![]() |
| kekalahan koreografi dengan musik yang ingin eksis (Foto ist.) |
Damariotimes.
Menghadirkan
seni tradisi di atas panggung akademik adalah sebuah tanggung jawab
epistemologis untuk menghidupkan jiwa kebudayaan. Kegagalan dalam menerjemahkan
esensi ini tampak jelas dalam perhelatan kurikulum berbasis kewirausahaan seni
yang dikemas lewat Pergelaran Seni Pertunjukan ke-XVII oleh mahasiswa angkatan
2023 dan 2024 Universitas Negeri Malang di Graha Tirta, Rabu, 20 Mei 2026. Di
balik tema Infinity Fraternus,
repertoar bergaya Sumatra bertajuk Biso Ni Tano Na Tarhimpit justru hadir sebagai alarm
kritis yang membongkar kerentanan metodologis penggarap pemula. Pertunjukan ini
menjadi bukti empiris betapa fatalnya karya tari ketika tubuh penari dipaksa
tunduk pada struktur linear musik tanpa adanya jembatan riset yang intim, yang
pada akhirnya mereduksi kekayaan gerak etnik menjadi sebatas dramatari
pantomimik yang kehilangan arah.
Namun,
di tengah kemegahan selebrasi budaya tersebut, sebuah catatan kritis muncul
dari repertoar bergaya Sumatra yang mengusung koreografi bertajuk Biso Ni
Tano Na Tarhimpit. Karya ini mengawali formasi di atas panggung dengan
sebuah kecenderungan yang jamak dijumpai dalam garapan pemula, yakni pemaksaan
pola susunan tubuh demi memenuhi tuntutan introduksi musik secara linear. Pola on-stage
ini terkesan sangat dipaksakan oleh komposisi musik pengiring yang kaku,
seolah-olah seluruh tubuh penari harus tunduk pada ketukan awal yang panjang
tanpa makna dramatik yang jelas. Padahal, jika kita menilik struktur dramaturgi
pertunjukan tradisional yang matang, penggarapan musik tari tidak selamanya
harus diawali oleh sebuah introduksi yang formal dan bertele-tele. Komposisi
musik pertunjukan bisa saja langsung menghujam pada tema inti yang emosional,
kemudian secara cerdas mencari elemen pengikat ritmis untuk memberikan ruang dan
waktu yang cukup bagi tubuh penari dalam menciptakan dinamika ritmikalnya
sendiri sebelum bergerak secara masif.
Kelemahan
struktural ini berdampak langsung pada saat pertunjukan memasuki bagian awal
tarian. Suasana panggung mendadak terasa sangat berat untuk sebuah tari
kelompok yang idealnya mampu menunjukkan sebuah ekspresi adegan yang bercerita,
demi mencapai kesatuan tema yang dituju sejak awal. Alih-alih menampilkan
kelenturan makna, yang terjadi di atas panggung justru sebuah pemaduan yang
membingungkan antara disiplin seni tari-koreografi murni menjadi bentuk
dramatari pantomimik yang mentah. Kehadiran musik yang terus-menerus menggiring
ke arah ritmikal mekanis justru membuat para penari kehilangan kosakata atau
vokabuler gerak etnik asli Sumatra yang seharusnya menjadi identitas utama
pertunjukan. Kehilangan akar visual ini berujung pada bagian akhir atau ending
pertunjukan yang relatif mengalami kegagalan estetis, di mana penyelesaian
konflik di panggung hanya diakhiri oleh gerak penari yang keluar panggung
begitu saja tanpa meninggalkan kesan mendalam atau katarsis emosional bagi para
penonton.
Apabila
dibedah lebih dalam, ketidakselarasan antara objek garap gerak dengan esensi
musik pengiring ini mengonfirmasi adanya jarak yang lebar antara ambisi
artistik mahasiswa dengan pemahaman mendalam mereka terhadap akar tradisi
Sumatra yang mereka adopsi. Sepanjang pertunjukan, sama sekali tidak terasa
denyut atau kesan magis dari musik etnik Sumatra yang kaya akan nuansa
spiritual dan historis. Fenomena kegagalan ini sangat dimungkinkan terjadi
karena para penggarap muda tersebut hanya terobsesi secara visual oleh pola
gerak ritmik dan lenggang dengan ketukan yang terasa kuat di permukaan,
sementara struktur gerak dasar yang esensial justru tidak menunjukkan fokus
yang benar-benar dipahami secara filosofis. Penari hanya bergerak mengikuti
ketukan, tetapi kehilangan jiwa dari gerak itu sendiri.
Untuk
mengatasi kebuntuan metodologis dalam proses kreatif mahasiswa ini, pola
perbandingan atau studi komparatif melalui pendekatan riset mini dapat diajukan
sebagai solusi konkret bagi kegiatan berkarya ke depan. Jika kita membandingkan
proses penciptaan karya konvensional yang hanya mengandalkan intuisi
superfisial dengan proses penciptaan berbasis riset akademis, akan terlihat
kontras yang sangat tajam dalam hasil akhir pertunjukan. Pada proses kreatif
yang konvensional, mahasiswa cenderung tergesa-gesa langsung melakukan
eksplorasi gerak fisik di ruang latihan tanpa dibekali pengetahuan tekstual
maupun kontekstual yang memadai mengenai latar belakang budaya objek
garapannya. Akibatnya, karya yang dihasilkan hanya menyentuh kulit luar
tradisi, seperti yang tampak pada ketidakselarasan musik dan kostum dalam
pertunjukan ini.
Sebaliknya,
melalui skema riset mini yang terstruktur, mahasiswa diwajibkan untuk melakukan
observasi, wawancara, literasi pustaka, hingga analisis audio-visual terhadap
gaya tari dan musik etnik Sumatra yang asli sebelum mereka mulai menyusun
koreografi. Riset mini ini bertindak sebagai jembatan yang menghubungkan teori
estetika dengan praktik studio. Dalam konteks musik, riset mini akan membimbing
mahasiswa untuk memahami instrumen dominan, struktur ritme, dan fungsi sosial
dari bunyi-bunyian khas Sumatra, sehingga mereka tidak lagi terjebak pada
paksaan intro musik yang klise. Dalam konteks gerak dan kostum, riset ini
memberikan pemahaman mendasar mengenai filosofi di balik setiap liukan tubuh
dan setiap helai kain yang dikenakan, sehingga fokus garapan menjadi jelas dan
memiliki landasan konseptual yang kokoh.
Oleh
karena itu, demi menciptakan imajinasi artistik secara keseluruhan serta
menyajikan kajian komperhensif yang bermutu di atas panggung akademik,
implementasi riset mini yang lebih menyeluruh mutlak diperlukan. Riset ini
harus mencakup empat pilar utama pertunjukan, yaitu kedalaman tafsir musik
pengiring, ketepatan aspek visual kostum, keaslian pemaknaan vokabuler gerak,
hingga tata artistik serta pengaturan properti panggung. Melalui metode
perbandingan berbasis riset ini, mahasiswa Universitas Negeri Malang tidak
hanya akan melahirkan sebuah tontonan yang megah secara visual, namun juga
mampu menyuguhkan sebuah tuntunan budaya yang berbobot, ilmiah, dan memiliki
tanggung jawab moral yang tinggi terhadap kelangsungan seni tradisi Nusantara
di era modern.
Penulis: R.Dt.

Posting Komentar untuk "Dekonstruksi Estetika "Biso Ni Tano Na Tarhimpit": Komparasi Metodologis Riset Mini Sebagai Solusi Katarsis Gagasan Koreografis"