Gema Tradisi di SMA Negeri 1 Turen: Menemukan Jati Diri Melalui Laras Karawitan

 

Ketekunan Siswa SMA N 1 Turen (Foto ist.)


Damariotimes. Di balik gerbang SMA Negeri 1 Turen, sebuah harmoni kuno perlahan bangkit di tengah keriuhan pendidikan modern. Suara perunggu yang dipukul berpadu dengan ritme kendang yang dinamis, menandai keberadaan ekstrakurikuler karawitan sebagai wadah pengembangan diri bagi para siswa. Di tempat ini, seni tradisional bukan sekadar warisan masa lalu yang kaku, melainkan ruang bagi siswa-siswi untuk menyelami bakat dan keinginan batin mereka. Kebebasan memilih kegiatan ini membawa berbagai macam latar belakang siswa ke dalam satu pendapa; ada yang datang dengan talenta bawaan, ada yang sekadar ingin mencari pengalaman baru, hingga mereka yang awalnya bergabung hanya karena mengikuti langkah teman atau tersisih dari kuota ekstrakurikuler lainnya.

Namun, minat yang besar ini menghadirkan tantangan tersendiri bagi proses regenerasi budaya tersebut. Dengan daftar hadir yang mencatatkan hingga 50 siswa, suasana latihan kerap menjadi sangat padat dan menantang bagi sang pelatih. Keterbatasan instrumen gamelan yang hanya cukup dimainkan oleh 12 orang—mulai dari gong, kendang, demung, saron, hingga bonang—memaksa para siswa untuk bergiliran dan berbagi peran. Kondisi ini secara alami membentuk pembagian tugas baru, di mana mereka yang tidak memegang alat musik harus mengolah vokal menjadi sinden atau penyanyi agar sajian gending terasa utuh. Keterbatasan fasilitas ini justru menjadi ujian awal bagi kesungguhan mereka dalam mencintai seni karawitan.


karawitan seni yang dapat membentuk karakter (Foto ist.)

Seiring berjalannya semester pertama di tahun ajaran 2025-2026, semangat luar biasa yang ditunjukkan siswa-siswi SMA Negeri 1 Turen mulai membuahkan hasil. Mereka perlahan menyadari bahwa belajar karawitan jauh lebih dalam daripada sekadar keterampilan menabuh bilah-bilah logam. Karawitan hadir sebagai wahana untuk melatih kebersamaan yang jujur, kesabaran yang telaten, dan kecerdasan dalam menyelaraskan rasa. Di sini, karakter siswa mulai terbentuk; mereka yang awalnya hanya ikut-ikutan mulai menyadari bahwa seni ini menuntut disiplin tinggi dan tanggung jawab besar. Karawitan pada akhirnya menjadi cermin bagi kreativitas dan ketajaman intelektual para pelakunya.

Meski demikian, perjalanan estetis para siswa ini sering kali menemui jalan buntu saat mereka melangkah keluar dari gerbang sekolah. Talenta luar biasa seperti yang dimiliki Dharma dalam memainkan kendang atau Kyirin dengan suaranya yang merdu, terancam berhenti hanya sampai masa kelulusan tiba. Hambatan lingkungan, kurangnya sanggar di wilayah tempat tinggal seperti Tirtoyudo dan Pagedangan, serta jauhnya akses menuju sanggar di daerah Gondanglegi atau Kepanjen menjadi tembok besar bagi pengembangan bakat mereka. Kenyataan pahit ini menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya membutuhkan tangan-tangan lain untuk membantu, baik itu dukungan moril dari orang tua maupun kehadiran pemerintah dalam menyediakan sarana gamelan dan sanggar seni di tiap pelosok desa, agar denyut karawitan tidak berhenti hanya sebagai memori masa sekolah.

Konteributor: Marsam

 

Posting Komentar untuk "Gema Tradisi di SMA Negeri 1 Turen: Menemukan Jati Diri Melalui Laras Karawitan"