Strategi Menentukan Narasumber dan Instrumen Wawancara dalam Penelitian Kualitatif

 

skema pembongkaran fenomena penelitian kualitatif (Foto ist.)

Damariotimes. Dalam tradisi penelitian kualitatif, langkah awal yang paling utama adalah kemampuan peneliti membedah judul hingga ke akar-akarnya. Sebuah judul penelitian yang di dalamnya terkandung variabel sentral dan indikator-indikator yang tampak secara tersirat maupun tersurat. Meskipun dalam paradigma kualitatif istilah variabel sering diterjemahkan sebagai konsep atau fenomena, esensinya tetap sama, yaitu fokus utama yang menjadi fokus pembongkaran makna. Peneliti harus mampu melihat indikator yang muncul pada judul tersebut sebagai pintu masuk untuk mengidentifikasi apa saja dimensi yang perlu diamati secara nyata di lapangan. Setelah indikator ini terpetakan, proses selanjutnya adalah melakukan breakdown terhadap indikator tersebut menjadi rumusan permasalahan yang lebih spesifik agar fokus penelitian tidak melebar tanpa arah yang jelas.

Breakdown permasalahan ini menjadi jembatan utama menuju penyusunan instrumen penelitian. Dalam penelitian kualitatif, instrumen utama memanglah diri peneliti itu sendiri, namun panduan wawancara tetap mutlak diperlukan sebagai peta jalan. Penyusunan instrumen ini tidak boleh dilakukan secara serampangan; setiap butir pertanyaan harus memiliki kaitan logis dengan indikator yang telah diidentifikasi dari judul tadi. Hal yang menarik dalam penyusunan instrumen kualitatif adalah penyediaan ruang lingkup jawaban. Ruang lingkup ini berfungsi sebagai batasan ekspektasi data, di mana peneliti sudah memetakan cakupan informasi yang ingin digali dari narasumber. Dengan adanya ruang lingkup jawaban pada instrumen, peneliti dapat memastikan bahwa setiap jawaban narasumber tetap berada dalam koridor tema yang relevan, meskipun proses wawancara nantinya berlangsung secara cair dan mengalir.

Setelah instrumen dengan ruang lingkup yang jelas terbentuk, langkah yang tidak kalah penting adalah menentukan narasumber. Dalam tahap ini, peneliti harus kembali melihat pada indikator dan permasalahan yang telah dirumuskan. Narasumber tidak dipilih berdasarkan prinsip keterwakilan jumlah atau populasi secara acak, melainkan berdasarkan prinsip kecukupan dan kesesuaian informasi. Penentuan narasumber didasarkan pada siapa yang paling menguasai fenomena tersebut atau siapa yang mengalami langsung indikator-indikator yang tertuang dalam judul. Pemilihan informan kunci, informan utama, dan informan tambahan harus benar-benar selaras dengan kedalaman data yang ingin dicapai dalam ruang lingkup jawaban yang telah dirancang sebelumnya. Kesalahan dalam memilih narasumber akan berakibat fatal pada kualitas data, karena meskipun instrumen sudah disusun dengan sangat baik, data tidak akan muncul jika narasumber tidak memiliki kapasitas atau pengalaman terkait fenomena yang diteliti.

Proses wawancara kemudian menjadi tahap pembuktian dari seluruh perencanaan sistematis tersebut. Peneliti memasuki lapangan dengan membawa instrumen sebagai pemandu untuk melakukan dialektika dengan narasumber. Karena sejak awal peneliti sudah memahami indikator dan batasan ruang lingkupnya, maka saat wawancara berlangsung, peneliti dapat dengan cerdik melakukan teknik penggalian atau probing tanpa harus kehilangan arah. Wawancara kualitatif yang mendalam akan menghasilkan narasi yang kaya, di mana setiap pernyataan narasumber akan mengisi celah-celah informasi yang telah disediakan dalam rancangan instrumen. Pada akhirnya, keterkaitan yang erat antara pemahaman indikator di judul, ketajaman instrumen dengan ruang lingkup jawabannya, serta ketepatan pemilihan narasumber akan menciptakan sebuah bangunan penelitian yang kokoh, di mana data yang dihasilkan benar-benar mampu menjawab akar permasalahan secara utuh dan deskriptif.

 

Penulis: R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Strategi Menentukan Narasumber dan Instrumen Wawancara dalam Penelitian Kualitatif"