![]() |
| Foto bersama setelah kegiatan workshop oleh mahasiswa BBM UM (Foto ist.) |
Damariotimes. Selasa, 16 Juni 2026, menjadi catatan penting bagi geliat
literasi dan kreativitas di Desa Gadungsari, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten
Malang. Pagi itu, atmosfer desa yang tenang berubah menjadi ruang kolaborasi
yang dinamis ketika sekelompok mahasiswa BBM Skema Tematik dari Universitas
Negeri Malang (UM) menggelar workshop edukatif bertajuk "Penguatan
Literasi Kreatif Melalui Seni sebagai Media Ekspresi Generasi Muda".
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi formalitas program kerja, melainkan sebuah
manifestasi dari upaya mendekatkan dunia akademis dengan realitas budaya yang
tumbuh subur di wilayah sub-urban. Kehadiran mahasiswa dari lima program studi
yang berbeda—Seni Pertunjukan, Desain Komunikasi Visual (DKV), Sastra Indonesia
(SASINDO), Sastra Inggris (SASING), dan Pendidikan Seni Rupa (PSRU)—memberikan
warna multidisiplin yang jarang ditemui dalam kegiatan pengabdian masyarakat
pada umumnya.
Sejak pukul 09.00 hingga 12.00 WIB, para peserta yang terdiri dari
generasi muda dan anak-anak sanggar di Desa Gadungsari diajak untuk menyelami
materi-materi kreatif alternatif yang selama ini luput dari kurikulum sekolah
formal maupun aktivitas rutin di sanggar lokal. Acara dibuka dengan khidmat
melalui upacara sederhana yang menyanyikan lagu nasional "Indonesia
Raya". Penghormatan terhadap identitas bangsa ini menjadi pembuka yang
esensial, membangun rasa memiliki sebelum masuk ke inti kegiatan yang bersifat
eksploratif. Workshop ini dirancang bukan sebagai ruang satu arah, melainkan
sebagai fondasi awal yang krusial sebelum para mahasiswa menjalankan rangkaian
program kerja utama mereka di desa tersebut.
Sesi materi pertama dibuka oleh mahasiswa dari program studi Seni
Pertunjukan yang membawakan wawasan luas mengenai khazanah seni Indonesia.
Mereka memaparkan perpaduan antara musik modern, musik tradisi, musik
kontemporer, hingga musik ilustrasi. Selain itu, teknik vokal dan tarian
tradisional diperkenalkan sebagai bentuk kekayaan ekspresi yang menjadi warisan
berharga. Mahasiswa tidak hanya berbicara mengenai teknis, tetapi juga
menanamkan apresiasi terhadap kekayaan seni pertunjukan Nusantara. Memasuki
sesi kedua, konsep "Mari Berliterasi Gaul" (MBG) diperkenalkan dengan
pendekatan yang sangat relevan bagi anak muda. Literasi di sini didefinisikan
ulang sebagai kemampuan membaca realitas dan lingkungan, bukan sekadar
kemampuan mengeja huruf di atas kertas. Pendekatan ini berhasil menarik minat
peserta karena gaya penyampaiannya yang santai namun berbobot.
Tidak berhenti pada seni dan sastra, kompetensi linguistik peserta juga
ditingkatkan melalui materi bahasa Inggris. Di era globalisasi, pemahaman
bahasa asing dianggap sebagai alat penting bagi pemuda desa untuk membuka
cakrawala dunia. Sebagai penutup rangkaian materi, mahasiswa dari program studi
DKV dan PSRU memberikan wawasan mengenai visual dan ruang. Mereka menunjukkan
bagaimana karya seni tidak hanya bisa dinikmati lewat pendengaran, tetapi juga
lewat perspektif visual yang tajam. Sesi ini mengajarkan peserta cara
mengekspresikan ide melalui elemen desain, sehingga pengalaman belajar yang
didapatkan menjadi sangat komprehensif dan mencakup berbagai dimensi seni.
Di balik kesuksesan acara, Alfan selaku ketua pelaksana mengakui bahwa
mengoordinasikan lima program studi ke dalam satu kesatuan bukanlah perkara
mudah. Tantangan untuk menyelaraskan ritme kerja dan menjaga kekompakan menjadi
dinamika tersendiri yang harus diselesaikan di lapangan. Namun, di balik
tantangan tersebut, apresiasi besar datang dari para peserta. Abel, salah satu
peserta workshop, menyatakan bahwa materi yang diberikan sangat bermutu dan
relevan. Baginya, pengetahuan mengenai istilah-istilah budaya yang hampir
terlupakan, seperti wiron jarik atau wiru jarik, adalah hal yang
sangat dibutuhkan oleh calon pendidik sanggar. Baginya, kegiatan ini menjadi
pemantik semangat untuk meningkatkan kembali kualitas pembelajaran di lingkup
lokal.
Secara konseptual, workshop ini membawa misi yang lebih dalam, yakni
melakukan restrukturisasi peran pemuda di wilayah sub-urban. Seni di tangan
para mahasiswa BBM UM ini tidak diletakkan di menara gading yang sekadar
mementingkan estetika, melainkan menjelma sebagai alat perlawanan terhadap
apatisme digital. Di tengah masifnya penggunaan gawai yang sering kali
membatasi interaksi sosial, kolaborasi lintas prodi ini menawarkan tawaran
alternatif agar pemuda tetap memiliki kemampuan untuk membaca teks dan realitas
budaya melalui visual dan performa. Keberhasilan program ini terlihat dari
kesesuaian antara judul yang diusung dengan realisasi di lapangan yang sangat
presisi. Referensi modul literasi yang digunakan juga menunjukkan bahwa
mahasiswa telah melakukan observasi awal atau need assessment yang
matang sebelum terjun ke masyarakat, sehingga tidak ditemukan adanya kesalahan
interpretasi budaya lokal.
Tentu saja, setiap kegiatan memiliki ruang untuk evaluasi. Meski secara
substansi sangat memuaskan, panitia menyadari bahwa ada beberapa bagian yang
bisa dioptimalkan. Porsi praktik seni dan sastra dirasa perlu diperpanjang
untuk memberikan ruang eksplorasi lebih bagi peserta, sementara durasi sesi
seremonial sambutan bisa dipersingkat agar tidak mendistorsi fokus energi
peserta. Keterbatasan waktu juga menyebabkan beberapa luaran karya visual belum
dapat terselesaikan hingga tahap akhir yang sempurna. Namun, kekurangan tersebut
hanyalah catatan kecil di tengah keberhasilan besar integrasi interdisipliner
yang langka ini. Ke depannya, harapan akan adanya peningkatan jumlah panitia
menjadi evaluasi untuk memastikan kualitas pelaksanaan yang lebih baik di masa
depan. Pada akhirnya, workshop ini bukan hanya soal transfer ilmu, melainkan
momen edukasi multikultural yang berhasil menguatkan solidaritas antara
anak-anak desa, mahasiswa, dan masyarakat Gadungsari secara keseluruhan.
Program ini menjadi bukti nyata bahwa ketika kreativitas dipadukan dengan
kepedulian sosial, maka dampak yang dihasilkan akan jauh melampaui batas-batas
ruang kelas.
Konteributor: Zahra Puspa Kirana

Posting Komentar untuk "Mengasah Potensi, Membangun Negeri: Workshop Literasi Kreatif BBM Tematik UM di Tirtoyudo Kab. Malang"