng ini menjadi simbol estafet semangat dari generasi ke generasi, sebuah penegasan bahwa visi Sutak Wardiono tentang teater modern berspirit Ludruk tidak akan mati. Setelah sesi makan bersama yang penuh dengan obrolan nostalgia tentang sosok almarhum, panggung kecil di pendopo mulai bergetar oleh energi kreatif yang baru.

Sebagai penutup sekaligus pembuka proses latihan yang panjang, dua calon pemain muda, Bhisma dan Ismaya Priska, diminta untuk menunjukkan kebolehan mereka. Di bawah tatapan mata para senior yang penuh harap, mereka mulai melontarkan dialog-dialog tajam dari naskah Walang Wati Walang Sumirang. Akting dan penghayatan mereka seolah menghadirkan kembali sosok Sutak di tengah-tengah kerumunan. Meskipun sang sutradara telah pergi mendahului, naskahnya kini telah menemukan "tubuh" baru untuk bersuara. Di Pendopo Dewan Kesenian Malang hari itu, duka memang masih terasa, namun api kreativitas yang disulut oleh almarhum Sutak Wardiono justru sedang berkobar lebih terang dari sebelumnya, bersiap menuju panggung Agustus yang dinanti.

 

Konteributor: Cak Marsam

5 komentar untuk "Spirit Almarhum Sutak Wardiono dan Wangsit Lakon Walang Wati di Pendopo Dewan Kesenian Malang (DKM)."

  1. Nandita Rahmawati30 Maret 2026 pukul 04.46

    Artikel tersebut menjelaskan bahwa semangat almarhum Sutak Wardiono dalam melestarikan seni tradisional tetap hidup meskipun beliau telah wafat. Dedikasinya dalam dunia seni, seperti ludruk dan tari, menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk terus menjaga dan mengembangkan budaya lokal. Hal ini menunjukkan bahwa peran seniman sangat penting dalam mempertahankan identitas budaya di tengah perkembangan zaman.

    BalasHapus
  2. Membaca ulasan tentang Spirit Almarhum Sutak Wardiono ini seperti menghidupkan kembali denyut nadi kesenian di Malang. Lakon Walang Wati bukan sekadar tontonan, tapi 'wangsit' yang menjaga marwah DKM tetap menyala. Terima kasih sudah mengabadikan spirit beliau dalam catatan yang luar biasa ini.

    BalasHapus
  3. Naskah ini bukanlah karya semalam. Sutak menghabiskan waktu tujuh bulan lamanya untuk bergulat dengan kata-kata, meramu filosofi, dan membedah esensi cerita yang bersumber dari Wayang Topeng tersebut. Artikel ini sangat menarik

    BalasHapus
  4. Naslihna Fatimah Az Zahra30 Maret 2026 pukul 23.37

    Artikel ini menggambarkan bagaimana sosok almarhum Sutak Wardiono tidak hanya dikenang sebagai seniman, tetapi juga sebagai sumber inspirasi yang terus hidup dalam dunia kesenian, khususnya wayang topeng Malang. Penulis berhasil menghadirkan nuansa penghormatan sekaligus refleksi tentang pentingnya menjaga warisan budaya agar tetap lestari dan bermakna bagi generasi berikutnya.

    BalasHapus
  5. Sosok almarhum Surakarta Wardiono begitu berpengaruh dalam dunia kesenian terutama di Malang yang ciri khas dengan wayang topeng Malang

    BalasHapus