Refleksi FLS3N 2026 di Kabupaten Malang: Merawat Tradisi, Mengukir Prestasi

 

SMA TARUNA NUSANTARA tempat Penyelenggaraan FLS3N di Kabupaten Malang (Foto ist,)


Damariotimes. Senin, 20 April 2026, menjadi hari yang istimewa bagi dunia pendidikan dan seni di Kabupaten Malang. SMA Taruna Nusantara, yang berlokasi di Desa Gampingan, Kecamatan Kepanjen, menjadi saksi bisu kemeriahan sekaligus keseriusan ajang Seleksi Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS3N) tingkat kabupaten. Udara pagi itu seolah membawa energi kreativitas yang meluap dari ratusan siswa yang hadir dengan membawa semangat tinggi. Berbagai cabang seni diperlombakan, mulai dari seni tarik suara, menggambar, monolog, cipta lagu, hingga baca dan cipta puisi. Tak ketinggalan, Tari Kreasi dan kreativitas musik tradisional turut mewarnai panggung-panggung yang disediakan, menciptakan mosaik seni yang kaya akan warna dan makna.

Lebih dari sekadar ajang perlombaan, kegiatan ini merupakan wahana strategis untuk menjaring bibit-bibit unggul putra-putri daerah yang memiliki talenta seni luar biasa. FLS2N bukan hanya tentang siapa yang menang atau kalah, melainkan tentang memberi ruang bagi para kreator muda untuk menuangkan imajinasi mereka ke dalam karya yang jujur dan kreatif. Hasil dari seleksi tingkat kabupaten ini memiliki tanggung jawab besar, karena mereka akan menjadi duta yang akan melanjutkan perjuangan ke tingkat provinsi, hingga panggung tertinggi di tingkat nasional. Oleh karena itu, kegiatan ini mempertegas posisinya bahwa seleksi FLS3N bukanlah festival biasa atau sekadar formalitas. Ini adalah ajang prestisius untuk menunjukkan kecerdasan, kedisiplinan, kebersamaan, sekaligus menjunjung tinggi kepakaran dan profesionalisme.



salah satu peserta yang foto bersama (Foto ist.)


Dalam konteks penyelenggaraan, profesionalisme menjadi napas utama bagi panitia untuk memastikan seluruh rangkaian acara berjalan mulus. Bagi para peserta, kedisiplinan dan kebersamaan menjadi kunci utama dalam memproses karya dan mentalitas berkompetisi. Namun, satu hal yang paling krusial dalam sebuah kompetisi seni adalah kepakaran, yang sepenuhnya berada di pundak Dewan Pengamat. Panitia penyelenggara dituntut sangat jeli dan bijak dalam menunjuk juri. Harapannya, dewan juri tidak sekadar diisi oleh mereka yang pandai secara teori di bangku akademik, namun benar-benar figur yang memiliki "pengalaman batin" dan pandangan visioner terhadap pengembangan serta pelestarian seni budaya daerah. Mereka haruslah seniman, baik akademisi maupun praktisi, yang pernah bersentuhan langsung dengan kearifan lokal, karena seni tidak bisa dilepaskan dari akar budayanya masing-masing.

Memahami keberagaman budaya di Jawa Timur adalah syarat mutlak bagi siapapun yang terlibat dalam proses penilaian ini. Jawa Timur sendiri diberkati dengan tujuh etnik besar yang masing-masing memiliki karakter dan ciri khas yang sangat kuat, yakni Osing, Madura, Tengger, Mataraman, Arek, Pendalungan, dan Ponoragan. Wilayah Osing yang lekat dengan Banyuwangi, kekhasan budaya Madura yang meliputi Bangkalan, Pamekasan, Sumenep, dan Sampang, serta etnik Tengger yang tersebar di Pasuruan, Probolinggo, dan Malang, semuanya menawarkan kekayaan estetik yang berbeda. Demikian pula dengan etnik Arek yang mencakup Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, dan Malang; etnik Pendalungan di daerah Tapal Kuda seperti Situbondo, Bondowoso, Lumajang, dan Jember; etnik Mataraman yang meliputi Blitar, Tulungagung, Kediri, hingga Madiun; serta etnik Ponoragan yang menjadi identitas Ponorogo dan Trenggalek.

Dalam konteks inilah para seniman muda Malang harus bersikap strategis. Sangat penting bagi peserta untuk memahami identitas budaya mereka sendiri. Ketika seniman Malang mencoba mengambil inspirasi dari cita rasa Pendalungan atau etnik lainnya, mereka seringkali terjebak dalam posisi yang sulit karena harus bersaing dengan "pemilik asli" tradisi tersebut dari daerah asalnya. Untuk membuat karya yang unik dan menonjol, seniman Malang justru harus berpijak pada kekayaan budaya yang pernah berkembang pesat di tanah mereka sendiri. Ludruk, Tayub, Wayang Jek Dong Malangan, hingga keunikan Tembang Macapat cangkok Malangan adalah aset berharga yang jika digarap dengan serius, akan menghasilkan karya yang jauh lebih otentik dan "gagah". Ini adalah bentuk nyata dari kreativitas rasa Arema yang kental, yang akan memberikan informasi konkret kepada pengamat mengenai kekayaan khazanah seni daerah.

Pada akhirnya, tanggung jawab besar ini menuntut para calon Dewan Juri untuk tidak berhenti belajar. Mereka harus senantiasa mengasah kepekaan, baik melalui literasi akademis maupun dengan cara "nyantrik" kepada seniman-seniman sepuh. Menimba ilmu langsung dari sumber mata air tradisi adalah cara terbaik untuk memahami kedalaman makna yang terkandung dalam setiap nilai kearifan lokal. Dengan juri yang pakar dan peserta yang memahami jati diri budayanya, FLS3N 2026 bukan hanya sekadar seleksi, melainkan perayaan atas kecerdasan budaya bangsa. Selamat belajar bagi seluruh pelaku seni, dan mari menikmati setiap tetes keringat serta buah karya yang lahir dari FLS3N tahun ini. Semoga dari panggung ini, lahir seniman-seniman masa depan yang mampu membawa harum nama Malang dan Indonesia di kancah global.

 

Kuntributor: Cak Marsam

 

Posting Komentar untuk "Refleksi FLS3N 2026 di Kabupaten Malang: Merawat Tradisi, Mengukir Prestasi"