![]() |
| para pemain foto bersama (Foto ist.) |
Damariotimes. Pertunjukan seni bertajuk SOTYA
Chapter: Shinta Ilang diselenggarakan pada Jumat, 16 Oktober 2026, di Taman
Krida Budaya Jawa Timur, Kota Malang, dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-81
Provinsi Jawa Timur. Pementasan ini mengangkat kisah klasik Rama dan Sinta yang
kaya akan pesan emosional mengenai cinta, kehilangan, pengorbanan, serta
kesetiaan. Melalui jalinan cerita tersebut, penonton diajak menyelami
perjuangan para tokoh dalam menghadapi takdir. Meski mengusung ide cerita yang
memikat, pementasan ini diwarnai sejumlah kendala teknis yang memengaruhi
kenyamanan penonton.
Sebagai pembuka, suasana tradisional Jawa Timur
dihadirkan secara apik melalui sajian Tari Remo Rek. Tari pengantar ini
dibawakan oleh para penari dari SMKN 12 Surabaya di bawah arahan koreografer
Abing Santoso. Kehadiran tarian ini memberi variasi sajian sekaligus menjadi
jembatan menuju alur cerita utama yang berpusat pada dinamika hubungan Rama dan
Sinta.
Alur cerita dimulai saat Rama menjalani masa
pengasingan di Hutan Dandaka bersama Sinta. Konflik memuncak ketika Sinta
terpedaya oleh tipu muslihat kijang emas hingga diculik oleh Rahwana, Raja
Kerajaan Alengka, lalu ditawan di Taman Asoka. Kehilangan tersebut mendorong
Rama melakukan perjalanan penyelamatan dengan bantuan pasukan kera pimpinan
Hanoman. Pertempuran besar pun pecah hingga berakhir dengan gugurnya Rahwana.
Kisah ini menekankan bahwa perjuangan mempertanyakan kepercayaan dan penerimaan
tidak lantas usai meski masalah utama telah terselesaikan. Di tengah jalannya
konflik emosional yang intens, adegan dagelan disisipkan untuk mencairkan
suasana. Namun, ketepatan momen penyisipan humor perlu lebih diperhatikan agar
tidak merusak ketegangan dramatik yang telah terbangun.
Karya pementasan ini merupakan hasil kolaborasi
sejumlah seniman lintas disiplin. Irfan Nur Mahmudi mengarahkan jalannya
pertunjukan sebagai sutradara, didukung oleh Andreas Kevin Prasetyo dan Dinda
Diana Putri Ayundya sebagai koreografer. Sisi musikal digarap oleh Bima Adyasin
bersama asisten komposer Bagus Pramita, serta diiringi langsung oleh pemusik
gamelan Sauna dan para penari dari STKW Surabaya. Proses kurasi pertunjukan
dipercayakan kepada Dimas Resmati Palguma, sementara Kurator Musik ditangani
oleh Dr. Joko Winarko. Kerja sama ini berhasil memadukan unsur gerak, musik,
dialog, dan narasi cerita.
Di samping keberhasilan artistik, aspek teknis
pertunjukan memberikan beberapa catatan evaluasi. Kapasitas venue terasa kurang
memadai untuk menampung seluruh penonton, sehingga memengaruhi kenyamanan
posisi menonton. Selain itu, panggung yang kurang tinggi mengakibatkan
pandangan penonton terhalang saat mengamati gerak serta ekspresi penari.
Dekorasi panggung juga terkesan terlampau sederhana, belum sepenuhnya mampu
memperkuat atmosfer cerita. Kendala yang paling terasa terletak pada tata
suara, di mana dialog pemain sering kali tertutup oleh musik pengiring serta
mikrofon yang beberapa kali mati di tengah pementasan.
Masalah teknis tata suara turut mendapat perhatian
dari penonton, salah satunya Nisa dari Singosari. Ia mengapresiasi keindahan
pementasan sendratasik yang baru pertama kali disaksikannya ini, namun memberi
masukan agar kendala mikrofon pemain yang sering mati dapat diperbaiki pada
gelaran berikutnya. Tanggapan tersebut menegaskan pentingnya kesiapan tim
teknis di balik panggung, mulai dari proses pemeriksaan peralatan hingga uji
coba tata suara sebelum pertunjukan dimulai.
Secara menyeluruh, SOTYA Chapter: Shinta Ilang
menyajikan perjalanan emosional yang berkesan dan penuh bahan refleksi.
Evaluasi terhadap tata suara, keterlihatan penari, dekorasi panggung, hingga
pengelolaan kapasitas tempat menjadi poin penting bagi pengembangan kualitas
pementasan mendatang. Kesiapan teknis yang matang akan membuat pesan dan daya
tarik artistik pertunjukan dapat tersampaikan secara utuh dan nyaman kepada
penonton.
Kontributor lepas: Ameylia Eka Putri

Posting Komentar untuk "Shinta Ilang dalam Peringatan Hari Jadi Jawa Timur"