![]() |
| perbedaan memfungsikan gerakan (sumber Gemini AI) |
Damariotimes.
Meskipun terlihat mirip karena sama-sama mengandalkan olah tubuh tanpa suara
vokal, seni tari dan seni pantomim berdiri di atas akar kesenian yang sangat
berbeda. Seni tari menempati rumpun seni pertunjukan gerak murni, sedangkan
pantomim berada di bawah naungan rumpun seni teater non-verbal atau teater
bisu. Alasan utama mengapa pantomim tidak dimasukkan ke dalam rumpun tari
terletak pada hakikat, tujuan, serta cara kedua seni ini mengolah gerakan tubuh
manusia.
Dalam seni tari, gerak tubuh telah mengalami proses
stilisasi atau distorsi sehingga menghasilkan bentuk yang indah, berirama, dan
berestetika. Penari bergerak dengan keterikatan yang sangat kuat pada tempo,
ritme, dan irama musik pengiring. Fungsi gerak dalam tari untuk mengekspresikan
rasa, keindahan, atau makna abstrak tertentu. Musik dalam tari bertindak
sebagai pengendali utama yang mendikte alur dan kecepatan setiap gerakan
penari.
Sebaliknya, gerak dalam seni pantomim bersifat mimetik,
yaitu gerakan yang meniru aksi atau objek nyata di kehidupan sehari-hari.
Seorang pantomimer menggunakan tubuhnya sebagai alat visualisasi untuk
memperlihatkan benda-benda imajiner, seperti dinding gaib, tali, atau perubahan
cuaca. Fokus utama pantomim bukanlah keindahan bentuk tubuh atau ketepatan
ritme, melainkan penyampaian narasi, alur cerita, tokoh, serta ekspresi wajah
dan bahasa tubuh secara teatrikal. Pada pantomim, musik dan efek suara hanya
berfungsi sebagai penegas suasana atau aksi, bukan penentu tempo gerak. Oleh
karena sifatnya yang berpusat pada seni keaktoran, alur drama, dan peniruan
objek, pantomim secara resmi digolongkan sebagai cabang seni teater.
Perbedaan fundamental ini didukung oleh berbagai literatur
seni pertunjukan. Dalam pemikiran estetika klasik Aristoteles, pemisahan antara
seni berlandaskan ritme murni dan seni mimesis atau peniruan aksi sudah mulai
dibedakan, di mana gerakan yang berfokus pada peniruan aksi teatrikal menjadi
cikal bakal seni teater bisu. Selain itu, pakar teater Indonesia, Bakdi
Sumanto, dalam kajiannya mengenai teater tanpa kata menegaskan bahwa pantomim
adalah bentuk seni drama. Keahlian utama seorang pantomimer terletak pada
penguasaan gesture keaktoran dan ekspresi mimik untuk menyampaikan kisah tanpa
ucapan, bukan pada penguasaan koreografi atau irama sebagaimana yang dituntut
dalam dunia seni tari.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Sama-Sama Bergerak, Beda Rumpun: Menyingkap Alasan Pantomim Bukan Bagian dari Seni Tari"