![]() |
| persiapan menuju arena Gandrung Sewu di Pantai Boom (Foto ist.) |
Damariotimes.
Banyuwangi-Jawa Timur: 24 Oktober 2026. Langkah kaki para alumni dan seniman
yang tergabung dalam Ikatan Keluarga ASTI-ISI (IKASTISI) Yogyakarta melangkah
menyusuri keindahan Ujung Timur Pulau Jawa. Perjalanan yang dibalut dalam tajuk
Srawung Budaya ini bukan sekadar ajang temu kangen atau nostalgia melepas rindu
sesama alumni, melainkan sebuah ikhtiar kebudayaan untuk menghirup kembali
napas kesenian daerah yang kian berkembang pesat. Kepakan semangat kebersamaan
melandasi setiap jengkal perjalanan, menjadikannya perjumpaan rasa yang hangat,
sarat makna, serta menegaskan kembali dedikasi para alumni terhadap kelestarian
seni tradisi Nusantara. Rombongan alumni IKASTISI yang bertandang ke perhelatan
budaya ini terdiri dari Sri Eka (ketua rombongan), Nunik Widiasih, Winarsi Lies
Apriani, Heni Winahyuningsih, Lucia Ratna Dewi, Oneng Setya Harini, Dwiyani
Fitriani, Ni Luh Made Agustini, Maryati Hartono, Prof. M. Djazuli, Dewi Djajzuli,
Indriyanto, dan Dani Indriyanto.
![]() |
| Rombongan IKASTISI di Taman Terakota Gandrung (Foto ist.) |
Setibanya di Bumi Blambangan, rombongan Srawung Budaya
IKASTISI disambut hangat oleh Ketua Wilayah Jawa Timur, Punjul Ismuwardoyo.
Kehadiran tokoh seni lokal yang dikenal eksentrik dan berdedikasi tinggi ini
menghadirkan suasana kekeluargaan yang begitu kental. Keramahan khas masyarakat
Osing langsung terasa saat jalinan dialog dan canda tawa mengalir di antara
para seniman. Welas asih dan penghormatan atas kedatangan para sesepuh serta
rekan sejawat seni dari berbagai daerah menjadi penanda awal dari rangkaian
kegiatan bakti budaya yang berkesan.
Destinasi pertama yang disuguhkan untuk memanjakan mata
rombongan adalah objek wisata De Jawatan yang terletak di Benculuk. Langkah
kaki yang memasuki kawasan ini seolah membawa para pengunjung melintasi lorong
waktu menuju negeri dongeng. Pohon-pohon trembesi raksasa yang telah berusia
ratusan tahun berdiri kokoh melingkupi area, dengan batang-batang besar yang
dililiti tumbuhan paku dan lumut hijau nan lebat. Cahaya matahari pagi yang
menerobos celah-celah dedaunan menciptakan guratan sinar yang magis di atas
permukaan tanah. Rombongan IKASTISI menikmati ketenangan lanskap hijau ini
sambil berdiskusi ringan mengenai potensi bentang alam yang menyatu secara
harmonis dengan estetika seni alamiah. Suasana rindang dan sejuk di De Jawatan
menjadi tempat jeda sejenak yang menyegarkan jiwa sebelum melangkah menuju
destinasi berikutnya di Taman Gandrung Terakota serta puncak acara di malam
hari.
Saat sang surya berpulang dan kegelapan mulai memeluk
pesisir pantai, magnet utama dari kunjungan budaya ini pun dimulai. Pantai Boom
yang berhadapan langsung dengan Selat Bali menjadi saksi bisu keagungan seni
tradisi yang dikemas secara fenomenal. Malam itu, Pantai Boom bertransformasi
menjadi panggung raksasa yang dipadati oleh lautan manusia. Penonton dari
berbagai sudut daerah datang melimpah ruah, menciptakan gelombang antusiasme
yang tak terbendung demi menyaksikan gelaran akbar perayaan seni tahunan
tersebut.
Perhelatan Gandrung Sewu pada tahun ini menghadirkan sebuah
terobosan baru yang belum pernah ada sebelumnya. Inovasi paling mencolok
terletak pada keputusan panitia untuk menyelenggarakan gelar tari kolosal ini
pada malam hari, mengikis tradisi pertunjukan sore hari yang biasanya berlatar
senja. Langkah berani ini membuka ruang kreasi yang luar biasa luas bagi
penataan artistik pertunjukan. Eksplorasi aspek figurasi dan tata cahaya
menjadi pilar utama yang menghidupkan panggung kegelapan pantai.
Ketika sorot lampu panggung berdaya tinggi menyala, ribuan
penari Gandrung yang mengenakan busana khas berwarna merah cerah dan hiasan
kepala gajah oling langsung menyedot perhatian. Gerakan riak gelombang tari
yang dibawakan secara serempak oleh para penari membentuk pola-pola figurasi
yang sangat dramatis dan presisi dari atas panggung. Formasi gerak yang berpadu
dengan tata cahaya lampu tembak serta permainan efek sinar warna-warni
membiaskan pesona visual yang memukau mata. Setiap lekuk tubuh, sabetan
selendang, dan kibatan kipas penari berpendar indah di bawah kilatan cahaya
yang berpindah-pindah mengikuti dinamika irama musik gamelan Osing yang rancak.
Kilauan lampu yang memantul di
atas permukaan air laut Pantai Boom kian menambah dimensi magis dari seni
pertunjukan malam itu. Efek pencahayaan yang tertata secara matang berhasil
menonjolkan setiap detail keanggunan busana serta ekspresi wajah para penari
yang penuh penghayatan. Sorak-sorai dan tepuk tangan penonton bergemuruh
bersahut-sahutan menyaksikan keharmonisan antara tradisi lokal dan teknologi
tata panggung modern yang menyatu dengan sempurna.
Bagi anggota IKASTISI, momen menyaksikan gelaran
spektakuler Gandrung Sewu ini menjadi penutup perjalanan srawung seni yang
sangat berharga. Kehadiran mereka di Banyuwangi bukan hanya untuk mempererat
tali silaturahmi alumni, melainkan juga untuk menimba inspirasi dari inovasi
seni pertunjukan yang terus bertumbuh tanpa kehilangan pijakan akarnya. Srawung
seni ini membuktikan bahwa batas ruang dan waktu dapat dijembatani melalui perjumpaan
rasa, tempat seni tradisi terus dihidupkan, dirayakan, dan diwariskan dengan
kebanggaan yang tak pernah padam.
Reporter: R.Dt.


Posting Komentar untuk "Srawung Budaya IKASTISI 2026: Silaturahmi dan Menikmati Gelar Gandrung Sewu di Banyuwangi "