![]() |
| Cak Marsam pendiri Ludruk Sang Saka: Derita, Air Mata, dan pengorbanan orang tua (Foto ist.) |
Damariotimes.
Dunia panggung ludruk sering kali menyuguhkan gemerlap lampu petromaks yang
menipu mata penonton. Di balik gelak tawa pelawak dan kidungan yang merdu,
tersimpan sebuah riwayat perjuangan yang amat getir, sebuah memoar tentang
pengabdian tulus yang harus dibayar dengan air mata dan harta benda. Tokoh
sentral di balik narasi ini adalah Cak Marsam Hidayat, seorang seniman yang
memulangkan tekadnya dari Padepokan Seni Bagong Kussudiardjo di Yogyakarta,
bukan untuk mengejar estetika modern yang menjanjikan, melainkan untuk
menghidupkan kembali denyut nadi tradisi melalui sebuah kelompok yang ia beri
nama "Sang Saka".
Nama "Sang Saka" bukanlah sekadar identitas
kelompok kesenian biasa. Bagi Cak Marsam, nama itu adalah simbol merah putih
yang ia tancapkan dengan penuh kebanggaan di tanah Malang, Jawa Timur.
Pendirian Sang Saka lahir dari sebuah kegelisahan batin yang mendalam terhadap
ketimpangan sosial yang ia saksikan saat masih menjadi anggota ludruk PERSADA.
Ia merasakan betapa menyakitkan melihat jurang perbedaan upah yang lebar antara
pemain bintang dan para penabuh gamelan atau panjak. Dengan semangat untuk memanusiakan sesama
seniman, Sang Saka berdiri sebagai wadah harapan baru yang lebih adil, di mana
setiap peluh dihargai dengan rasa persaudaraan yang setara.
Perjuangan ini tidak dilakukan seorang diri. Cak Marsam
berhasil menghimpun para raksasa panggung pada masanya. Nama-nama legendaris
seperti Mak Kadam, Pak Amat sang pelawak Marhen, Pak Tamin, hingga Slamet
Riyadi atau Nety, menjadi pilar-pilar yang memperkokoh struktur Sang Saka.
Mereka adalah pasukan seni yang memiliki talenta luar biasa, membawa tawa dan
tangis ke tengah-tengah masyarakat dari satu desa ke desa lainnya, termasuk
kolaborasi dengan tokoh kuat seperti Mas Yono, Cak Wito, dan Sutak Wardiono.
Namun, mengelola kelompok ludruk yang besar dan mandiri
ternyata menjadi ujian hidup yang amat berat. Perjalanan Sang Saka dimulai dari
Pasar Plandi menuju Songsong, Singosari, hingga akhirnya tiba di Balai
Pertemuan Umum (BPU) Kemantren di Jabung. Di sinilah kisah mistis dan nestapa
mulai menyelimuti rombongan. Pemindahan barang dari Singosari ke Kemantren
dilakukan pada pukul satu dini hari dalam kondisi lelah yang luar biasa.
Sesampainya di lokasi, Cak Marsam bersama Mama Naryo dan Pak Kasmani—sang
tukang dekor—langsung merebahkan diri untuk tidur.
Namun, malam itu menjadi malam yang tidak akan pernah
terlupakan. Suasana mencekam menyergap BPU Kemantren. Sepanjang malam, telinga
mereka diteror oleh suara-suara aneh yang tak masuk akal; suara nung, brang, tit-tit, hingga bunyi kotekan atau pukulan berirama yang seolah-olah
dilakukan oleh kerumunan orang yang tak kasat mata. Ketiganya tidak bisa
memejamkan mata hingga pagi menjelang. Saat matahari terbit, rahasia di balik
kengerian itu terungkap. Ternyata, lokasi BPU tersebut berdekatan dengan makam
umum yang sangat keramat. Lebih mengejutkan lagi, papan yang rencananya akan
digunakan sebagai loket penjualan karcis ternyata adalah papan pendosa atau
keranda, dan drum yang ada di sana merupakan drum yang biasa digunakan untuk
memandikan jenazah. Aura mistis ini membawa dampak buruk pada pertunjukan;
selama seminggu penuh, panggung Sang Saka sepi penonton, seolah-olah masyarakat
enggan mendekati area yang dianggap "keramat" atau angker.
Gagal di Kemantren karena gangguan gaib dan sepinya
penonton, rombongan kemudian bergeser menuju Wonosari di lereng Gunung Kawi.
Namun, alih-alih mendapatkan keuntungan, mereka justru diterjang badai alam.
Setiap malam, hujan turun dengan derasnya tanpa henti, membuat panggung ludruk
tidak bisa dimainkan. Dalam situasi krisis ini, idealisme dan kemanusiaan Cak
Marsam benar-benar diuji. Meskipun tidak ada pemasukan dari penjualan tiket, ia
menolak membiarkan anggotanya kelaparan. Ia mendirikan dapur umum dan memberi
makan seluruh rombongan dengan menu sederhana; nasi, sayur lodeh, dan ikan
asin. Biaya operasional untuk menghidupi rombongan besar ini mulai menghisap
seluruh energi dan materi keluarga.
Puncaknya, Cak Marsam harus berhadapan dengan kenyataan pahit
bahwa sokongan finansial keluarganya mulai goyah seiring dengan perpindahan
tugas sang ayah. Ia pun berada di persimpangan jalan yang teramat sunyi antara
mempertahankan eksistensi Sang Saka atau menyelamatkan ekonomi keluarga. Dengan
berat hati, ia harus merelakan warisan orang tuanya ludes terjual. Kios megah
di pinggir jalan Kluwut yang dibangun dengan keringat sang ayah terpaksa
dilepas dengan harga yang sangat rendah demi menutup utang dan membiayai
operasional ludruk. Bahkan, tanah yang sedianya dipersiapkan untuk masa depan
anak-anaknya pun ikut terjual demi menjaga agar layar panggung Sang Saka tidak
menutup terlalu cepat.
Ironisnya, meski sempat meraih sukses besar di Tosari,
Tengger pada tahun 1987, beban finansial yang menumpuk tidak lagi bisa tertahan.
Sang Saka akhirnya harus menyerah pada keadaan sebelum genap satu tahun
berdiri. Pertunjukan terakhir berakhir dengan kesunyian yang menyayat hati.
Bekas-bekas perlengkapan ludruk diangkut kembali ke Plandi. Tragisnya, sebagian
kelir atau layar panggung
yang ia jual pun sering kali tidak dibayar oleh pembeli. Pemain-pemain hebat
itu akhirnya kembali ke asal masing-masing, meninggalkan Cak Marsam dengan
kenangan pahit dan pengorbanan harta benda yang tak ternilai harganya. Kini,
kisah Sang Saka tetap hidup sebagai saksi bisu betapa mahalnya harga sebuah
idealisme di panggung tradisi.
Penulis: Cak
Marsam

Posting Komentar untuk "Sang Saka: Kibaran Idealisme dan Air Mata di Balik Layar Panggung Ludruk di Malang"