![]() |
| seni pertunjukan Bantengan dalam gerak dan dinamikanya (Foto ist.) |
Damariotimes.
Fenomena identitas terselubung dalam perkembangan seni pertunjukan tradisional
di Indonesia merupakan narasi panjang tentang kebudayaan yang mengalami proses
negosiasi dengan gerak lajunya perkembangan zaman. Secara deskriptif, identitas
terselubung tidak hadir secara gamblang melalui pernyataan verbal, melainkan
merayap secara halus melalui simbolisme gerak dan penampilan, pilihan warna
kostum, hingga struktur dramaturgi yang dipentaskan. Seni tradisi sering kali
menjadi wadah penyimpanan memori kolektif yang sengaja disamarkan demi menjaga
nilai-nilai luhur agar tidak tergerus oleh tekanan politik atau pergeseran praktik
spiritual yang terjadi secara masif di berbagai wilayah nusantara.
Di tanah Jawa, transformasi ini terlihat sangat anggun
namun sarat siasat. Ketika pengaruh Islam mulai masuk, seni pertunjukan seperti
Wayang Kulit tidak serta-merta meninggalkan akar Hindu-Buddha-nya. Alih-alih
menghilangkannya, terjadi proses stilasi bentuk di mana identitas filosofis
baru "bersembunyi" di balik struktur cerita lama. Gerakan tari
tradisional yang tadinya bersifat pemujaan dewa-dewa secara langsung, perlahan
bergeser menjadi olah rasa yang merepresentasikan hubungan manusia dengan Tuhan
secara lebih abstrak. Di sini, identitas terselubung berperan sebagai jembatan
yang menyelaraskan keyakinan baru tanpa harus menghancurkan fondasi kebudayaan
lama yang sudah mengakar kuat dalam sanubari masyarakat.
Bergeser ke wilayah Sumatera, khususnya pada masyarakat
Aceh, identitas terselubung mewujud dalam bentuk ritme dan ketangkasan tubuh.
Seni pertunjukan yang tampak seperti hiburan komunal, sesungguhnya menyimpan
pola koordinasi yang identik dengan disiplin militer. Tepukan dada dan hentakan
kaki yang sinkron dalam Tari Seudati, misalnya, merupakan cara masyarakat
menyamarkan pesan persatuan dan kesiapsiagaan di bawah pengawasan penjajah.
Identitas sebagai bangsa yang tidak tunduk disisipkan dalam syair-syair yang
sekilas terdengar seperti puji-pujian religius, namun di telinga masyarakat
lokal, itu adalah seruan untuk menjaga kedaulatan tanah kelahiran.
Sementara itu, di wilayah Bali dan Kalimantan, identitas
terselubung lebih banyak bercerita tentang hirarki sosial dan perlindungan
terhadap alam. Dalam dramaturgi tari di Bali, setiap gerakan mata (seledet) dan
posisi jemari yang telah membentuk penguatan
dan kehasan estetika, bahkan ada kode-kode tentang kasta dan etika perilaku
yang harus dijaga dalam kehidupan social kemasyarakatan. Di pedalaman
Kalimantan, tarian topeng masyarakat Dayak membawa identitas terselubung berupa
perjanjian antara manusia dengan penguasa hutan. Kostum yang terbuat dari
bahan-bahan alam merupakan kelengkapan pemanggungan, semua itu termasuk pernyataan
tentang identitas manusia tidak dapat dipisahkan dari kelestarian lingkungan
sekitarnya.
Fenomena identita terselubung ini masih jarang muncul
sebagai wacana dalam percaturan transformasi kebudayaan, bahkan denyut nadinya hamper
tidak terasa dalam perkembangan seni tradisional Indonesia. Perkembangan seni pertunjukan di berbagai
daerah membuktikan bahwa tradisi bermain secara evolotif, entitas dinamikanya yang
dinamis dan cerdik terus mengikuti genetika etniknya. Identitas terselubung ini
memungkinkan menguatkan nilai-nilai inti suku bangsa yang tetap tersampaikan
dari satu generasi ke generasi melalui proses pendidikan budaya, gerak
identitas terseblubung juga mengalir dalam denyut gerak budaya di kelas-kelas
formal, masuk melalui konservasi dan ketidak sadaran yang tarsus menguat
berdasarkan isu-isu konservasi. Generasi muda harus mengenakan
"topeng" yang berbeda-beda sesuai dengan tuntutan zaman, modernisasi,
dan kepentingan industri pariwisata saat ini, ataupun kebutuhan strategi
politik.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Identitas Terselubung dalam Transformasi Seni Tradisi di Indonsia"