Penutupan Pelatihan Peningkatan Kopetensi Peranangan Desain Kostum Tari khas Malang pada Pelatih Tari di Sanggar Senaputra Malang

 



Foto bersama setelah selesai pelatihan di Sanggar senaputra Malang (Foto dokumen)


Malang, 21 Juni 2026 – Suasana bangga menyelimuti peserta pelatihan di Sanggar Senaputra Malang pada hari Minggu, tgl 21 Juni 2026, menandai berakhirnya rangkaian perjalanan kreatif yang telah ditempuh selama dua pekan. Pelatihan  "Peningkatan Kompetensi Perancangan Desain Kostum Tari bagi Pelatih Tari di Sanggar Senaputra Malang" yang digagas oleh Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Negeri Malang (UM) akhirnya pada saat akhir kegiatan. Sejak 7 Juni hingga 21 Juni 2026, sanggar Senaputra Malang  telah menjadi laboratorium kreatif bagi para pelatih dan asisten pelatih tari yang belajar mendesain kotum  tari khas Malang. Tujuannya  agar dapat ikut serta menjaga identitas budaya lokal yang terancam arus modernisasi.

Kegiatan intensif secara block time ini dipimpin oleh  Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn., yang didampingi oleh tim ahli, yakni Dra. EW. Suprihatin, DP., M.Pd., dan Yurina Gusanti, M.Sn.dan juga berserta alumni UM; Muhammad Affaf Hasiymy, serta dua mahasiswa Program Pendidikan Seni Pertunjukan yang masih aktif; Shalahudin Iskandar dan Helena Nindy. Sinergi lintas generasi ini merupakan upaya regenerasi pengetahuan tentang estetika kostum khs Malang yang selama ini menjadi ciri khas tak terpisahkan dari karakter seni tari Malang.

Dalam sambutan penutupan yang menyentuh sekaligus memberikan motivasi, Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. menekankan bahwa esensi dari pelatihan ini bukanlah sekadar penyelesaian tugas, melainkan proses internalisasi. Beliau berpesan bahwa setiap teknik dan teori yang telah disampaikan selama dua pekan membutuhkan pembiasaan yang disiplin serta pengkondisian secara personal dari setiap pelatih. Baginya, keterampilan dalam memproduksi kostum bukanlah bakat bawaan yang instan, melainkan hasil dari latihan yang konsisten. Keterampilan produksi yang telah dipraktikkan mencakup spektrum yang luas, mulai dari teknik modifikasi kostum yang bersumber dari Wayang Topeng Malang, adaptasi kostum Tari Remo, hingga penciptaan kostum untuk karakter tari putri gagahan yang menuntut detail artistik tingkat tinggi.

Lebih lanjut, Prof. Robby mengingatkan bahwa meskipun pelatihan telah usai, perjalanan kreatif para peserta baru saja dimulai. Beberapa produk karya yang saat ini masih berupa pola-pola dasar memerlukan sentuhan akhir dan kelengkapan elemen agar benar-benar siap untuk dikenakan dalam pementasan yang sesungguhnya. Ia mendorong para pelatih untuk terus mengolah ide-ide yang telah terbangun, menjadikan setiap jahitan dan ornamen kostum sebagai cerminan filosofis dari budaya lokal yang mereka usung.

Rangkaian acara penutupan yang berlangsung hingga pukul 11.30 WIB tersebut berjalan dengan suasana kekeluargaan yang erat. Acara ditutup dengan ucapan selamat yang hangat, diikuti oleh sesi foto bersama yang mengabadikan wajah-wajah penuh kebanggaan dari para pelatih dan tim pengabdian masyarakat. Namun, sebelum berpisah, sebuah langkah evaluasi sistematis dilakukan untuk mengukur keberhasilan program. Sebanyak 20 butir pertanyaan evaluasi tertulis diberikan kepada peserta, yang mencakup kesan mendalam, penilaian objektif terhadap hasil karya, serta pengukuran tingkat penguasaan keterampilan.

Hasil evaluasi tersebut sungguh di luar dugaan dan membanggakan. Berdasarkan data yang dihimpun, terjadi lonjakan kompetensi yang sangat signifikan, yakni peningkatan lebih dari 50% dibandingkan dengan tingkat keterampilan yang dimiliki peserta sebelum pelatihan dimulai. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan bukti nyata dari efektivitas metode block time yang diterapkan. Peningkatan tersebut mencakup tiga pilar utama: kedalaman pengetahuan teoretis, kemahiran teknis dalam menjahit dan merancang, serta ketajaman dalam pengembangan ide kreatif.

Keberhasilan ini menjadi capaian yang sangat membanggakan bagi tim pengabdian UM. Pengetahuan yang kini tertanam di benak para pelatih di Sanggar Senaputra dapat membuka pintu bagi kemandirian ekonomi. Dengan memiliki kemampuan memproduksi kostum secara mandiri, para pelatih kini memiliki modal untuk lebih berkreasi tanpa keterbatasan akses, sekaligus menjaga agar identitas visual seni tari Malang tetap autentik, berkarakter, dan tidak tergerus oleh pergeseran zaman. Pelatihan ini pun resmi ditutup, namun warisan keterampilan yang ditinggalkan akan terus hidup dalam setiap helai kain kostum yang akan dikenakan oleh para penari Sanggar Senaputra Malang di panggung-panggung tertunjukan.

 

Reporter: R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Penutupan Pelatihan Peningkatan Kopetensi Peranangan Desain Kostum Tari khas Malang pada Pelatih Tari di Sanggar Senaputra Malang"