Sukardi Tukang Dekor Ludruk Malang Serba Bisa

Sukardi memperagakan jika jadi tukang gontok (Foto Ist.)
             DAMARITIMES - Menjadi anggota ludruk memang tidak selalu menjadi pemain, namun bisa juga menjadi penata panggung. Seperti pengalaman Cak Sukardi. Pria  kelahiran tahun 1967 ini adalah anak kedua pasangan Kasmani dengan Rukayah.

Orang tua Cak Sukardi berasal dari  Desa Undaan Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Ayahnya, adalah salah satu tenaga dekorator  dari Ludruk Putra Bhakti, Anoraga, Wijaya Kusuma Unit II dan Ludruk Persada.

Para juragan ludruk di Malang mengakui, bahwa Kasmani merupakan tenaga dekorasi ludruk yang mumpuni, selain ahli menata  panggung, juga bisa membuat Patung, lakon Sahabat Bilal, yaitu  biasanya membuat arca Ya Humal. Meskipun  Pak Kasmani jadi tukang dekor juga mampu jadi pemain. Waktu itu  zaman jaya-jayanya Ludruk Wijaya Kusuma Unit II. Setiap  Lakon Sawunggaling yang dapuk Jendral Belanda mesti Pak Kasmani.

Keahlian pak Kasmani sebagai pakarnya dekorasi ludruk sekarang dilanjutkan oleh anaknya yang nomor dua yaitu Sukardi yang biasa dipanggil Cak Kardi. Keahlian itu benar-benar menurun, seperti pepatah buah jatuh tidak jauh dari pohonnnya.

Sukardi mulai ngludruk Tahun 1979, ketika ayah dan ibunya berada di ludruk Wijaya Kusuma Unit II. Keluarga Pak Kasmani waktu nggedong ludruk memang jarang pulang ke Desa Undaan, dikarenakan Mak Rukayah (istri Kasmani) buka Warung di area gedongan ludruk, layaknya Kantin Ludruk. Warung itu memang secara khusus melayani warganya sendiri (pemain ludruk).

Ketika pak Kasmani masih hidup, Kardi sudah membantu bapaknya menata artistik Panggung ludruk, mulai ludruk Wijaya Kusuma Unit II sampai Ludruk Persada. Pada waktu itu, Pak Kasmani dibantu Supardi, Nandar, Liono, dan Mat Noor.

Bermula dari itu Kardi secara tidak disadari sudah belajar menata panggung. Karena panggung ludruk  setiap malam harus berubah sesuai tema cerita yang ditampilkan.

Kardi santai di rumahnya ( foto ist. )
             Anak Mbok Rukayah yang punya hobi sepak bola ini, sebelum masa pandemi Covid-19 termasuk tukang dekor paling laris, hampir semua grup ludruk se Malang Raya pernah mengajaknya, pasalnya cak Kardi selain sebagai tukang dekor juga bisa merangkap jadi pemain dan Sutradara. Tampaknya pengalaman dan keahlian ayahnya menurun 100%.

Cak Kardi ketika ditemui Damariotimes di rumahnya, Desa Undaan Kecamatan Turen Kabupaten Malang. Cak Kardi banyak menceritakan pengalaman hidupnya selama terjun di dunia per ludrukan. Statusnya sebagai tukang dekor atau penata artistik dalam pertunjukan ludruk banyak membentuk sebagai orang yang teliti, dan kreatif. Sungguhpun, Sukardi hanya sebagai anggota ludruk serba bisa, karena mau belajar dan mendengar penonton. Karena penonton itu yang membayar, maka harus mendapatkan penyajian yang mereka merasa puas, dan puas.

Ketrampilan yang dikuasai dalam hal tata teknik pentas meliputi, menata panggung, nggambar/melukis pemandangan, atau kelir ludruk, membuat patung atau arca, Persis sama dengan kemampuan ayahnya.

Pada waktu tertentu ludruk membutuhkan orang yang trampil membuat patung, utamanya  ketika Lakon Sahabat Bilal, membuat Bango dan Yuyu Kangkang lakon Ande Ande lumut, membuat Bongpay dan air hujan yang terbuat dari plastik di gunting kecil kecil, kalau kena sorot lampu persis Air hujan, Lakon Sampek Engtay, Bahkan mencari dekor panggung yang alami, maka juga menyiapkan tumbuh-tumbuhan, seperti pisang, atau ranting-ranting kayu agar panggung benar-benar natural.

