![]() |
Posisi tokoh sentral Wayang Topeng dalam konsep
“macapat” (Foto Robby H.) |
Damariotimes.
Dunia seni pertunjukan, khususnya tari, sering kali terjebak dalam dikotomi
antara keindahan rupa dan kedalaman makna. Fenomena ini menjadi kegelisahan
intelektual yang dijawab dengan lugas oleh Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. Dosen
Prodi Pendidikan Seni Pertunjukan DSD FS Universitas Negeri Malang, dalam orasi
ilmiah pengukuhan guru besarnya di Universitas Negeri Malang, tanggal 4
Desember 2024. Beliau memperkenalkan sebuah jembatan konseptual yang disebut
sebagai “Teori Struktural-Simbolis”. Teori ini sebuah cara pandang holistik
yang memperlakukan karya seni sebagai organisme hidup, di mana anatomi fisiknya
(struktur) dan jiwanya (simbol) saling berkelindan tanpa bisa dipisahkan.
Secara
deskriptif, aspek struktural dalam pemikiran Prof. Robby merujuk pada
ketertiban formal karya tari. Jika kita membayangkan tarian, maka struktur
adalah jalinan motif gerak, pola lantai, ritme musik, hingga komposisi tata
cahaya yang membentuk satu kesatuan ruang dan waktu. Struktur adalah apa yang
tertangkap oleh indera penglihatan dan pendengaran secara langsung. Namun,
Prof. Robby menekankan bahwa berhenti pada level struktural hanya membuat penonton
memahami tari sebagai aktivitas fisik atau mekanis belaka. Di sinilah dimensi
simbolis masuk sebagai pemberi napas. Simbol adalah wilayah makna, di mana
setiap ayunan tangan atau kemiringan kepala dalam tari tradisional, misalnya,
merupakan representasi dari kosmologi, etika, dan nilai-nilai luhur yang dianut
oleh masyarakat pemiliknya.
Penguatan
terhadap teori ini terletak pada kemampuannya untuk melakukan penggalian makna
secara berlapis. Dalam konteks keilmuan di Universitas Negeri Malang, teori
Struktural-Simbolis ini menjadi sangat relevan karena karakter seni di Jawa
Timur yang kaya akan simbolisme kerakyatan namun memiliki struktur yang sangat
spesifik. Prof. Robby berhasil menunjukkan bahwa sebuah karya seni adalah
sistem tanda yang terorganisir. Melalui pendekatan ini, kita diajak untuk
melihat sebuah struktur "memaksa" munculnya makna tertentu, dan tentang
sebuah makna simbolis "membutuhkan" struktur gerak tertentu agar
dapat tersampaikan kepada penonton dengan akurat.
Transposisi
teori ini ke dalam ranah praktis, seperti kurikulum pendidikan seni atau modul
analisis karya, merupakan langkah krusial untuk memastikan bahwa pemikiran ini
tidak hanya berhenti di menara gading akademik. Jika kita merancang sebuah
kurikulum berbasis teori Struktural-Simbolis, fokus pembelajaran tidak akan
lagi hanya tertuju pada kemahiran teknis siswa dalam meniru gerak. Kurikulum
tersebut dirancang sedemikian rupa untuk menyeimbangkan antara psikomotorik dan
kognitif-afektif. Mahasiswa atau siswa akan diajak untuk "membedah"
karya melalui observasi struktural yang teliti, kemudian melakukan sintesis
untuk menemukan pesan-pesan simbolis yang tersembunyi di dalamnya.
Dalam
sebuah modul analisis karya yang ideal, langkah-langkah yang ditawarkan akan
dimulai dari deskripsi objektif atas elemen-elemen struktur. Peneliti atau
siswa akan mendata setiap detail visual dan auditif yang muncul. Setelah data
struktural terkumpul, modul tersebut akan mengarahkan mereka untuk masuk ke
tahap interpretasi simbolis dengan menghubungkan elemen tersebut pada konteks
budaya, sejarah, dan filosofi penciptanya. Dengan demikian, proses apresiasi
seni berubah dari sekadar kegiatan menonton menjadi kegiatan dialogis yang
intelektual. Teori Prof. Robby memberikan alat bagi apresiator untuk tidak
hanya menjadi penikmat pasif, tetapi menjadi pembaca tanda yang kritis.
Penggunaan
teori ini dalam modul analisis juga memberikan perlindungan terhadap subjektivitas
yang berlebihan. Sering kali, orang menafsirkan seni secara liar tanpa pijakan
yang kuat. Namun, dengan panduan struktural, setiap interpretasi simbolis harus
memiliki bukti fisik dalam struktur karya tersebut. Jika seseorang mengatakan
bahwa sebuah tarian melambangkan perlawanan, maka ia harus mampu menunjukkan
dalam struktur gerak mana atau dalam pola irama apa simbol perlawanan itu
muncul. Sinkronisasi inilah yang membuat teori Struktural-Simbolis Prof. Robby
Hidajat menjadi sangat kokoh sebagai metodologi ilmiah di bidang seni
pertunjukan.
Pada
akhirnya, esensi dari pemikiran beliau adalah tentang pemuliaan manusia melalui
karya seni. Dengan memahami struktur, orang dapat menghargai disiplin dan
ketekunan manusia dalam berkarya. Dengan memahami simbol, orang menghargai
kedalaman rasa dan pikiran manusia dalam memaknai kehidupan. Integrasi kedua
aspek ini dalam sebuah rancangan kurikulum atau modul pendidikan adalah sebuah
kebutuhan mendesak di era digital ini, di mana banyak informasi sering kali
hanya mampir di permukaan tanpa pernah menyentuh substansi. Teori
Struktural-Simbolis adalah pengingat bahwa dalam setiap gerak yang indah,
selalu ada doa, harapan, dan filosofi yang menunggu untuk ditemukan kembali.
Konteributor : MAH

Posting Komentar untuk "Integrasi Struktural-Simbolis dalam Dialektika Seni dan Pendidikan"