![]() |
| Rangkaian garis kehidupan (sumber IA) |
Damariotimes.
Kehidupan di dunia seringkali disajikan sebagai arena kontras yang menuntut
manusia untuk memilih antara dua jalur fundamental: mengejar materi atau mendalami spiritualitas. Dalam pandangan
filosofis, dikotomi ini adalah sebuah ilusi, sebab hakikat eksistensi manusia
adalah menjalankan Dharma kewajiban
suci atau tugas otentik yang melekat pada keberadaan masing-masing—di mana
materi dan spiritualitas seharusnya terintegrasi secara harmonis.
Setiap
individu memiliki potensi bawaan untuk mencapai kehidupan berkelimpahan, dan
jalan menuju realitas tersebut dimulai dari sebuah transformasi internal, yakni
adopsi mentalitas berkelimpahan
(abundance mindset). Pola pikir ini merupakan fondasi yang mengukuhkan
keyakinan bahwa sumber daya alam semesta, termasuk rezeki, adalah tak terbatas.
Mentalitas ini bukan hanya menarik kesuksesan finansial, tetapi juga
memungkinkan individu untuk memanfaatkan kesuksesan material yang dicapai sebagai
alat untuk memfasilitasi dan mendalami perjalanan spiritual mereka. Dengan kata
lain, kemapanan duniawi bukan tujuan akhir, melainkan sebuah prasyarat yang
membebaskan waktu dan energi untuk eksplorasi dimensi batin.
Namun,
esensi sejati dari spiritualitas terletak pada tindakan melepaskan, bukan mencari. Ia adalah proses aktif membuang
keterikatan pada perasaan, emosi negatif, dan terutamanya, pada kepemilikan
duniawi. Dalam ranah spiritual yang murni, harta benda hanya dilihat sebagai
amanah atau titipan, bukan objek nafsu. Terdapat kisah-kisah spiritual, seperti
sosok Syekh Abdul Qodir Jaelani, yang diberi limpahan duniawi oleh Sang
Pencipta, tetapi pikiran dan perasaannya sama sekali tidak tersentuh oleh
keinginan untuk memiliki. Ia memilih jurusan spiritual, menjadikan materi hanya
sebagai medium, bukan tujuan.
Sayangnya,
dalam perkembangan sejarah dan masuknya berbagai ajaran keagamaan di
masyarakat, terjadi perancuan makna spiritualitas. Apa yang seharusnya menjadi
jalan pembersihan dan pelepasan, justru dimaknai sebagai cara untuk mencari materi. Hal ini menciptakan
sebuah ambiguitas dalam praktik, di mana banyak orang berdoa memohon rezeki
(materi) sambil mengklaim berada di jalur spiritual. Ini adalah ambiguitas yang
harus diurai.
Filosofi
Timur mengajarkan bahwa mencari materi seharusnya diarahkan pada tujuan
spiritual. Konsep ini selaras dengan ajaran kasta Ksatria dalam Hindu, di mana
mereka didorong untuk mencari kekuasaan dan kekayaan, tetapi dengan tujuan yang
lebih tinggi, yaitu untuk menjaga tatanan Dharma dan keseimbangan alam semesta.
Manusia modern dituntut untuk meniru prinsip ini: mencari materi adalah
kewajiban untuk menjalankan Dharma, tetapi materi itu harus dikembalikan dan
digunakan untuk mendukung pertumbuhan spiritual, kesejahteraan bersama, dan
kebajikan.
Pencapaian
mentalitas berkelimpahan saja tidak cukup untuk menjamin kekayaan, sebab setiap
manusia terikat pada garis Karma
(hukum sebab-akibat). Garis karma ini harus ditebus atau dilunasi melalui
serangkaian tindakan sadar. Formula pelunasan karma meliputi penanaman pikiran yang baik, manifestasi perilaku yang baik, disertai dengan mentalitas berkelimpahan, dan didukung
oleh semangat hidup yang tidak
pernah padam. Ketika seseorang telah memahami dan menjalankan garis karmanya dengan
landasan spiritual yang kuat, ia akan terbebas dari penderitaan karena ia
berdamai dengan takdirnya dan merangkainya dengan tindakan positif.
