![]() |
| Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn, (Foto ist.) |
Damariotimes.
Di tengah dinamika kebudayaan global yang semakin terhubung, ruang-ruang
akademik terus menjadi arena krusial untuk membedah persinggungan antara
tradisi lokal dan arus kapitalisme. Hal tersebut mengemuka secara bernas dalam
gelaran International Seminar on Language, Education, and Culture
(ISOLEC) 2026 yang diselenggarakan oleh Fakultas Sastra Universitas Negeri
Malang. Pada sesi dalam jaringan yang berlangsung salah satu sesi presentasi
dan diskusi hangat pada hari Jumat pukul 08.30 hingga 09.45 WIB; Prof. Dr.
Robby Hidajat, M.Sn. seorang pakar seni pertunjukan dari Universitas Negeri
Malang menyajikan pemikiran kritisnya mengenai pergulatan seni tradisional di
tanah air. Dengan mengusung tema "Menegosiasikan Sakral yang
Dikomodifikasi dalam Produksi Seni Wisata di Indonesia," pemapar mengajak peserta
seminar untuk menelisik lebih dalam bagaimana arena ritual dan ruang
pertunjukan budaya beradaptasi di tengah derasnya arus industri pariwisata
global. Papran tersebut juga dapat disimak pada chanel Youtube Robby Hidajat,
pada link: https://youtu.be/99zIGTt8nBw?si=5b4jkrg91-FiEokU
Seni
pertunjukan di Indonesia secara historis tumbuh bersisian dengan sistem
kepercayaan dan tata nilai keagamaan etnis lokal. Berbagai tarian, musik, dan
teater rakyat pada mulanya dikonstruksi bukan sekadar sebagai tontonan estetik,
melainkan sebagai bagian dari ritus sakral yang mengikat komunitas dengan ruang
metafisik. Namun, ketika pariwisata hadir sebagai penggerak utama ekonomi
nasional dan global, fungsi primordial tersebut mengalami komodifikasi.
Pertunjukan yang dahulunya diabadikan untuk para dewa, leluhur, atau pemulihan
alam, kini dikemas ulang agar dapat dikonsumsi oleh wisatawan dengan latar
belakang lintas budaya. Pemapar menegaskan bahwa proses perubahan dari ritus
menuju komoditas ini tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan melalui
rekonfigurasi transkultural yang kompleks di mana nilai-nilai sakral senantiasa
dipertaruhkan dan dinegosiasikan ulang oleh para seniman serta pemangku adat
setempat.
Guna
mengupas fenomena pelik tersebut, pemaparan dalam ISOLEC 2026 ini memadukan
kerangka pemikiran materialisme historis dengan teori pertunjukan kontemporer,
yang diperkuat oleh pendekatan sosio-estetik serta strukturalisme-simbolik.
Pendekatan materialisme historis digunakan untuk memetakan bagaimana relasi
produksi ekonomi pariwisata mempengaruhi struktur material dari seni
tradisional itu sendiri. Sementara itu, analisis sosio-estetik dan
struktural-simbolik membantu membongkar pergeseran makna simbolis yang melekat
pada struktur pertunjukan. Melalui pisau analisis ini, penelitian memfokuskan
perhatian pada kontekstualisasi historis untuk memperlihatkan bahwa estetika
pertunjukan tidak pernah steril dari tekanan ekonomi-politik, di mana pasar
pariwisata global secara bertahap membentuk kembali parameter keindahan dan
nilai yang diakui oleh publik.
Salah
satu temuan paling krusial yang dipaparkan dalam sesi tersebut adalah
terjadinya pergeseran sintaksis dan transformasi sosio-spasial dalam produksi
seni wisata. Pertunjukan tradisional yang biasanya memiliki alur cerita
panjang, berlapis, dan dipenuhi oleh tahapan ritual yang ketat, terpaksa
mengalami reduksi durasi yang signifikan demi menyesuaikan dengan jadwal
rombongan wisatawan yang padat. Sintaksis atau struktur urutan penyajian pun
diubah secara drastis; bagian-bagian yang dianggap terlalu sakral, monoton,
atau sulit dipahami oleh penonton awam sering kali dipangkas atau disederhanakan.
Secara spasial, arena pertunjukan pun bergeser dari punden, halaman pura, atau
ruang komunal yang memiliki bobot spiritual tinggi menuju panggung buatan di
hotel, restoran, atau teater terbuka komersial. Transformasi ini secara
perlahan mencabut seni pertunjukan dari akar kontekstualnya dan menempatkannya
sebagai tontonan yang mengedepankan aspek visual ketimbang kedalaman makna
ritual.
