![]() |
| Mbah Nawi, sang penjaga budaya (Foto ist.) |
Damariotimes.
Kesenian tradisi tidak ubahnya seperti api unggun di tengah malam yang dingin.
Ia hanya akan terus menyala dan memberikan kehangatan manakala ada
tangan-tangan yang tulus merawat, menjaga, dan menambahkan kayu bakar secara
konsisten. Di tengah kepungan modernisasi dan arus informasi global yang begitu
deras, merawat kesenian tradisi bukan lagi sekadar hobi, melainkan sebuah
perjuangan eksistensial. Keberlanjutan warisan leluhur ini sangat bergantung
pada sinergi harmonis antara tiga pilar utama kehidupan berbangsa, yakni
seniman, pemerintah, dan masyarakat. Ketiganya merupakan satu kesatuan
ekosistem yang saling menguatkan, di mana pincangnya salah satu pilar akan
membuat bangunan kebudayaan tersebut perlahan runtuh dan terlupakan.
Seniman
berdiri di garis paling depan sebagai garda kreatif yang menghidupkan nyawa
kesenian tersebut. Mereka tidak boleh membiarkan diri mereka stagnan atau
terperangkap dalam romantisme masa lalu semata. Para pelaku seni dituntut untuk
terus memutar otak, berinovasi, dan berkreasi tanpa harus mencerabut akar nilai
luhur yang dikandungnya. Sentuhan kebaruan yang relevan dengan dinamika zaman
akan membuat anak-anak muda melirik kembali keelokan seni lokal. Namun,
kreativitas seniman tentu membutuhkan panggung untuk bernapas. Di sinilah peran
pemerintah mutlak diperlukan untuk hadir memberikan ruang yang memadai sebagai
sarana pengembangan dan pelestarian seni tradisi seperti ludruk, wayang kulit,
hingga karawitan. Intervensi kebijakan yang nyata bisa diwujudkan mulai dari
bangku sekolah melalui kurikulum seni budaya, hingga ruang publik dalam bentuk
lokakarya, pelatihan intensif, seminar edukatif, perlombaan, maupun festival
budaya yang megah. Pemerintah harus menjadi fasilitator yang menjamin bahwa
keringat para seniman dihargai secara layak di negeri sendiri.
Melengkapi
dua pilar tersebut, masyarakat memegang kunci penentu yang sangat krusial
terkait hidup dan matinya suatu kesenian. Seindah apa pun sebuah koreografi
diciptakan, semerdu apa pun gending karawitan ditabuh, atau sefilosofis apa pun
lakon wayang dimainkan, semuanya akan berakhir sia-sia jika tidak ada penonton
yang mengapresiasi. Masyarakat adalah konsumen sekaligus penanggap yang
memberikan validasi sosial serta dukungan ekonomi langsung bagi para pelaku
seni. Tanpa adanya kecintaan dan kebanggaan dari publik untuk menonton dan
menanggap pertunjukan tradisional, kesenian tersebut hanya akan menjadi artefak
mati yang tersimpan rapat di dalam museum-museum bisu.
Di
tengah perjuangan menjaga keseimbangan ekosistem budaya inilah, sosok-sosok
sunyi seperti Mbah Nawi hadir laksana oase di padang pasir. Beliau membuktikan
bahwa untuk menjadi pahlawan kebudayaan, seseorang tidak harus pandai menari,
piawai menabuh gamelan, atau mahir memainkan anak wayang. Mbah Nawi bukanlah
seorang pelaku seni aktif di atas panggung, namun kecintaan dan perhatiannya
yang teramat besar terhadap kelestarian budaya menjadikannya penyangga utama
tegaknya tradisi di lingkungannya. Bukti kecintaan itu bukan sekadar bualan
lisan, melainkan tindakan nyata yang menguras pengorbanan material. Beliau
dengan ikhlas merogoh kocek dari tabungan pribadinya demi menebus seperangkat
gamelan lengkap beserta sekotak wayang kulit. Lebih dari itu, sebagian rumah
pribadinya dengan rela disulap menjadi sebuah sanggar seni.