Namun jika ludruk kekurangan pemain, Cak Kardi juga ikut main, bahkan di gedongan ludruk Wijaya Kusuma, Pimpinan Cak Jamil (alm), Cak Kardi juga sering sebagai Sutradara. Jangan terkejut, untuk ukuran penata artistik sekelas Cak Kardi itu; berapa honorarium yang di terima satu kali pementasan?.

Sebagaimana ukuran pemain serba bisa seperti cak Kardi, ternyata tidak seimbang dengan pekerjaan yang begitu nguras tenaga dan pikiran, dia hanya menerima Rp. 200.000, - 300.000, bayangkan dia bekerja sebelum pemain datang sampai pemain ludruk yang lain sudah pulang nyampai rumahnya masing-masing, cak Kardi dkk. Masih sibuk melepas kelir kelir ludruk di angkat ke bak truk, tapi itulah Cak Kardi, dia tidak pernah mempermasalahkan berapapun honor yang di terima, dia tetap semangat tetap nyaman mengerjakan tugas sesuai rencana, bagi Cak Kardi bukan uang yang utama, tapi kepuasan batin, ketika hasil jerih payahnya di akui oleh para Seniornya ternyata uang bukan segalanya, pengakuan itulah  yang sangat berharga baginya.

Dengan berbekal ilmu dan ketrampilan warisan orang tuanya, Kardi dapat bergabung dengan grup Ludruk se Malang Raya. Ludruk yang pernah diikuti di antaranya: Ludruk Wijaya Kusuma Pimpinan Cak Jamil, Ludruk Persada pimpinan Cak Subur, Ludruk Manggala Pimpinan Cak Efendy, Ludruk Subur Budaya pimpinan Kartono, Ludruk Orkanda Pimpinan Drs Sunari dan Ludruk Lerok Anyar.

Diusianya yang sudah sudah kepala  5 ini, Sukardi merasa prihatin melihat keberadaan ludruk sekarang, karena  tidak ada pemain ludruk muda. Secara pribadi dia menyalahkan para seniornya yang dulu tidak mau mengkader pemain baru pada masanya. Namun setelah ditelusuri, dan dipikir-pikir. Ternyata sikap pemain ludruk tempo dulu sangat hati-hati dan tidak berani sembarangan mengkader pemain baru.

Ketika seorang pemain dianggap belum mampu, tidak akan direkomendasikan. Alasannya sangat masuk akal, karena takut pementasan tidak berhasil. Karena waktu itu ludruk masih banyak pemain-pemain senior yang benar-benar mapan dan banyak pemain yang memiliki daya hayat yang sangat luar biasa, sebut saja Buang Sabar Arif, Christadi wn, Totok Suprapto, Beny Wahyudi, Abdul Ghani Bisri, Kadim, Cak Subur, Cak Hari, Cak Tamin, Cak Samingun, Cak Karji dan Mansyur, Mama Chandra, Slamet Nety,Mak Ngatiyar,Mak Kadam, Adenan,Mulyani,Nadekur,  Cak Wito Hs dan Cak Chatam Ar.

Pemain ludruk yang tersebut di atas kemampuannya di atas rata rata, maka jangan heran ketika Ada anggota baru yang datang, dipastikan mereka harap sabar untuk menjadi pemain cadangan yang siap untuk nyebeng berbulan-bulan untuk menjadi pemain inti.

Protes Cak Kardi pada para seniornya yang tidak berani dan tidak ikhlas menyiapkan regenerasi, saat ini harus menerima konsekuensinya, maka jangan menyesal kalau hari ini tidak ada pemain ludruk muda, bahkan sekarang sangat sulit mengajak anak muda yang mau belajar ludruk.

Cak Kardi terhitung  sudah 41 tahun  sebagai pekerja ludruk, diusianya yang sudah genap 54 tahun Cak Kardi masih kelihatan Energik, karena selama musim pandemi ini dia bekerja serabutan ke sawah dan berternak ayam Bangkok.

 

 

 
Reporter          : Marsam Hidajat
Editor              : Harda Gumelar

Posting Komentar untuk "Sukardi Tukang Dekor Ludruk Malang Serba Bisa "