Landasan
fundamental bagi seluruh perjalanan ini adalah pemahaman akan Sunnatullah (hukum-hukum ketuhanan) dan
penerimaan yang tulus terhadap Dharma diri. Pemahaman ini membimbing manusia
dalam pencarian materi sehingga tidak menyimpang dari tujuan spiritual. Dasar
pertama yang harus dikuasai adalah menerima
dan bersyukur. Menerima keadaan dengan ikhlas adalah bentuk syukur yang paling otentik.
Dengan
demikian, ketika dihadapkan pada keadaan apa pun, manusia harus memilih untuk bahagia dan tidak boleh mengeluh (sambat). Mengeluh adalah manifestasi dari mentalitas kekurangan atau mentalitas miskin, yang justru menarik
lebih banyak kekurangan. Sebaliknya, kebahagiaan menarik kebahagiaan baru,
keberlimpahan menarik keberlimpahan baru. Siklus keluhan akan mengundang
kesulitan dan penderitaan lainnya. Oleh karena itu, manusia wajib memiliki
semangat hidup yang menyala, mencari Dharmanya, dan menjaga mentalitas serta
gaya berpikirnya agar selalu berada dalam frekuensi berkelimpahan.
Dituliskan kembali oleh: Nooer
(Probolinggo)

dari artikel diatas kita dapat mengerti Penjelasan dari artikel yang berjudul Dharma, Materi, dan Spritualitas: Merangkai Garis Kehidupan Berkelimpahan
BalasHapusArtikel ini menolak dikotomi sempit antara “materi vs spiritualitas”. Sebaliknya, ia mengusulkan bahwa materi dan spiritualitas bisa bersatu: materi bukan musuh spiritualitas, tapi — bila dipahami benar — bisa menjadi sarana untuk memperdalam spiritualitas.
BalasHapusSangat menginspirasi untuk kehidupan berkelimpahan
BalasHapusArtikel ini menawarkan pemikiran menarik tentang keseimbangan materi dan spiritualitas, tetapi masih terasa abstrak dan kurang contoh nyata, sehingga idenya belum sepenuhnya membumi.
BalasHapuspandangan ini mengajak kita melihat materi sebagai sarana, bukan tujuan akhir, dan menegaskan bahwa spiritualitas membantu manusia menggunakan berkah dunia secara bijak dan penuh syukur
BalasHapusartikel ini menarik sekaliii dan sangat menginspirasi
BalasHapusartikel ini menjelaskan terkait pandangan filosofi timur serta trik untuk menyusun garis kehidupan yang berkelimpahan
BalasHapusDari artikel di atas bahwasanya saya jadi mengerti lebih dalam mengenai “ Dharma, Materi, dan Spiritualitas: Merangkai Garis Kehidupan Berkelimpahan”
BalasHapusartikel tsb membahas tentang Usmaritimes, sebuah filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara dua realitas: materi dan spiritual, untuk mencapai kebahagiaan sejati.
BalasHapusartikel di atas menjelaskan bahwa setiap individu memiliki potensi bawaan untuk mencapai kehidupan berkelimpahan, dan juga kita menjadi tahu bahwa spiritualitas terletak pada tindakan melepaskan bukan mencari
BalasHapusArtikel ini mengingatkan kita bahwa spiritualitas bukan tentang meninggalkan dunia, tapi tentang menemukan keseimbangan antara materi dan spiritual. Mentalitas berkelimpahan dan memahami Dharma diri adalah kunci untuk mencapai kehidupan yang harmonis dan bermakna.
BalasHapusArtikel “Dharma, Materi, dan Spiritualitas: Merangkai Garis Kehidupan Berkelimpahan” memberikan pemahaman yang seimbang tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dapat berjalan seiring dengan pencapaian materi. Tulisan ini menekankan bahwa keberlimpahan tidak hanya diukur dari harta, tetapi juga dari kualitas batin, etika, dan tujuan hidup. Pendekatan yang mengaitkan dharma dengan keseharian membuat pembahasan terasa relevan dan menginspirasi pembaca untuk menata hidup secara lebih bijaksana dan bermakna.
