![]() |
| Adegan pertunjukan “Tokenku Habis” oleh mahasiswa baru Seni dan Desain, 4 Oktober 2026. (foto ist.) |
Damariotimes.
MALANG — Graha Cakrawala Universitas Negeri Malang mendadak disulap menjadi
lorong fantasi pada Minggu (4/10/2026). Gelaran Nishastra Inaugurasi—agenda
tahunan pengenalan dan penyambutan mahasiswa baru Fakultas Sastra—kembali
dihelat dengan megah. Tahun ini, panitia mengusung konsep keajaiban dunia
Narnia berbalut tema “The Hidden
Realm of the World”, sebuah metafora perjalanan mahasiswa baru yang tengah
melangkah menyingkap tirai kehidupan kampus.
Perhelatan ini melibatkan ribuan mahasiswa baru dari lima
departemen: Sastra Indonesia, Sastra Arab, Sastra Inggris, Sastra Jerman, serta
Seni dan Desain. Masing-masing departemen menyajikan pertunjukan teater. Namun,
di antara dinamika panggung malam itu, sorotan tajam tertuju pada sajian
Departemen Seni dan Desain yang membawakan pementasan berjudul Tokenku Habis.
Pertunjukan tersebut menyuguhkan realita pahit seorang
seniman yang pincang menghidupi keluarganya lantaran hanya mengandalkan hasil
penjualan lukisan. Pemilihan judul Tokenku Habis secara cerdas menggambarkan habisnya
batas sumber daya—baik finansial, daya tahan, maupun kesempatan.
Konflik memuncak saat pemilik kontrakan memberi tenggat
pembayaran. Terdesak keadaan, sang seniman meminta ibunya menjual perhiasan
peninggalan almarhum ayahnya, yang lantas memicu pertengkaran hebat. Walau
tergolong sederhana, alur ini berhasil menampar penonton dengan potret nyata
kehidupan para pekerja seni yang kerap bergelut dengan ketidakpastian ekonomi.
Di balik alur cerita yang memikat, sebuah kecerobohan
teknis di atas panggung menjadi kerikil tajam. Properti jendela pada latar
belakang panggung terpasang terbalik. Dalam estetika panggung, jendela lazimnya
menjadi pemaknaan atas harapan, jendela dunia luar, atau batas antara realita
dan batas impian. Kedudukannya yang janggal tak pelak memecah fokus penonton
dari adegan emosional ke arah cacat visual tersebut. Ada dugaan apakah hal itu
disengaja sebagai simbolisasi kehidupan sang seniman yang "jungkir
balik", namun minimnya petunjuk artistik pendukung di area panggung
membuat pesan tersebut gagal tersampaikan.
Pengunjung yang menyaksikan pementasan tersebut secara
langsung pun tak luput menyayangkan detail teknis tersebut.
“Sangat antusias melihat pertunjukan Tokenku Habis, tapi itu
jendelanya terbalik ya tadi? Sayang banget, padahal tata latarnya sudah bagus
dan sangat sesuai,” tutur Saskia, salah satu penonton yang ditemui di lokasi
acara, Minggu (4/10/2026).
Terlepas dari catatan teknis tersebut, pementasan Tokenku Habis tetap layak
mendapat acungan jempol. Keberanian mengangkat isu yang dekat dengan napas
hidup mahasiswa Seni dan Desain itu sendiri membuahkan hasil manis. Pertunjukan
ini sukses menyabet tiga nominasi mentereng sekaligus: Penampil Terbaik 1, Naskah Terbaik, dan Artistik Terbaik.
Sangat disayangkan, kekuatan narasi dan konsep tata
panggung yang tergolong apik itu sedikit tercederai oleh kelalaian yang
sebetulnya bisa diantisipasi dengan pengecekan akhir (gladi bersih) yang lebih matang. Catatan ini terasa
kian krusial mengingat karya tersebut datang dari Departemen Seni dan Desain,
ekspektasi publik tentu menyasar pada kesempurnaan visual.
Pementasan malam itu menjadi pelajaran berharga: dengan
penyempurnaan pada ketelitian detail panggung, karya-karya mahasiswa Seni dan
Desain tidak hanya berpotensi menyentuh secara emosional, tetapi juga tampil
utuh dan estetik secara visual.
Konteributor lepas: Emillia Cipta
Sari

Posting Komentar untuk "Kala Kelalaian Teknis Mengusik Harapan dalam "Tokenku Habis""