![]() |
| wejangan ngelmu Kaweruh Budi Luhur (Sumber AI) |
Damariotimes.
Dalam khazanah kearifan lokal Jawa, terdapat sebuah ajaran luhur yang dikenal
sebagai Sangkan Paraning Dumadi. Ajaran ini menuntun manusia untuk memahami
asal-usul, tujuan, dan hakikat keberadaan diri serta hubungannya dengan Sang
Pencipta. Melalui pemahaman yang mendalam, seseorang diharapkan dapat mencapai
ketenteraman jiwa dan menjalani hidup selaras dengan alam semesta. Mari kita
selami lebih jauh perjalanan spiritual Ning Naryo dalam menelusuri ajaran ini,
yang berujung pada pencerahan batin tentang makna sejati kehidupan.
Perjalanan Spiritual Menemukan
Hakikat Kehidupan
Ning
Naryo, seorang seniman Ludruk di Malang yang popular disapa Mama Chandra. Beliau
salah seorang yang gemar mencari ngelmu,
pernah berguru Kawruh Budi Luhur Ajining Jiwa (BULAD) kepada Guru spiritual
Mbah Kamsun di Dusun Turus, Desa Trenyang, Kecamatan Sumber Pucung, Kabupaten
Malang. Di kediaman Mbah Kamsun, mama Chandra memperoleh Kawruh Sangkan
Paraning Dumadi secara mendalam. Di Kamar Wijenan Dusun Turus inilah, Mama
Chandra (yang juga dikenal sebagai Bhima Sena) dikisahkan bertemu dengan Sang
Dewa Ruci, sebuah analogi perjumpaan batin dengan kebijaksanaan agung.
Dari
Mbah Kamsun, mama Chandra menerima wejangan tentang makna "Segara Tanpa
Tepi" dan "Sejatinya Air Prawitssari" (Air Kehidupan). Samudera
tak bertepi melambangkan keluasan hidup dan kemahabesaran Tuhan yang mampu
menghidupi seluruh makhluk di dunia, baik yang ada di darat, udara, air, maupun
di dalam tanah. Ini adalah representasi dari kasih sayang Tuhan yang tak
terbatas kepada seluruh ciptaan-Nya.
Kawruh
Budi Luhur Lestari Ajining Jiwa (BULAD) sendiri merupakan intisari dari Ijmak
Kiyas para Wali yang tertulis dalam Serat Wirid Hidayajati karya Pujangga
Ranggawarsita, seorang pujangga Keraton Surakarta. Ajaran ini menekankan
pentingnya budi pekerti luhur dan harga diri yang abadi.
Selain
dari Mbah Kamsun, mama Chandra juga mendapatkan tambahan Wewarah Agung (ajaran
besar) dari Mbah Kalil dari Desa Pagelaran, Kecamatan Pagelaran, Kabupaten
Malang. Kebetulan, Mbah Kalil juga merupakan saudara seperguruan dengan Mbah
Kamsun Turus. Mereka berdua adalah murid kinasih (murid kesayangan) dari Ki
Citro Prawiro, yang berasal dari Desa Donomulyo, Kecamatan Pagak, Kabupaten
Malang.
Makam
Ki Citro Prawiro terletak di Makam Samaan, Kota Malang. Ki Citro Prawiro adalah
murid dari Ki Reso Diwiryo, yang lebih dikenal dengan nama Ki Reso Diran, dan
dimakamkan di Makam Umum Desa Tohjayan, Kecamatan Pakisaji.
Ki
Reso Diran merupakan keturunan keempat, dan Ki Citro Prawiro adalah keturunan
kelima dari silsilah Pamedar Kawruh Sangkan Paraning Dumadi (penyebar ajaran
Sangkan Paraning Dumadi). Silsilah ini mencakup tokoh-tokoh besar dalam dunia
spiritual Jawa:
1.
Ranggawarsita
2.
Ki Joyo Dikromo
3.
Ki Kromo Diwiryo
4.
Ki Reso Diran / Reso Diwiryo
5.
Ki Citro Prawiro
6.
Mbah Kamsun Turus – Mbah Kalil
Pagelaran dan Mbah Yas Cungkal (Kecamatan Kalipare)
Ajaran
Kawruh Budi Luhur Lestari Ajining Jiwa memungkinkan Mama Chandra menjalani
kehidupan dengan tentram dan damai. Hal ini karena dalam setiap hembusan
napasnya, ia selalu merasa menyatu dengan Sang Pencipta. Dalam keyakinan
penghayat Sangkan Paraning Dumadi, Tuhan disebut "Urip" (Hidup).
"Urip Sing Nguripi lan Sing Nggawe Urip iku Siji, sifate langgeng ora owah
gingsir" (Hidup yang menghidupi dan yang memberi hidup itu satu, sifatnya
langgeng abadi). Lalu, siapa sesungguhnya yang Maha Hidup itu?
Bagi
penganut Kejawen Sangkan Paraning Dumadi, setiap saat, kapan saja, dan di mana
saja, mereka tidak pernah merasa terpisah dari Tuhan. Oleh karena itu, setiap
tarikan dan hembusan napas dalam hatinya tak berhenti menyebut asma Tuhan:
"Urip... AKU URIP..." (Hidup... Aku Hidup...). Ini adalah wujud kesadaran
penuh akan keberadaan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan.
Pengalaman
batin selama puluhan tahun di panggung Ludruk, dilengkapi dengan bekal Kawruh
Budi Luhur Lestari Ajining Jiwa dari Pujangga Ranggawarsita, telah memungkinkan
Mama Chandra untuk berbagi tentang kebaikan, kejujuran, welas asih, keikhlasan,
dan cinta kasih kepada siapa saja yang membutuhkan ketentraman hidup. Ini
menunjukkan bahwa ajaran Sangkan Paraning Dumadi tidak hanya berhenti pada
pemahaman filosofis, tetapi juga termanifestasi dalam tindakan nyata yang
bermanfaat bagi sesama.
Refleksi dan Penerapan dalam
Kehidupan Sehari-hari
Sangkan
Paraning Dumadi bukan sekadar ajaran kuno, melainkan sebuah panduan hidup yang
relevan hingga kini. Ia mengajak kita untuk merenungkan kembali hakikat
keberadaan, memahami keterbatasan diri di hadapan kemahabesaran Tuhan, dan
menemukan kedamaian melalui penyatuan batin dengan Sang Pencipta. Dengan
mengamalkan nilai-nilai luhur seperti kebaikan, kejujuran, welas asih, dan
keikhlasan, kita dapat membangun kehidupan yang lebih harmonis, tidak hanya
bagi diri sendiri, tetapi juga bagi lingkungan dan sesama. Ajaran ini
mengingatkan kita bahwa setiap hembusan napas adalah anugerah dan setiap momen
adalah kesempatan untuk merasakan kehadiran "Urip" yang abadi.
Contributor: Marsam Hidajat

Posting Komentar untuk "Memahami Hakikat Kehidupan dan Keterhubungan dengan Sang Pencipta"