Penelitian Fungsional Gandrung Banyuwangi untuk paradigm Kualitatif

 


Tari Gandrung yang berfungsi sebagai hiburan (Foto ist.)


Damariotimes. Meneliti tari Gandrung Banyuwangi mencermati akspek secara menyeluruh tentang keindahan gerak kipas atau denting dawai biola yang mengalun. Dalam bingkai penelitian fungsional pada paradigm Kualitatif; Gandrung dipandang sebagai organisme yang hidup dan berinteraksi dengan lingkungannya. Proses penciptaan penelitian ini bermula dari ketajaman menangkap fenomena di lapangan, di mana ide awal muncul saat kita mulai mempertanyakan relevansi seni pertunjukan tersebut di tengah masyarakat Osing di era modern. Ide tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari pengamatan terhadap Gandrung yang hadir dalam ritual seblang, untuk acara bersih desa, hingga panggung-panggung festival pariwisata. Peneliti harus mampu melihat melampaui riasan tebal penari untuk menemukan jawaban atas pertanyaan tentang apa peran sesungguhnya yang dimainkan oleh seni pertunjukan Gandrung  bagi masyarakat Osing saat ini.

Setelah ide dasar mengenai peran sosial tersebut ditemukan, langkah selanjutnya adalah mengkristalisasikannya ke dalam judul yang representatif. Judul dalam penelitian fungsional bertindak sebagai etalase yang menunjukkan sudut pandang atau "pisau analisis" yang digunakan. Sebuah judul yang kuat menyebutkan subjek "Gandrung", tetapi juga harus secara eksplisit menyatakan lokus dan fokus fungsinya. Sebagai contoh, jika peneliti menangkap adanya pergeseran nilai, judul yang diambil dapat merujuk pada transformasi fungsi Gandrung dari medium ritual menuju komoditas industri kreatif. Judul ini menjadi janji akademis bahwa penelitian tidak akan melebar ke masalah teknis gerak, melainkan fokus pada dinamika sosiologis dan ekonomi yang menyertainya.

Transisi dari judul menuju perumusan masalah merupakan tahap yang paling krusial karena di sinilah pondasi penelitian dibangun. Dalam gaya esai deskriptif, rumusan masalah disusun sebagai rangkaian pertanyaan mendalam yang saling mengunci. Pertama, peneliti membedah tentang struktur pertunjukan itu sendiri ditampilkan dalam konteks yang spesifik, sebab fungsi selalu melekat pada bentuk. Setelah itu, fokus diarahkan pada identifikasi fungsi-fungsi manifes maupun laten, seperti Gandrung menjadi alat kohesi sosial atau bahkan instrumen politik identitas daerah. Akhirnya, perumusan masalah ditutup dengan pencarian makna di balik fungsi tersebut, yakni mengapa masyarakat tetap mempertahankan praktik tertentu meskipun zaman digital ini.

Secara keseluruhan, merumuskan penelitian fungsional pada Gandrung Banyuwangi adalah perjalanan intelektual untuk memahami denyut nadi kebudayaan masyarakat Osing di Banyuwangi. Dengan merangkai ide yang peka terhadap realitas sosial, judul yang spesifik, dan rumusan masalah yang tajam, seorang peneliti tidak hanya menghasilkan karya ilmiah, tetapi juga memberikan potret jernih tentang seni pertunjugkan bertahan hidup di tengah arus perubahan zaman. Proses ini memastikan bahwa Gandrung sebagai entitas fungsional yang terus membentuk dan dibentuk oleh masyarakat penyangganya.

 

Penulis: R.DT.

 

Posting Komentar untuk "Penelitian Fungsional Gandrung Banyuwangi untuk paradigm Kualitatif"