BalasHapusHidup yang baik adalah hidup yang seimbang antara materi dan spiritual, dijalani dengan sadar, ikhlas, dan sesuai Dharma
BalasHapusArtikel ini mengangkat hubungan antara dharma, materi, dan spiritualitas sebagai tiga aspek yang saling melengkapi dalam membentuk kehidupan yang seimbang.
BalasHapusKita seorang manusia harus semangat hidup untuk mencari dharmanya dan menjaga mentalitas serta gaya pikirannya
BalasHapusartikel yang sangat bermanfaat yang membahas tentang Usmaritimes, dan filosofi hidup yang mengajarkan keseimbangan antara dua realitas: materi dan spiritual, untuk mencapai kebahagiaan sejati.
BalasHapusSaya setuju bahwa memiliki “mentalitas berkelimpahan” bukan sekadar mencari kekayaan semata bisa membantu kita lebih menghargai anugerah dan hidup dengan rasa syukur. Artikel ini mengingatkan saya untuk selalu melihat materi sebagai amanah, bukan obsesi.
BalasHapusArtikel ini sangat bermanfaat sekali
BalasHapusArtikel ini menjelaskan dan mengajarkan keseimbangan antara material dan spiritual
BalasHapusDharma, Materi, dan Spiritualitas: Merangkai Garis Kehidupan Berkelimpahan” menjelaskan bahwa kekayaan bukan hanya soal harta, tetapi juga ketenangan batin, etika, dan tujuan hidup. Tulisan ini menunjukkan bagaimana nilai spiritual bisa berjalan bersama pencapaian duniawi, sehingga pembaca terdorong untuk menjalani hidup dengan lebih bijak dan bermakna.
BalasHapusmembuat para pembaca menjadi terinspirasi
BalasHapusArtikel ini membahas hubungan antara dharma, materi, dan spiritualitas sebagai tiga unsur yang perlu diseimbangkan untuk mewujudkan kehidupan yang berkelimpahan. Penulis menekankan bahwa dharma—yang dipahami sebagai jalan hidup yang benar—menjadi dasar yang mengarahkan manusia dalam bertindak, sehingga pencapaian materi tidak mengabaikan nilai moral dan spiritual.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusArtikel ini mengangkat hubungan antara dharma, materi, dan spiritualitas dengan cara yang cukup selaras dengan pemahaman holistik tentang kehidupan. Fokusnya bukan pada menolak dunia materi maupun terjebak di dalamnya, tetapi pada membangun integrasi yang harmonis: bahwa materi dapat menjadi sarana ekspresi dharma, dan spiritualitas dapat menjadi pemandu agar kemakmuran tidak kehilangan arah.
BalasHapusSaya suka artikel ini. Yang paling saya sukai adalah cara penulis menyatukan tiga elemen yang seringkali dianggap saling bertentangan: dharma sebagai panggilan hidup, materi sebagai kebutuhan duniawi, dan spiritualitas sebagai pondasi batin.
BalasHapusArtikel ini tampaknya menawarkan perspektif yang berharga tentang bagaimana menyeimbangkan tiga aspek krusial kehidupan—kewajiban moral (Dharma), kebutuhan duniawi (Materi), dan ketenangan batin (Spiritualitas)—untuk mencapai kehidupan yang utuh dan penuh makna. Tentu sangat penting bagi pembaca untuk mendapatkan panduan praktis agar kekayaan material tidak menggerus nilai-nilai luhur dan tujuan hidup sejati.
BalasHapusartikel yang sangat menginspirasi✨️
BalasHapusArtikel tersebut sangat bermanfaat mengajarkan keseimbangan antara dua realitas
BalasHapusArtikel ini menyebutkan bahwa dikotomi antara mengejar materi dan mendalami spiritualitas adalah sebuah ilusi. Hakikat eksistensi manusia adalah menjalankan Dharma dan tugas otentiknya, di mana materi dan spiritualitas seharusnya terintegrasi secara harmonis.
