Mama Candhra Membuka Salon Bermodal Ketrampilan Merias di Panggung Ludruk

 

Mama Chandra sedang merias penari Beskalan (foto ist.)


Damariotimes. Dunia panggung ludruk adalah sebuah jagat yang dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu spotlight, riuh rendah gelak tawa penonton, dan bedak tebal yang menyamarkan guratan lelah. Bagi seorang primadona tandhak seperti Ning Naryo, atau yang kemudian lebih karib disapa Mama Chandra, panggung adalah rumah sekaligus medan bakti. Namun, di balik kemegahan kostum dan kelincahan gerak tari, tersimpan kesadaran eksistensial yang tajam bahwa masa muda dan kecantikan fisik adalah aset yang memiliki batas waktu tertentu, usia menjelang lanjut usia harus dipikirkan secara sungguh-sunggu. Hal ini merupakan kesadaran, bahwa kehidupan panggung itu tidak abadi. Bahkan semua itu selalu dipikirkan menjelang waktu tidur, bahkan terbawa mimpi; “manusia tidak selamanya berada di puncak keemasan, tenar dan dielu-elukan oleh penggemar”. Mama Chandra merajut langkah visioner untuk mempersiapkan hari tuanya dengan merambah dunia usaha salon dan rias pengantin.

Langkah ini dipustukan sebagai solusi kegelisahannya menjelang hari tua, dan jawaban untuk mewujdukan mimpi yang dapat menopang masa depan, dan memanfaatkan potensi dan  kreativitas. Pilihan ini didasari oleh kedekatan emosional dan praktis antara profesi tandhak dengan seni tata rias. Keinginan kuat untuk mandiri secara ekonomi di masa depan membawanya pada sebuah proses belajar yang penuh ketekunan. Nasib baik mempertemukannya dengan Mama Samsu, pemilik Salon Victori yang reputasinya telah melintasi batas Kota Malang. Ketertarikan Mama Chandra untuk menimba ilmu tidak muncul begitu saja, melainkan tumbuh dari interaksi intensif saat kelompok ludruknya sedang mementaskan tobong di lokasi yang berdekatan dengan kediaman sang maestro salon tersebut.

Di sebuah rumah yang terletak di Jalan Kakak Tua Utara, kawasan Sukun, Kota Malang, proses transmisi ilmu itu terjadi. Di sanalah Mama Chandra, sang primadona yang biasanya menjadi pusat perhatian di atas panggung, berubah menjadi seorang murid yang haus akan teknik-teknik kecantikan. Ia mempelajari bagaimana helai rambut dibentuk, bagaimana warna-warna kosmetik dipadukan, hingga filosofi di balik riasan pengantin yang sakral. Kecerdasan alami yang dimilikinya sebagai seniman panggung membuatnya mampu menyerap materi dengan sangat cepat. Bagi Mama Samsu, muridnya yang berasal dari Bendo Kidul, Mojokerto ini bukanlah sekadar praktisi yang terampil secara mekanis, melainkan seorang seniman yang telah mencapai taraf mahir. Ada cita rasa seni yang mengalir dalam setiap goresan tangannya, sebuah kepekaan estetika yang hanya dimiliki oleh mereka yang terbiasa bergumul dengan keindahan visual.

Momentum besar dalam hidupnya akhirnya tiba pada tahun 1990. Dengan bekal kemahiran yang sudah teruji dan keberanian untuk mandiri, ia resmi membuka Salon Ning Amin Naryo. Lokasi yang dipilih adalah sebuah rumah di Jalan dr. Wahidin Nomor 15, Gondanglegi Kulon. Pada awalnya, bangunan tersebut bukanlah miliknya sendiri, melainkan sebuah rumah kontrak milik Ibu Tifah dan Pak Satuli, seorang guru yang bertugas  di SD Banjarejo 1 Pagelaran. Langkah awal ini menjadi ujian bagi ketangguhan mentalnya sebagai pengusaha pemula. Namun, berkat ketekunan dan kualitas layanan yang prima, usahanya berkembang pesat. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, sebuah pencapaian luar biasa berhasil diraih; rumah yang tadinya hanya berstatus kontrakan tersebut akhirnya berhasil dibeli dan menjadi aset pribadi Mama Chandra.

Meskipun kesibukannya sebagai bintang panggung ludruk semakin padat dengan jadwal pementasan yang menjalar ke berbagai daerah, Mama Chandra tidak pernah merasa cukup dengan ilmu yang telah digenggamnya. Ia adalah sosok yang sangat menghargai profesionalisme. Di sela-sela jadwal "manggung" yang melelahkan, ia tetap meluangkan waktu untuk mengikuti pelatihan formal, salah satunya di bawah bimbingan penata rambut legendaris Rudy Hadisuwarno. Langkah ini diambil untuk mengejar prestise, melainkan untuk memperdalam pemahaman teknis dan mengikuti perkembangan tren kecantikan yang terus berubah. Ia ingin memastikan bahwa layanan yang diberikan di salonnya setara dengan standar salon-salon modern di kota besar.

Perjalanan Mama Chandra adalah sebuah narasi tentang ketangguhan seorang seniman tradisional dalam menyongsong masa depan. Ia berhasil membuktikan bahwa seorang tandhak ludruk mampu bertransformasi menjadi pengusaha yang disegani tanpa harus menanggalkan identitas seninya. Keberadaan salonnya di Gondanglegi bukan hanya menjadi sumber penghasilan, tetapi juga menjadi bukti nyata dari sebuah perencanaan hidup yang matang. Di tangan Mama Chandra, seni rias pengantin bukan sekadar urusan memoles wajah, melainkan sebuah bentuk dedikasi untuk mengabadikan keindahan yang pernah ia rayakan di atas panggung ludruk ke dalam kehidupan nyata masyarakat luas.

 

Kontributor : Marsam Hidajat

 

Posting Komentar untuk "Mama Candhra Membuka Salon Bermodal Ketrampilan Merias di Panggung Ludruk"