Sanggar
tersebut diberi nama Lintang Trenggono, sebuah nama indah yang membawa filosofi
mendalam tentang penerangan. Melalui nama ini, terselip doa dan harapan agung
agar siapa saja yang menapakkan kaki dan berlatih di sanggar tersebut memiliki
semangat pengabdian yang menyala-nyala untuk terus berjuang melestarikan seni
tradisi. Terletak di Kampung Krajan, Desa Putat Lor, Kecamatan Gondanglegi,
Sanggar Lintang Trenggono kini bertransformasi menjadi laboratorium budaya yang
sangat hidup. Tempat ini menjadi kawah candradimuka sekaligus ajang unjuk gigi
bagi dalang-dalang muda yang haus akan ruang ekspresi. Setiap malam Senin Pon,
rumah Mbah Nawi berubah menjadi magnet budaya dengan digelarnya pentas rutin
bulanan. Di ruang komunal inilah para dalang dari berbagai lintas wilayah dan
beragam gaya berkumpul. Mbah Nawi membuka pintu rumah dan hatinya lebar-lebar
bagi siapa saja yang ingin bersilaturahmi seni, merajut tali persaudaraan yang
erat antarsesama seniman tanpa memandang sekat latar belakang.
Keteladanan
Mbah Nawi tidak hanya berhenti pada penyediaan fasilitas fisik dan panggung
ekspresi, melainkan juga mengalir deras dalam bentuk wejangan moral dan
bimbingan spiritual bagi generasi penerus. Hal ini tampak jelas ketika sebuah
kunjungan silaturahmi terjadi di kediaman keduanya di Desa Gondanglegi Kulon.
Dalam suasana kekeluargaan tersebut, Mbah Nawi membagikan mutiara-mutiara
kebijaksanaan hidup kepada seorang pemuda bernama Aditya Jayawardhana, atau
yang akrab disapa Jaya. Nasihat tersebut berpusat pada pentingnya proses
belajar dan seni bergaul dalam kehidupan nyata.
Mbah
Nawi menekankan bahwa menuntut ilmu di bangku perkuliahan memang merupakan
prioritas nomor satu yang tidak boleh diabaikan. Akan tetapi, kecerdasan
akademik semata tidaklah cukup untuk menghadapi kerasnya dunia luar. Untuk
memperkaya wawasan dan mengasah keterampilan hidup yang sesungguhnya,
pendidikan formal harus berjalan beriringan dengan pembelajaran informal di
luar kampus. Hal tersebut dapat dicapai dengan cara membuka diri untuk bergaul
secara luas, membangun jejaring sosial yang sehat, dan merajut relasi yang
bermakna dengan berbagai kalangan. Di ranah sosial inilah teori-teori ilmiah
dari ruang kelas diuji dan dipraktikkan secara nyata.
Lebih
lanjut, beliau menyelipkan pesan disiplin bahwa dalam mengejar ilmu
pengetahuan, seseorang harus membunuh rasa malas dan melakoninya dengan sepenuh
hati serta rasa tanggung jawab yang tinggi. Filosofi hidup yang diajarkan Mbah
Nawi juga mengajarkan perspektif keseimbangan dalam memandang kehidupan sosial.
Ketika sedang berjuang dan menimba ilmu, seseorang harus selalu melihat ke
atas. Artinya, generasi muda harus menjadikan orang-orang sukses sebagai
panutan dan mendekatkan diri kepada figur-figur berintegritas yang memiliki
nama besar agar ketularan energi positif keberhasilan mereka. Namun, roda
kehidupan akan selalu berputar. Mbah Nawi mengingatkan dengan sangat tegas
bahwa kelak ketika kesuksesan sudah digenggam dan kemakmuran harta sudah
diraih, pandangan harus segera ditundukkan ke bawah. Keberhasilan hidup yang
sejati bukanlah diukur dari seberapa banyak harta yang dikumpulkan untuk diri
sendiri, melainkan seberapa besar manfaat dan uluran tangan yang bisa kita
berikan untuk meringankan beban sesama manusia yang membutuhkan. Nilai-nilai kemanusiaan
inilah yang pada akhirnya menjadi pengikat mengapa kesenian tradisi dan
kearifan lokal harus terus dirawat bersama.
Konteributor: Cak Marsam

Mantaf mas,jangan lelah berkarya,jangan letih berinovasi, salam budaya
BalasHapus