Kendati
demikian, pemapar dalam ISOLEC 2026 ini menolak pandangan deterministik yang
melulu melihat komodifikasi sebagai bentuk kerusakan budaya yang sepenuhnya
destruktif. Hasil analisisnya justru menunjukkan keberadaan mekanisme negosiasi
ganda yang bekerja secara bersamaan. Di satu sisi, komodifikasi pasar
pariwisata bertindak sebagai katalisator ekonomi yang sangat vital bagi
kelangsungan hidup para seniman lokal dan pelestarian fisik seni itu sendiri.
Tanpa adanya insentif ekonomi dari industri pariwisata, banyak jenis
pertunjukan tradisional yang mungkin sudah punah tergilas zaman. Namun, di sisi
lain, dorongan pasar ini membawa ancaman serius berupa standarisasi masal.
Standarisasi tersebut cenderung menyeragamkan ekspresi kebudayaan dan memangkas
keunikan lokal demi memenuhi selera atau ekspektasi estetika wisatawan asing
yang serba instan, sehingga berisiko mengikis otentisitas kesakralan yang
selama ini dihidupi oleh masyarakat pemilik kebudayaan.
Sebagai
penutup dari pemaparannya, pakar seni pertunjukan tersebut menegaskan
pentingnya membangun kompromi yang bijaksana melalui model negosiasi yang
seimbang dalam industri pariwisata budaya di Indonesia. Menurutnya, negosiasi
bukanlah bentuk kepasrahan komunitas lokal terhadap kekuatan modal, melainkan
strategi kebudayaan untuk mempertahankan viabilitas ekonomi seniman tanpa harus
mengorbankan identitas dan perlindungan terhadap nilai-nilai ritual etnis.
Dengan menempatkan komunitas lokal sebagai pemegang kendali utama dalam
mengelola batas-batas mana yang boleh dikomodifikasi dan mana yang harus tetap
disucikan, Indonesia dapat merumuskan model pariwisata berkelanjutan. Sesi
seminar di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang tersebut diakhiri dengan
simpulan bahwa keberlanjutan pariwisata budaya hanya akan tercapai manakala
kesejahteraan ekonomi dan penghormatan terhadap otentisitas nilai sakral dapat
berjalan seiring dalam harmoni yang dinamis.Dinamika Dialektis Kesenian
Tradisional: Menegosiasikan Sakral yang Dikomodifikasi dalam Produksi Seni
Wisata di Indonesia
Praktik
seni pertunjukan tradisional di Indonesia dewasa ini berada di persimpangan
jalan yang sangat kompleks akibat himpitan arus pariwisata global. Seni yang
pada mulanya berakar kuat pada nilai-nilai ritual, spiritualitas, dan tatanan
ritus sakral masyarakat adat, secara masif diintegrasikan ke dalam industri
pariwisata. Fenomena ini menciptakan ketegangan antara pelestarian identitas
kebudayaan dan tuntutan komersialisasi ekonomi. Melalui kacamata materialisme
historis dan teori pertunjukan kontemporer, transformasi seni tradisional
menjadi produk pariwisata tidak hanya dipandang sebagai perubahan bentuk sajian,
melainkan sebagai proses negosiasi nilai yang dinamis. Pendekatan sosio-estetik
dan strukturalisme-simbolik memperlihatkan bagaimana bentuk-bentuk ekspresi
kebudayaan lokal mengalami rekonfigurasi transkultural demi memenuhi ekspektasi
serta selera pasar global yang kerap menghendaki kepraktisan.
Dalam
realitas produksi seni wisata, proses komodifikasi memicu perubahan mendasar
pada struktur pertunjukan itu sendiri. Pengaruh logika pasar secara langsung
menjadi penyebab utama pergeseran sintaksis pertunjukan tradisional. Pola
babakan yang mendalam, penggunaan mantra, serta tahapan pementasan yang
memiliki makna simbolis mendalam kerap dirombak demi menyelaraskan alur
pertunjukan dengan ekspektasi wisatawan. Salah satu dampak yang paling nyata
dari proses ini adalah reduksi durasi pertunjukan secara drastis. Pertunjukan
ritual yang lazimnya berlangsung semalam suntuk—seperti pementasan wayang atau
tarian kesurupan—dipangkas hingga menjadi durasi singkat yang hanya berkisar
antara puluhan menit. Pemangkasan temporal ini kerap mengorbankan bagian-bagian
ritual yang esensial demi menjaga ritme pertunjukan agar tetap menarik di mata
pengunjung awam yang memiliki keterbatasan waktu.
