Jejak Estetika Sastra Jawa Kuno: Tinjauan Kritis Buku Kalangwan Karya P.J. Zoetmulder


Buku Kalangwan terjamahan Dick Hartoko (Foto ist.)


Damarioitmes. Buku berjudul Kalangwan: Sastra Jawa Kuno Selayang Pandang merupakan sebuah monumen intelektual yang tak ternilai dalam studi filologi dan sastra Nusantara. Karya ini sebuah narasi yang menghidupkan kembali estetika, filsafat, dan pandangan dunia masyarakat Jawa Kuno. Melalui tangan dingin P.J. Zoetmulder dan diterjemahkan dengan sangat apik oleh Dick Hartoko ke dalam bahasa Indonesia, buku ini menjadi jembatan utama bagi pembaca modern untuk memahami kekayaan intelektual masa lampau yang tersimpan dalam untaian bait-bait kakawin.

Untuk memahami esensi buku ini, pembaca harus menelusuri asal-usulnya yang berakar dari dedikasi seumur hidup pengarang aslinya, Petrus Josephus Zoetmulder, seorang pastor Yesuit dan sarjana kelahiran Utrecht, Belanda. Proyek besar yang melahirkan Kalangwan (yang dalam bahasa Jawa Kuno berarti "keindahan" atau "estetika") sebenarnya berawal dari riset mendalam yang dilakukan Zoetmulder selama puluhan tahun di Yogyakarta, Indonesia. Meskipun ia mulai mempelajari bahasa Jawa sejak kedatangannya pada tahun 1925, puncak penelitian sistematisnya mengenai sastra Jawa Kuno terjadi selama masa jabatannya sebagai guru besar di Universitas Gadjah Mada pasca-kemerdekaan. Buku aslinya pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul Kalangwan: A Survey of Old Javanese Literature pada tahun 1974 oleh penerbit Martinus Nijhoff di The Hague, Belanda.

Penelitian Zoetmulder yang menjadi fondasi buku ini dilakukan dengan ketelitian yang luar biasa, berpusat pada naskah-naskah yang tersimpan di berbagai perpustakaan besar, termasuk di Belanda dan Koleksi Merapi-Merbabu di Indonesia. Ia tidak hanya membedah isi teks, tetapi juga melakukan rekonstruksi terhadap konteks sosial-budaya di mana teks-teks tersebut lahir. Fokus utamanya adalah tradisi kakawin—puisi naratif panjang yang digubah dalam metrum India—yang berkembang pesat di Jawa Timur antara abad ke-9 hingga abad ke-15. Zoetmulder menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk memahami tentang para penyair Jawa Kuno, yang dikenal sebagai kawi, memandang aktivitas menulis menjadi sebuah ritus keagamaan yang sebut sebagai "yoga keindahan" atau lango.

Dalam ulasan isinya, Kalangwan secara deskriptif membagi pembahasan ke dalam dua bagian besar yang saling melengkapi. Bagian pertama bersifat tematis dan filosofis, di mana Zoetmulder mengupas tuntas konsep kalangwan itu sendiri. Ia menjelaskan bahwa bagi seorang kawi, mengejar keindahan adalah cara untuk bersatu dengan yang Ilahi. Keindahan alam yang digambarkan dalam puisi-puisi tersebut bukan sekadar latar belakang, melainkan manifestasi dari kehadiran Tuhan. Zoetmulder memberikan gambaran yang sangat hidup mengenai kehidupan di keraton Jawa Kuno, peran penyair sebagai abdi raja, hingga teknis penulisan di atas daun lontar yang memerlukan konsentrasi tingkat tinggi. Penjelasan ini memberikan pemahaman bahwa sastra Jawa Kuno adalah disiplin spiritual yang formal sekaligus sangat emosional.

Bagian kedua dari buku ini menyajikan survei kronologis terhadap karya-karya besar sastra Jawa Kuno. Dimulai dari Ramayana versi Jawa yang merupakan kakawin tertua, Zoetmulder menuntun pembaca melewati masa keemasan Kediri, Singasari, hingga puncak kemegahan Majapahit. Ia menganalisis karya-karya monumental seperti Arjunawiwaha karya Mpu Kanwa, Bharatayuddha karya Mpu Sedah dan Mpu Panuluh, hingga Desawarnana (atau Nagarakretagama) karya Mpu Prapanca. Kekuatan narasi Zoetmulder terletak pada kemampuannya merangkum plot cerita sambil memberikan kritik sastra yang tajam mengenai gaya bahasa, keaslian ide dibandingkan dengan sumber aslinya dari India, serta bagaimana elemen-elemen lokal Jawa perlahan-lahan mendominasi dan membentuk identitas sastra yang unik.

Penerjemahan yang dilakukan oleh Dick Hartoko pada tahun 1983 memainkan peran krusial dalam membumikan karya raksasa ini di Indonesia. Dick Hartoko, yang juga seorang budayawan, berhasil mempertahankan kedalaman akademis Zoetmulder tanpa mengorbankan kelancaran bahasa. Ia memilih padanan kata yang tepat untuk istilah-istilah teknis Sanskerta dan Jawa Kuno sehingga buku ini tetap terasa akrab bagi lidah pembaca Indonesia. Terjemahan ini memungkinkan para mahasiswa, peneliti, dan pecinta budaya di Indonesia untuk mengakses "kitab suci" filologi ini tanpa kendala bahasa, yang pada gilirannya memicu gelombang baru ketertarikan terhadap studi naskah di berbagai universitas lokal.

Secara keseluruhan, Kalangwan adalah sebuah penghormatan terhadap jenius kreatif leluhur bangsa Indonesia. Melalui buku ini, kita diingatkan bahwa peradaban Jawa Kuno memiliki standar estetika yang sangat tinggi dan sistem filsafat yang kompleks. Zoetmulder berhasil membuktikan bahwa sastra Jawa Kuno bukanlah sekadar jiplakan dari sastra India, melainkan sebuah pencapaian orisinal yang telah melalui proses pribumisasi yang cerdas. Buku ini tetap menjadi referensi wajib karena kelengkapan datanya dan ketajaman analisisnya yang sulit ditandingi hingga saat ini. Membaca Kalangwan adalah sebuah perjalanan intelektual untuk menemukan kembali akar jati diri budaya yang sering kali terlupakan di tengah arus modernitas, menjadikan kita lebih menghargai warisan kata-kata yang telah bertahan melintasi berabad-abad waktu.

 

Penulis : R.Dt.

 

Posting Komentar untuk "Jejak Estetika Sastra Jawa Kuno: Tinjauan Kritis Buku Kalangwan Karya P.J. Zoetmulder"