Jejak Langkah dan Pengabdian Dr. Tri Wahyuning Tyas, M.Si. untuk Seni Tradisi di Malang

 

Dr. Tri Wahyuningtiyas, M.Si. (tengah) (Foto ist.)


Damariotimes. Dunia sering kali menganggap bahwa sebuah kedudukan terhormat atau pangkat yang tinggi hanyalah buah dari garis tangan atau keberuntungan semata. Namun, jika kita menyelami lebih dalam riwayat hidup para penggerak budaya, kita akan menemukan bahwa kemuliaan derajat sering kali merupakan hasil dari anyaman bakat, ketekunan, dan kecintaan yang dipupuk sejak dini. Fenomena inilah yang tercermin secara sempurna dalam sosok Tri Wahyuning Tyas, seorang akademisi dan praktisi seni yang kini mendedikasikan hidupnya sebagai Dosen Program Studi Pendidikan Seni Pertunjukan (PSP) Universitas Negeri Malang. Perjalanannya bukan sekadar mengejar karier, melainkan sebuah manifestasi dari bakat yang mengalir dalam darah dan loyalitas tanpa batas terhadap akar budaya tanah kelahirannya.

Lahir di tengah lingkungan yang kental dengan atmosfer kesenian profesional, perempuan yang akrab disapa Mbak Tri ini seolah memang telah ditakdirkan untuk menjadi penjaga gawang tradisi. Silsilah keluarganya menyerupai sebuah peta kekuatan seni di Malang; ia adalah keponakan dari maestro Ki Soleh Adi Pramono, seorang koreografer sekaligus dalang Wayang Topeng dan Pangruwatan yang namanya telah melegenda. Tak hanya itu, bimbingan artistik juga ia dapatkan dari bibinya, Hj. Jumiara, pemilik Sanggar Mudra Ganesa yang dikenal sebagai penari kreatif pada masanya. Di sisi lain, sang ibu, Turyani, memberikan teladan sebagai pemikir seni tradisional yang berpengaruh di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Malang. Lingkungan inilah yang menjadi rahim bagi kreativitas Mbak Tri, di mana setiap napas yang dihirupnya beraroma kemenyan pertunjukan dan setiap suara yang didengarnya adalah denting gamelan yang memanggil jiwa.

Bakat yang luar biasa itu mulai memancar sejak ia masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Teman-teman sekampungnya mengenal sosok kecil ini dengan panggilan "Mbak Kotrik," seorang bocah yang kualitas menarinya jauh melampaui usianya. Di Padepokan Mangun Dharma dan Sanggar Mudra Ganesa, ia bukan sekadar murid yang cepat menghafal gerak, melainkan seorang penafsir rasa. Mbak Tri memiliki kemampuan langka untuk menghidupkan karakter topeng yang dipakainya melalui daya hayati yang luar biasa. Baginya, menari bukan hanya menggerakkan tubuh sesuai irama, melainkan proses "meminjamkan" raga bagi karakter-karakter mitis yang ia perankan, sehingga penonton tidak lagi melihat seorang manusia, melainkan manifestasi hidup dari cerita yang dibawakannya.


Sr. Tri Wahyungtyas, M.Si. dan Dr. Ika Wahyuningtyas, M.Pd. di Thailand.(Foto ist.)


Kecerdasan kinestetik dan manajerial Mbak Tri semakin teruji saat ia beranjak remaja. Sebuah catatan prestasi yang tak terlupakan terjadi ketika ia membantu tantenya menggarap tari kolosal di Stadion Brantas, Kota Batu. Dalam suasana rumah Ibu Hj. Jumiara yang penuh kesibukan, Mbak Tri menunjukkan kapasitas intelektualnya yang mengagumkan dengan menyusun konsep formasi untuk seribu penari hanya dalam waktu tiga puluh menit. Kecepatan berpikir dan ketajaman visi artistik ini membuktikan bahwa ia adalah seorang kreator alami yang mampu mengorganisir massa dalam harmoni estetis yang rumit. Pertunjukan bertema "Petik Apel" tersebut berakhir dengan kesuksesan gemilang, menjadi saksi bisu bahwa dari tangan dingin penari asal Tumpang ini, keajaiban seni bisa tercipta secara instan namun matang.

Pendidikan formal kemudian menjadi kawah candradimuka yang mematangkan bakat alamiahnya. Tri Wahyuning Tyas melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Universitas Negeri Surabaya, Bandung, hingga Universitas Udayana Bali. Selama masa kuliah di jurusan Sendratasik Unesa, ia semakin mengukuhkan eksistensinya sebagai mahasiswi yang kreatif. Sosoknya yang kerap memerankan tokoh Ragil Kuning dalam Wayang Topeng Tumpang kian bersinar lewat karya-karya orisinal seperti Tari Cucak Ijo dan Tari Rok Serokan. Karya-karyanya merupakan perpaduan jenius antara pola kreativitas akademis yang dinamis dengan roh tradisi yang tetap kental. Ia mampu mengeksplorasi gerakan bebas tanpa batas, namun tetap mempertahankan identitas njluwat, singget, dan tanjak yang menjadi ciri khas tari tradisi. Pilihan gending yang berasa tradisi kuat dengan bumbu tembang macapat Malangan dalam setiap garapannya menunjukkan bahwa ia adalah seorang koreografer yang tidak pernah melupakan akar, meski sayapnya telah terbang jauh ke ranah modernitas.

 

Kontributor : Marsam

 

Posting Komentar untuk "Jejak Langkah dan Pengabdian Dr. Tri Wahyuning Tyas, M.Si. untuk Seni Tradisi di Malang "