![]() |
| Ki Hadi Siswoko, meneladani Hasta Brata (Foto ist.) |
Damariotimes.
Wewangian bunga gadung dan menur menyerbak lembut, berpadu dengan aroma
akar-akaran yang membangkitkan suasana magis. Di sudut sebuah Rumah gebyok ukiran Jepara yang berdiri gagah di Sumber Pucung, kepul asap dupa membumbung
pelan, mengiringi suara ada-ada yang mengumandang dengan cengkok dan gregel
sempurna. Di sanalah, Ki Hadi Siswoko, seorang dalang multitalenta sekaligus
Kepala Desa Sumber Pucung, merajut harmoni antara pengabdian negara dan
pelestarian tradisi.
Sejak
menjabat sebagai Kepala Desa pada tahun 2019, sosok Ki Hadi Siswoko telah
menjadi fenomena tersendiri di Kabupaten Malang. Ia bukan sekadar pejabat
publik yang duduk di belakang meja, melainkan seorang seniman yang menjadikan
panggung wayang sebagai mimbar peradaban. Baginya, menjadi pemimpin desa dan
menjadi dalang adalah dua sisi dari satu mata uang yang sama: pengabdian kepada
masyarakat.
![]() |
| KI Hadi Siswoko akan mengawali pergelaran wayang kulit (Foto ist.) |
Akar
Autodidak dan Kedalaman Spiritual
Lahir
pada tahun 1962, perjalanan seni Ki Hadi tidak dimulai dari bangku sekolah
formal kesenian. Ia adalah pembelajar alam yang tangguh. Ketertarikannya pada
dunia pedalangan bermula saat ia masih mengenyam pendidikan menengah atas. Kala
itu, ia kerap menghabiskan waktu mendengarkan rekaman kaset sang maestro, Ki
Sukarji dari Blitar. Salah satu lakon yang paling membekas di hatinya adalah Cekel
Endralaya.
Lakon
tersebut bukanlah sekadar hiburan, melainkan sarat akan ajaran Kawruh
Sangkan Paraning Dumadi—sebuah ilmu tentang asal-usul dan tujuan akhir
kehidupan manusia. Dari sinilah Ki Hadi memahami bahwa wayang kulit adalah
wahana pendidikan budi pekerti yang paling efektif bagi bangsa. Dengan
kecerdasan intelektual yang mumpuni, ia menerapkan metode niteni
(mengamati dengan saksama). Apa yang ia dengar dan lihat dari para seniornya
diserap, diolah, dan dikembangkan menjadi gaya pakeliran yang khas,
dinamis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.
Hasta
Brata: Landasan Memimpin Desa
Sebagai
Kepala Desa, Ki Hadi Siswoko dikenal sebagai sosok yang tegas namun mengayomi.
Rahasianya terletak pada filosofi Hasta Brata—delapan watak alam (bumi,
matahari, bulan, bintang, samudra, angin, api, dan air) yang menjadi pedoman
kepemimpinan Jawa klasik. Ia menyadari bahwa seorang pemimpin harus memiliki
kesabaran seluas samudra dan ketegasan sekuat api, namun tetap memberikan
kesejukan seperti embun pagi kepada rakyatnya.
Kemampuannya
dalam manajerial waktu patut diacungi jempol. Di siang hari, ia adalah abdi
negara yang disiplin mengurus administrasi dan pembangunan desa. Di malam hari,
ia bertransformasi menjadi sang narator semesta di bawah cahaya lampu blencong.
Kedisiplinan ini membuatnya disegani oleh rekan sejawatnya. Sebagai tokoh di
PEPADI (Persatuan Dalang Indonesia) Malang, ia bahkan menjadi satu-satunya
dalang yang memiliki jaringan luas hingga ke seluruh kepala desa se-Kabupaten
Malang. Hal ini memudahkan misinya dalam mempopulerkan kembali seni wayang di
tengah gempuran budaya modern.
Maestro
yang Membumi dan Komunikatif
Apa
yang membuat Ki Hadi Siswoko dinobatkan sebagai salah satu dalang terlaris di
Malang? Jawabannya terletak pada keluwesan sastra dan kemampuannya membangun
komunikasi dua arah dengan penonton. Ia tidak kaku. Dalam setiap adegan, baik
itu pasewakan yang formal maupun gara-gara yang jenaka, ia selalu
menyisipkan "joki-joki" atau banyolan segar yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari.
Namun,
di balik tawa penonton, Ki Hadi tidak pernah lupa menyisipkan pesan moral.
Baginya, adegan Limbukan atau Bodolan adalah momen emas untuk
mengedukasi masyarakat tentang pentingnya membangun karakter generasi muda. Ia
adalah sosok yang konsisten menempatkan seniman sepuh sebagai guru dan kompas
moralnya. Sikap rendah hati inilah yang membuatnya tetap relevan dan dicintai
oleh penggemar lintas generasi.
Menjaga
Nyala Api Tradisi
Perjalanan
Ki Hadi Siswoko dari panggung ke panggung desa di seluruh wilayah Kabupaten
Malang adalah bukti nyata bahwa budaya tidak akan punah jika dipeluk oleh
pemimpin yang tepat. Ia membuktikan bahwa jabatan politik bisa menjadi
katalisator bagi pelestarian seni. Wayang, di tangan Ki Hadi, bukan lagi
sekadar tontonan kuno, melainkan tuntunan hidup yang fleksibel mengikuti
keinginan zaman tanpa kehilangan jati dirinya.
Keteladanan
Ki Hadi Siswoko adalah sebuah pesan kuat bagi kita semua: bahwa modernitas
tidak harus membunuh tradisi. Dengan integritas sebagai abdi negara dan
dedikasi sebagai pekerja seni, ia terus berdiri tegak lurus berjuang
melestarikan warisan luhur bangsa. Di bawah gemerlap cahaya blencong dan
di tengah pengabdian desa, Ki Hadi Siswoko adalah bukti bahwa harmoni antara
kekuasaan dan kebudayaan adalah kunci menuju bangsa yang berkarakter.
Konteributor: Cak Marsam


Posting Komentar untuk "Meneladani Hasta Brata dalam Langkah Ki Hadi Siswoko"