Jejak Langkah Sinden Pria bernama Lugas menjadi Sosok Penjaga Tradisi Jawa



Lugas, sosok penjaga tradisi Jawa (Foto ist.)


Damariotimes. Angin sore di Desa Sanggrahan, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang, membawa serta alunan nada yang seolah-olah membelai telinga dengan suara yang merdu mendayu. Suara itu begitu jernih, mengalun lembut dalam balutan Jineman Kandek laras pelog, alunan nada  yang sayup-sayup merayap dalam relung ruangan terbuka. Bagi mereka yang telinga yang akrab dengan jagat karawitan dan pewayangan Jawa, mereka mungkin mengira suara emas itu berasal dari rekaman Nyi Ngatirah, sinden legendaris pendamping Ki Narto Sabdo, yang sedang diputar melalui pengeras suara. Namun, bayangan tentang sosok sinden perempuan kawakan itu seketika pudar saat langkah kaki mendekat ke arah sumber suara. Di sana, di sebuah sudut desa yang tenang, bukanlah seorang perempuan paruh baya yang sedang melantunkan tembang, melainkan seorang pria muda, yang  bernama Lugas.

Lugas yang mempunyai nama samaran Cempluk Sabdosih. sebagaimana nama Lugas adalah predikat yang melekat sebagai rangkaian huruf tanpa makna yang berarti bersahaja. Di dalam nama itu terkandung identitas diri yang mendalam dan prinsip hidup yang kuat. Lugas berarti lugu dan tegas; sebuah perpaduan karakter yang mencerminkan kesederhanaan dalam berperilaku tidak muluk-muluk atau neka-neka namun memiliki ketetapan hati yang sangat kuat dalam menentukan sikap. Pemuda kelahiran 29 Agustus 2002 ini tumbuh menjadi sosok yang memegang teguh nilai-nilai tadisi, terutama dalam pengabdiannya terhadap seni tradisi Jawa yang semakin jarang diminati oleh generasi gen Z. seniman yang tinggal di Sengguruh Kecamatan Tertoyudo ini benar-benar sosok yang mengispirasi dan serba bisa. 


Lugas ketika berdandan sebagai tandhak (Foto ist.)


Perjalanan artistik Lugas bermula di bawah asuhan Mbah Pitoyo, seorang pakar karawitan ternama dari wilayah Malang bagian Timur. Di Sanggar Karawitan pimpinan Mbah Pitoyo, Lugas menonjol sebagai murid kinasih atau murid kesayangan yang memiliki kecerdasan dan keterampilan luar biasa. Di bawah bimbingan yang telaten, ia tidak hanya belajar memukul bilah-bilah perunggu, tetapi juga menyelami jiwa dari setiap instrumen. Dalam waktu yang relatif singkat, Lugas telah menguasai berbagai instrumen rumit seperti gender, kendang, hingga bonang. Bakat alaminya yang didukung oleh ketekunan membuatnya menjadi aset berharga di sanggar tersebut, membuktikan bahwa kecintaan pada budaya mampu melahirkan kemahiran yang mumpuni.

Namun, daya tarik Lugas tidak berhenti pada jari-jemarinya yang lincah di atas gamelan. Ia dianugerahi suara yang luar biasa merdu dengan cengkok yang halus, serta raut wajah yang cenderung feminin. Keunikan inilah yang kemudian membawanya masuk ke dunia panggung Ludruk. Oleh rekan-rekannya, Lugas diajak untuk bergabung dan memerankan sosok tandak atau laki-laki yang berperan sebagai perempuan. Dalam komunitas Ludruk tersebut, ia mengemban tugas ganda yang cukup berat: saat sore hari ia bertugas sebagai sinden, dan ketika malam tiba, ia harus bersiap untuk ikut dalam barisan Bedayan.

Meski sempat menjalani kehidupan di balik riasan tebal dan busana perempuan, sebuah kesadaran batin muncul di tengah gemerlap lampu panggung Ludruk. Lugas merasa bahwa meskipun ia mencintai seni, panggung Ludruk bukanlah tempat yang tepat bagi visi karir jangka panjangnya. Dengan kemantapan hati yang sesuai dengan arti namanya, ia memutuskan untuk berhenti menjadi tandak. Sebagai simbol babak baru dalam hidupnya, Lugas memberikan seluruh pakaian perempuannya kepada teman-temannya secara sukarela, tanpa ada rasa penyesalan. Ia memilih untuk kembali ke jati dirinya, namun tetap membawa gairah seninya yang tak pernah padam.

Masa vakum setelah meninggalkan dunia Ludruk tidak berlangsung lama. Atas ajakan Cak Benu, Lugas melangkahkan kaki menuju kediaman Mbah Nawi di Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi. Pertemuan inilah yang menjadi jembatan baginya untuk bergabung dengan Sanggar Lintang Trenggono di bawah pimpinan Zaenal Fanani. Di wadah baru inilah, identitas Lugas sebagai seorang sinden pria mulai mendapatkan panggung yang lebih luas dan terhormat. Meski sering dipanggil dengan sebutan akrab "Mbak Cempluk" karena kemampuannya menyanyi di nada tinggi layaknya sinden perempuan, ia tetap menjaga profesionalitas dan kualitas suaranya.

Nama Lugas kemudian mulai bergaung di seantero Malang Raya. Para dalang dari berbagai daerah mulai melirik bakat pemuda asli Sanggrahan ini. Kepopulerannya bukan hanya karena keunikan suaranya, melainkan juga karena etos kerjanya yang luar biasa. Lugas dikenal sebagai sosok pemuda yang sangat rajin belajar dan gemar melakukan anjangsana atau silaturahmi ke para senior dan rekan sejawat. Ia tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya. Baginya, setiap pertemuan dengan pangrawit atau dalang lain adalah kesempatan untuk menyerap ilmu baru, sehingga tak heran jika kini hampir seluruh komunitas seni di Malang Raya mengenal sosoknya dengan baik.

Hasratnya yang haus akan ilmu pengetahuan terus mendorong Lugas untuk mengeksplorasi potensi diri yang lain. Di sela-sela kesibukannya yang padat memenuhi undangan nyinden, ia masih menyempatkan diri untuk mengikuti pelatihan formal sebagai Pranata Adicara atau pembawa acara (MC) dalam bahasa Jawa. Ketekunan ini membuahkan hasil yang sangat manis. Kemampuannya mengolah kata dengan tatanan bahasa Jawa yang ngadi busono kini menjadi nilai tambah yang luar biasa.

Hari ini, Lugas telah membuktikan bahwa seni tradisi bukan sekadar hobi masa lalu, melainkan profesi yang menjanjikan jika ditekuni dengan kesungguhan. Keahliannya dalam seni tarik suara dan kemampuannya sebagai pembawa acara bahasa Jawa telah menjadi pilar utama yang mendongkrak ekonomi keluarganya. Dari sudut kecil di Desa Sanggrahan, Lugas telah bertransformasi menjadi seorang maestro muda yang membuktikan bahwa kelestarian budaya dan kesejahteraan hidup dapat berjalan beriringan, selama ada kejujuran dalam berkarya dan ketegasan dalam menentukan arah tujuan.

 

Konteributor: Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Jejak Langkah Sinden Pria bernama Lugas menjadi Sosok Penjaga Tradisi Jawa"