![]() |
| Bersama wakil bupati malang, camat, kapolsek, danramil, dpr, pimpinan sanggar ken dedes dan perangkat desa dusun dongki (Foto ist.) |
Damariotimes.
Minggu, 5 Juli 2026, menjadi sebuah momentum spiritual dan kultural yang begitu
sakral bagi masyarakat Jawa di Dusun Dongki, Desa Gadungsari, Kecamatan
Tirtoyudo, Kabupaten Malang. Bagi masyarakat setempat, peringatan 1 Suro bukan
sekadar penanda pergantian tahun dalam penanggalan Jawa, melainkan sebuah ruang
sakral untuk melakukan introspeksi diri atau yang dalam falsafah leluhur
dikenal dengan istilah eling lan waspodo (ingat dan waspada). Perayaan
ini juga menjadi sarana untuk memohon keselamatan serta menyucikan diri lahir
dan batin dalam menyambut tahun baru Jawa yang menyatu secara harmonis dengan 1
Muharram dalam kalender Islam. Diadakan di Sanggar Ken Dedes yang terletak di
wilayah RT 03/RW 02, acara tahunan ini berlangsung meriah berkat sinergi yang
kuat antara pemuda karang taruna, mahasiswa KKN BBM Tematik Universitas Negeri
Malang (UM) Angkatan 24, serta seluruh lapisan masyarakat dusun setempat.
Rangkaian
kegiatan budaya yang penuh khidmat ini dimulai tepat pada pukul 08.30 WIB dan
terus mengalir secara berkesinambungan hingga dini hari pukul 01.00 WIB.
Kemeriahan diawali dengan kirab budaya yang mengambil titik awal dari area atas
batas dusun. Semangat dan antusiasme langsung terasa kuat sejak barisan
arak-arakan pertama kali bergerak. Barisan pembuka kirab dipimpin secara apik
oleh dua banjar anak-anak wisuda Ganusha yang tampil rapi serta penuh semangat,
disusul di belakangnya oleh rombongan pemuda Mas Pungki yang membawa nuansa
kebersamaan generasi muda dalam menjaga api tradisi leluhur. Suasana semakin
istimewa karena sebuah kereta musik daul yang dinaiki oleh Wakil Bupati Malang
dan Camat Tirtoyudo hadir sebagai tamu kehormatan, diikuti oleh iring-iringan
kesenian Reog yang dinamis bergerak menuju posko utama di Sanggar Ken Dedes.
![]() |
Bersama anak-anak ganusha, karang taruna dan mahasiswa
kkn um bbm tematik 2024 (Foti ist.)
Sepanjang
perjalanan kirab, masyarakat tumpah ruah memadati sisi jalan untuk menyaksikan
prosesi adat yang langka ini. Wakil Bupati dan Camat pun melanjutkan perjalanan
ikonik mereka dengan menaiki Daul Bendo Agung sebagai bagian integral dari
rangkaian kegiatan budaya tersebut. Setibanya rombongan di depan posko utama,
suasana berganti menjadi penuh khidmat saat perwakilan pemuda Mas Pungki
menyerahkan seserahan pusaka kepada Ibu Wiwik selaku penanggung jawab kegiatan.
Penyerahan ini menjadi simbol penghormatan yang mendalam terhadap nilai-nilai
budaya dan tradisi luhur yang dijunjung tinggi. Selepas prosesi penyerahan
selesai, pusaka beserta rombongan pemuda diarahkan memasuki area dalam Sanggar
Ken Dedes untuk melanjutkan ritual adat berikutnya.
Pada
saat yang bersamaan, rombongan kesenian Reog menyuguhkan atraksi memukau di
depan sanggar sebagai bentuk penyambutan hangat bagi Wakil Bupati. Sang Wakil
Bupati kemudian turun dari iring-iringan untuk menerima seserahan dari Bunda
sebelum melangkah masuk ke dalam sanggar. Begitu memasuki area utama, alunan
gamelan Kebo Giro yang magis segera bergema, menghadirkan atmosfer sakral
sekaligus menandai dibukanya pertunjukan kesenian Reog dan Tari Remo. Acara
formal kemudian dilanjutkan dengan penyampaian sambutan hangat dari Ibu Wiwik
selaku penanggung jawab kegiatan, dilanjutkan oleh Kepala Desa Gadungsari.
Sebagai wujud kontribusi nyata dalam pelestarian budaya lokal, mahasiswa KKN
BBM Tematik Universitas Negeri Malang tampil memukau membawakan Tari Gandrung
Sri Dewi yang mengundang decak kagum para hadirin. Rangkaian sambutan resmi
tersebut akhirnya ditutup dengan khidmat oleh Camat Tirtoyudo dan Wakil Bupati
Malang.
Memasuki
waktu malam, atmosfer di Dusun Dongki justru semakin hangat dan meriah.
Berbagai pertunjukan seni tradisional disajikan secara berkesinambungan untuk
menghibur ratusan pasang mata yang hadir. Mulai dari merdunya pentas
campursari, pertunjukan Reog susulan, gemulainya tari jaranan, hingga aksi
dinamis kesenian bantengan disuguhkan tanpa henti. Beragam hiburan rakyat ini
terus berlangsung hingga pukul 01.00 WIB dini hari, di mana masyarakat tetap
bertahan dengan antusiasme yang tidak surut sedikit pun, merefleksikan wujud
kebersamaan sejati dalam merawat warisan budaya lokal mereka.
Pada
akhirnya, peringatan 1 Suro di Dusun Dongki ini membuktikan diri tidak hanya
sekadar menjadi agenda seremonial kebudayaan semata. Kegiatan ini sukses
bertransformasi menjadi sarana pemersatu yang mempererat tali silaturahmi,
memperkuat nilai-nilai kebersamaan, serta menumbuhkan kepedulian kolektif
terhadap eksistensi budaya daerah. Keterlibatan aktif dari berbagai unsur—mulai
dari warga dusun, pemuda Karang Taruna, mahasiswa KKN Universitas Negeri
Malang, hingga jajaran pemerintah daerah—menegaskan adanya sinergi yang
harmonis dalam menjaga, merawat, dan mewariskan tradisi kepada generasi
penerus. Melalui semangat gotong royong dan partisipasi aktif ini, perayaan 1
Suro diharapkan dapat terus lestari sebagai identitas budaya yang sarat akan
nilai spiritual, sosial, dan kearifan lokal yang tetap hidup serta relevan di tengah
perkembangan zaman.
Kontributor: Zahra Puspa Kirana


Posting Komentar untuk "Mahasiswa Program BBM UM Semarakkan Peringatan 1 Suro di Sanggar Ken Dedes Dusun Dongki Kecamatan Tirtoyudo Kab. Malang"