![]() |
| Seni pertunjukan wisata Barong-Rande (Foto ist.) |
Damariotimes.
Mentari pagi di Pulaus Dewata belum sepenuhnya membakar teriknya hari ketika
keheningan Jalan Waribang Nomor 11, Kesiman, Denpasar, perlahan meleleh oleh
gema dentang perunggu. Hari itu, Rabu, 28 Mei 2025, suasana di sanggar Sekaa
Barong Eka Budi telah dipenuhi kehangatan magis yang menjadi penanda dimulainya
ritual sekaligus seni pertunjukan. Di tempat ini, serta di beberapa panggung
pertunjukan serupa yang tersebar di wilayah Denpasar, waktu bagai dipatok
secara presisi. Pertunjukan Barong dan Rangda selalu digelar pada pagi hari
yang sejuk, sekitar pukul sembilan hingga sepuluh WITA. Penjadwalan ini
menyimpulkan sebuah relasi kosmis yang unik dan kontras jika disandingkan
dengan Pertunjukan Tari Kecak yang senantiasa menyapa penikmatnya di ambang
senja. Pagi hari menjadi simbol terbitnya harapan dan pembersihan, sementara
ruang pertunjukan siap menjadi saksi bisu dari pertarungan abadi antara dua
kekuatan jagat raya.
Suasana panggung dibuka dengan alunan gending pemuka yang
dilantunkan secara harmonis oleh ritem gamelan Bali. Tabuhan pencon perunggu,
kendang, dan ceng-ceng yang membahana berirama dinamik langsung membawa
imajinasi penonton masuk ke dalam ruang spiritual masa lampau. Tak lama
kemudian, sosok dua orang penari muncul melangkah pelan dengan gerak tubuh yang
gemulai namun sarat ketegangan. Mereka membawakan tari pembuka yang
menggambarkan karakter para pengikut setia Rangda. Dalam alur cerita, kedua
sosok ini tengah berjaga menanti kedatangan Dewi Kunti. Pertemuan ini menjadi
titik mula dari sebuah narasi tragis di mana Dewi Kunti terjebak pada janji
suci untuk mengorbankan putra kandungnya sendiri, Sahadewa, sebagai tumbal demi
menentang bencana.
Alur cerita merambat semakin dramatis saat Sahadewa diseret
dan diikat pada sebuah pohon besar di tengah hutan oleh para pengikut Rangda.
Pengorbanan ini diyakini oleh Rangda sebagai sarana untuk mencapai kesempurnaan
dan keabadian kekuatan gelapnya. Dalam keputusasaan manusiawi di bawah
bayang-bayang pohon tua tersebut, keajaiban spiritual pun terjadi. Dewa Vishnu
turun menghampiri Sahadewa yang terbelenggu, lalu menganugerahkan keabadian dan
kekuatan supranatural ke dalam jiwanya. Ketika Rangda hadir dengan wujudnya
yang mengerikan—ramput terurai liar, lidah api menjulur, dan kuku-kuku tajam—ia
langsung menyerang dan mencoba mencarik-carik tubuh Sahadewa. Namun, kekuatan
jahat itu mendadak tumpul; Sahadewa tak tersentuh sedikit pun. Menyadari
keagungan dan kebalnya jiwa Sahadewa, Rangda akhirnya bertekuk lutut. Ia
menyerah dan memohon dengan iba agar Sahadewa menyempurnakan jiwanya agar bisa
lepas dari wujud kerelatifan serta dapat memasuki sorga. Permintaan tersebut dikabulkan
oleh Sahadewa melalui sebuah prosesi ritual penyucian yang hening dan sakral.
Kendati Rangda telah disucikan, benih pertikaian di alam
semesta belum benar-benar usai. Seorang pengikut Rangda yang lain menghampiri
Sahadewa dan memohon agar ia turut diselamatkan serta disucikan. Namun,
Sahadewa menolak permintaan tersebut karena belum saatnya. Penolakan ini
memantik amarah besar yang meletupkan pertempuran baru. Dalam kekacauan
tersebut, sang pengikut bertransformasi menjadi wujud babi hutan yang ganas dan
menyerang Sahadewa tanpa ampun. Dalam pertempuran sengit itu, babi hutan
tersebut kembali mengubah wujudnya menjadi seekor burung raksasa yang terus
mencakar dan menyerang dari udara. Demi menghadapi ancaman destruktif tersebut,
Sahadewa akhirnya bertransformasi menjadi wujud Barong—sosok mitologi pelindung
kebajikan yang berwujud singa bertopeng indah.
Pertarungan antara Barong dan manifestasi pengikut Rangda
pun meletus dahsyat, mempertegas sebuah paradoks abadi bahwa kebaikan (dharma) dan kejahatan (adharma) adalah dua sisi mata
uang yang senantiasa berdampingan dan tidak akan pernah berakhir di dunia fana
ini. Puncak dramatisasi terjadi tatkala para pengikut Barong bermunculan ke
tengah gelanggang. Dalam kondisi kesurupan (kerauhan), mereka menghunus keris dan dengan
beringas menancapkan serta menikamkan mata bilah yang tajam itu ke dada mereka
sendiri. Atraksi penuh aura magis ini menjadi penutup pertunjukan yang sarat
pesan spiritual, di mana rasa sakit dan penikaman diri melambangkan sebuah upaya
pembersihan jiwa manusia agar terbebas dari pengaruh kekuatan jahat yang
mengintai.
Pertunjukan bertema Barong-Rangda ini mungkin telah
disajikan sebagai atraksi wisata selama bertahun-tahun bagi para pelancong dari
berbagai belahan dunia. Namun, di balik daya tarik komersialnya, karya seni ini
pada hakikatnya menyimpan nilai filosofis dan pandangan hidup masyarakat Bali
yang sangat tinggi. Meskipun yang kerap ditonjolkan dan dijual kepada wisatawan
adalah aspek legenda dari sosok binatang mitologi Barong yang unik, artistik,
dan megah, esensi pertunjukan ini tetap merefleksikan konsep Rwa Bhineda—keseimbangan dua hal
yang saling bertolak belakang namun saling melengkapi dalam menjaga
keharmonisan alam semesta.
Reporter: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Menyingkap Filosofi Kesucian dan Ruang Paradoks Tari Barong-Rangda"