BalasHapusArtikel ini menjelaskan bahwa materi dan spiritualitas bukan hal yang harus dipertentangkan, karena materi seharusnya menjadi alat untuk mendukung perkembangan batin. Kunci hidup berkelimpahan adalah memiliki abundance mindset, namun inti spiritual terletak pada kemampuan melepaskan keterikatan, bukan mengejar kekayaan. Pembersihan karma, penerimaan, dan rasa syukur menjadi fondasi perjalanan spiritual. Secara keseluruhan, artikel mengajak pembaca menata kembali tujuan hidup agar tidak terjebak pada materi, tetapi menjadikannya sarana menuju keseimbangan dan kedamaian batin.
BalasHapusArtikel ini benar-benar bermanfaat untuk pembaca ...
BalasHapusArtikel menekankan bahwa dikotomi antara mengejar materi dan mendalami spiritualitas adalah sebuah “ilusi” seharusnya keduanya bisa hidup secara harmonis dalam satu keseimbangan.
BalasHapusArtikel ini mengeksplorasi keseimbangan antara nilai spiritual, bahan fisik, dan dharma dalam praktik seni. Relevan bagi pengajar tari yang ingin integrasikan dimensi filosofis ke kurikulum.
BalasHapusArtikel ini sangat menginspirasi...😍😍
BalasHapussangat menarik
BalasHapusKehidupan sering dipersepsikan sebagai pertentangan antara mengejar materi dan mendalami spiritualitas, padahal sejatinya kedua hal tersebut harus terintegrasi secara harmonis. Esensi eksistensi manusia adalah menjalankan Dharma (kewajiban suci). Untuk mencapai kehidupan yang berkelimpahan, setiap individu harus bertransformasi secara internal dengan mengadopsi mentalitas berkelimpahan (abundance mindset). Dalam filosofi Timur, mencari materi adalah kewajiban untuk menjalankan Dharma.
BalasHapusartikel ini mengajak kita untuk melihat materi dan spiritualitas bukan sebagai lawan, tapi dua aspek yang bisa bersinergi dalam kehidupan untuk membangun keseimbangan dan kedamaian batin.
BalasHapusMenarik sekali
BalasHapusTopik yang sangat mendalam dan inspiratif! Menggabungkan dharma, materi, dan spiritualitas memang kunci menuju kehidupan yang berkelimpahan.
BalasHapusArtikel ini mengajak kita untuk melihat bahwa materi dan spiritualitas sebenarnya bisa berjalan beriringan, bukan saling bertentangan. Dharma, atau kewajiban hidup, menjadi dasar untuk mencapai kehidupan yang seimbang dan berkelimpahan
BalasHapusArtikel ini memiliki pembahasan yang menarik tentang materi dan kemanusiaan. Filosofi Timur mengajarkan bahwa mencari materi seharusnya diarahkan pada tujuan spiritual. Oleh karena itu, manusia wajib memiliki semangat hidup yang menyala, mencari Dharmanya, dan menjaga mentalitas serta gaya berpikirnya agar selalu berada dalam frekuensi berkelimpahan.
BalasHapusDari artikel diatas mengajak untuk dapat melihat materi dan spiritualitas bukan hanya sebagai lawan akan tetapi dua aspek yang bersinergi dalam kehidupan untuk membangun keseimbangan
BalasHapusTulisan ini menarik karena mampu mengaitkan dharma, materi, dan spiritualitas sebagai satu kesatuan yang saling melengkapi.
BalasHapusPemaparannya sederhana tapi bermakna, mengajak pembaca melihat bahwa kelimpahan hidup lahir dari keseimbangan batin dan tindakan.
Berikut komentar singkat seperti format sebelumnya:
BalasHapus---
Judul *“Dharma, Materi, dan Spiritualitas: Merangkai Garis Kehidupan yang Berkelimpahan”* menggambarkan upaya menyeimbangkan nilai hidup secara utuh. Pendekatan ini penting agar manusia tidak hanya mengejar materi, tetapi juga menjaga makna, etika, dan kedalaman spiritual dalam menjalani kehidupan. Semoga gagasan ini menginspirasi banyak orang untuk hidup lebih seimbang dan berkelimpahan.
Maknanya dalam sekali. Dharma, materi, dan spiritual memang perlu seimbang—ketika selaras, hidup terasa lebih penuh dan berlimpah.
BalasHapusartikel ini menarik sekali
BalasHapusartikel dari damario times,banyak informasi dan ilmu yang di dapatkan,terimakasih prof roby
BalasHapus