
Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. dan buku Biografi Mama Chandra (Foto ist.)
Damariotimes Dunia seni pertunjukan
tradisional seringkali menyimpan mutiara tersembunyi yang kiprahnya luput dari
catatan sejarah, namun memiliki pengaruh yang sangat mendalam bagi
keberlangsungan kebudayaan di tingkat masyarakat umum. Salah satu sosok yang
menjadi perbincangan hangat sekaligus inspiratif dalam jagat seni panggung Jawa
Timur adalah Amin Naryo, atau yang lebih dikenal luas oleh masyarakat dan para
pelaku seni ludruk sebagai Mama Chandra. Kehadirannya sebagai manifestasi dari
totalitas seorang seniman yang berproses dari bawah hingga mencapai puncak
kedewasaan artistik. Sebuah karya literasi yang sangat berharga kini hadir
untuk mendokumentasikan perjalanan hidup sang maestro tersebut melalui buku
berjudul Primadona Tandhak Ludruk Malang: Rekam Jejak Perjalanan Hidup Mama
Chandra dari Tobong ke Tobong Ludruk Malang, sebuah kolaborasi apik tulisan
dari Prof. Dr. Robby Hidajat, M.Sn. dari
Universitas Negeri Malang dan seniman ludruk Lerok Anyar, Cak H. Marsam
Hidayat.
Buku ini hadir sebagai kasanah baru di tengah
langkanya dokumentasi biografi seniman tradisional. Editor sekaligus pimpinan
Penerbit Singhasana Budaya Nusantara Malang, Muhammad Affaf Hasiymy, menyambut gembira
terbitnya buku ini. Baginya, penulisan biografi semacam ini merupakan sumbangsih
nyata yang sangat besar bagi keberlanjutan seni pertunjukan tradisional.
Melalui narasi yang disusun dengan penuh ketelitian oleh para penulis, pembaca
diajak menyelami realitas kehidupan seorang tandhak; peran vital dalam ludruk
yang menuntut keahlian estetika luar biasa—yang menapaki jalan penuh onak dan
duri demi menjaga api tradisi tetap menyala.
Amin Nario, lahir pada Jumat Pahing, 10 April
1964, di Dusun Bendo Kidul, Mojokerto, Naryo cilik bukanlah anak biasa.
Parasnya yang halus dan menawan sejak dini sudah memancarkan aura
"Ning" yang khas, sebuah karunia visual yang kemudian menyatu dengan
keteguhan prinsip hidupnya. Sejak kecil, Naryo telah menunjukkan kedewasaan
yang melampaui usianya; ia memiliki keinginan kuat untuk hidup mandiri dan
meringankan beban orang tuanya, sebuah nilai luhur yang menjadi fondasi
karakter utamanya hingga ia dewasa. Takdir akhirnya membawa Naryo bertemu
dengan maestro ludruk, Cak Karman. Mata jeli sang maestro berhasil menangkap
potensi besar yang tersembunyi di balik diri remaja tersebut. Restu sang ayah
menjadi pembuka jalan, mengantarkan Naryo meninggalkan kampung halaman menuju
kerasnya kehidupan "tobong" sebutan akrab untuk panggung atau gedung
pertunjukan keliling ludruk.
Kehidupan di komunitas Ludruk Teratai Jaya
menjadi kawah candradimuka bagi Naryo. Di tempat inilah, di antara aroma bedak
panggung yang menyengat, sorot lampu yang panas, hingga debu lapangan yang
menjadi saksi bisu setiap tetes keringat, Naryo mengenyam "sekolah
kehidupan" yang sesungguhnya. Menjadi seorang tandhak bukanlah perkara
mudah. Ia harus belajar mengolah gerak, kepekaan musikalitas, hingga memadukan
kelembutan visual dengan kekuatan mental di atas panggung. Masa-masa di tobong
adalah masa pembentukan, di mana setiap pementasan adalah pelajaran berharga
tentang disiplin, pengorbanan, dan kesetiaan terhadap profesi. Naryo belajar
bahwa menjadi seniman ludruk adalah tentang menyerahkan diri sepenuhnya pada
ritme pertunjukan dan harapan penonton.
Perjalanan panjang tersebut membawanya pada
puncak dedikasi ketika ia berkolaborasi dengan Cak Marsam Hidayat untuk
membangun Ludruk Lerok Anyar. Fase ini menjadi bukti nyata bahwa identitas yang
sempat dianggap anomali dalam struktur sosial masyarakat—terutama bagi seorang
laki-laki yang menekuni peran tandhak—justru berubah menjadi kekuatan yang
menghidupkan tradisi. Mama Chandra berhasil membuktikan bahwa keindahan dan
totalitas seni tidak terikat oleh batasan-batasan kaku, melainkan lahir dari
ketulusan untuk merawat budaya. Sosoknya menjadi simbol ketahanan seni
pertunjukan tradisional di tengah gempuran zaman yang kian berubah.
Penulisan biografi ini merekam tentang Mama
Chandra yang mampu bertahan dari satu tobong ke tobong lainnya. Ia merupakan subjek
yang membentuk sejarah itu sendiri. Prof. Dr. Robby Hidajat dan Cak H. Marsam
Hidayat berhasil menarasikan tentang setiap langkah hidup Naryo adalah narasi
tentang kegigihan. Mereka berhasil menangkap esensi dari sosok Mama Chandra
yang tidak hanya sekadar penari atau penyanyi di atas panggung, tetapi juga
seorang pendidik bagi generasi muda seniman ludruk. Buku ini adalah bentuk
apresiasi setinggi-tingginya kepada para pelaku seni tradisional yang seringkali
tidak mendapatkan panggung utama dalam sejarah kebudayaan nasional, padahal
merekalah ujung tombak yang menjaga martabat dan kekayaan budaya lokal tetap
hidup.
Melalui buku ini, masyarakat diajak untuk
melihat ludruk bukan sekadar pertunjukan hiburan semata, melainkan sebuah
ekosistem kehidupan yang membentuk karakter manusia. Cerita tentang Amin Naryo
adalah refleksi tentang sebuah identitas yang unik, jika dijalani dengan penuh
dedikasi dan kejujuran, akan mampu menjadi cahaya bagi sekitarnya. Kehadiran
buku Primadona Tandhak Ludruk Malang ini diharapkan dapat memantik kesadaran
kolektif untuk lebih menghargai dan mendokumentasikan jejak para seniman
tradisional lainnya. Sebab, pada akhirnya, kelangsungan sebuah budaya tidak
hanya bergantung pada seberapa megah panggungnya, tetapi seberapa terjaga
memori dan kisah-kisah para penggeraknya, seperti kisah Mama Chandra yang abadi
dalam gemerlap panggung tobong ludruk Jawa Timur.
Reporter : MAH
Posting Komentar untuk "Menelusuri Jejak Primadona Mama Chandra: Riwayat Hidup dan Dedikasi dalam Blantika Ludruk Malang"