Selain
perubahan struktur dan durasi, komodifikasi seni wisata juga memicu
transformasi sosio-spasial yang signifikan. Ruang-ruang sakral yang semula
menjadi arena terlarang atau hanya dapat diakses pada waktu-waktu tertentu oleh
kalangan internal masyarakat adat, kini mengalami pergeseran fungsi menjadi
panggung komersial. Transformasi ruang ini mengubah relasi antara penonton dan
pelaku seni. Penonton yang sebelumnya berpartisipasi aktif sebagai bagian dari
ritual keagamaan atau masyarakat adat kini menempati posisi sebagai konsumen
pasif, sementara seniman berubah peran menjadi penyedia jasa hiburan. Perubahan
ruang pertunjukan dari area keramat menuju area publik atau panggung hotel dan
sanggar wisata melonggarkan batas-batas sakralitas yang selama ini dijaga erat
oleh norma lokal.
Berdasarkan
analisis kontekstualisasi historis dan struktur simbolik tersebut, ditemukan
adanya mekanisme negosiasi ganda yang bekerja secara simultan di lapangan. Di
satu sisi, komodifikasi seni dalam pasar pariwisata terbukti mampu berfungsi
sebagai katalis ekonomi yang menopang kehidupan para pelaku seni dan komunitas
lokal. Alokasi dana dari sektor pariwisata memberikan viabilitas finansial bagi
regenerasi kesenian, pembeli peralatan pertunjukan, serta menjadi sarana pelestarian
fisik bagi jenis-jenis kesenian yang hampir punah. Komodifikasi dalam batas
tertentu membuka ruang baru bagi kesenian tradisional untuk tetap relevan di
tengah peradaban modern.
Namun,
di sisi lain, dorongan kapitalisasi pasar yang begitu kuat memunculkan ancaman
serius berupa standardisasi seni pertunjukan. Demi menciptakan produk wisata
yang seragam, mudah dicerna, dan bernilai jual tinggi, elemen-elemen kebudayaan
yang unik serta syarat akan kesakralan lokal berisiko dieliminasi.
Standardisasi ini berpotensi mengikis otentisitas dan nilai transendental yang
terkandung di dalam setiap gerakan, musik, dan simbol ritual. Ketika nilai
sakral disederhanakan menjadi sekadar eksotisme visual untuk kebutuhan
fotografi atau dokumentasi wisatawan, seni tradisional terancam kehilangan ruh
spiritualnya dan berubah menjadi komoditas dangkal yang hampa makna.
Oleh
karena itu, keberlanjutan seni wisata di Indonesia sangat bergantung pada
kemampuan masyarakat lokal dan para pemangku kepentingan dalam mengelola ketegangan
tersebut. Negosiasi yang seimbang antara kepentingan ekonomi dan pemeliharaan
nilai-nilai kebudayaan menjadi kunci utama. Komunitas adat dan praktisi seni
harus memiliki wewenang untuk menetapkan batasan-batasan yang jelas mengenai
mana elemen ritual yang boleh ditransformasikan menjadi komoditas publik dan
mana elemen sakral murni yang harus tetap dilindungi dari panggung komersial.
Strategi
pembagian wilayah pertunjukan—baik secara spasial maupun simbolis—dapat menjadi
solusi strategis untuk menjembatani pertentangan ini. Melalui model negosiasi
yang adaptif namun berprinsip, industri pariwisata tidak hanya dijadikan alat
untuk meraup keuntungan finansial belaka, melainkan juga dimanfaatkan sebagai
sarana memperkuat ketahanan budaya. Pemahaman mendalam mengenai negosiasi
sakralitas ini pada akhirnya menyimpulkan bahwa produksi seni wisata yang
berorientasi pada masa depan harus mampu menciptakan model pariwisata
berkelanjutan. Model ini tidak sekadar menjaga viabilitas ekonomi masyarakat
lokal, tetapi juga secara aktif melindungi serta melestarikan keberlangsungan
nilai-nilai ritual etnis sebagai warisan luhur bangsa.
Reporter: MAH

Posting Komentar untuk "Menawar Kesakralan dalam Pusaran Industri: Refleksi Pakar Seni Pertunjukan pada Seminar Internasional ISOLEC 2026 Universitas Negeri Malang"